Sabtu, 31 Mei 2014

Saweri Gading - Cerita Rakyat Sulawesi Barat

Sawerigading dilahirkan kembar sepasang, saudara kembarnya adalah seorang perempuan. Tapi sejak kecil saudara kembarnya selalu disembunyikan. Ketika dewasa, Sawerigading bertemu dengan saudara kembarnya secara tidak sengaja. Melihat kecantikan saudara kembarnya itu, Sawerigading ingin menjadikannya sebagai istri. 

Tentu saja hal tersebut tidak diijinkan oleh orang tua Sawerigading. Maka Sawerigading dikirim ke negeri Cina, untuk meminang putri Raja Cina yang masih saudara sepupunya sendiri. Saat itu Saweri Gading sangat kecewa kepada orang tuanya dan berjanji untuk tidak kembali lagi ke Sulawesi. 

Setelah sampai di Cina, Sawerigading menikah dengan Putri Raja Cina. Setelah beberapa bulan, Putri Raja Cina mengajak Sawerigading untuk berkunjung ke Sulawesi. Awalnya Sawerigading menolak, karena ia sudah berjanji untuk tidak kembali. Tapi istrinya kemudian berhasil membujuknya. 

Bersama dengan pengawal kerajaan yang jumlahnya cukup banyak, Sawerigading kembali ke Sulawesi dengan menaiki kapal yang megah. Ketika sampai di Sulawesi, saat itu sedang berkembang ajaran islam. Banyak pejabat kerajaan di Sulawesi yang mengikuti ajaran islam. 

Karena tidak mau mengikuti ajaran agama islam, Sawerigading dan istrinya pergi meninggalkan Sulawesi. Hingga kini tidak ada yang mengetahui dimana Sawerigadng dan istrinya berada.

Putra Raja Api - Cerita Rakyat Bengkulu

Ada sebuah kerajaan yang seluruh penduduknya adalah laki-laki. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang Raja yang bernama Raja Api. Di negeri itu hanya ada dua orang perempuan, yaitu permaisuri Raja Api dan juga seorang dayang setia permaisuri. 

Pada suatu hari, Permaisuri Raja Api sedang hamil. Pada saat itu, Raja Api akan pergi berperang. Sebelum pergi ia berpesan,”Permaisuri, jika bayi yang kau lahirkan nanti laki-laki, maka peliharalah bayi itu. Namun jika bayi yang kau lahirkan nanti perempuan, maka kau harus membunuhnya.” 

" Raja Api memang suka berperang untuk menaklukkan kerajaan lain, sehingga daerah kekuasaan terus saja bertambah luas. Biasanya Raja Api berperang dalam waktu yang sangat lama. 

Ternyata permaisuri melahirkan bayi perempuan. Tentu saja Permaisuri tdak mau membunuh anaknya sendiri. Maka ia meminta dayang untuk membawanya pergi secara diam-diam. Untuk mengelabui para penjaga istana, maka permaisuri mengubur batang pisang di halaman istana. Kuburan itulah yang akan ia katakana kepada Raja api sebagai kuburan bayinya.

Setelah beberapa tahun berlalu, Raja Api jatuh sakit. Sedangkan bayi yang dibawa oleh dayang sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik. Putri Raja Api itu sangat pandai meramu obat-obatan dari tanaman yang tumbuh di hutan. 

Maka ketika ia mendengar Raja Api sedang sakit, Putri Raja Api berniat untuk menolongnya. Dengan ditemani oleh dayang, Putri Raja Api pergi ke istana. Awalnya mereka ditolak oleh penjaga istana, tapi kemudian mereka diijinkan masuk. 

Raja Api ternyata bisa disembuhkan oleh putrinya sendiri. Di saat itulah Raja Api mengetahui bahwa putrinya masih hidup. Ia merasa malu karena telah berbuat tidak adil kepada anaknya sendiri. Sejak saat itu Raja Api mengijinkan perempuan untuk tinggal di kerajaannya. Bahkan Raja Api menyerahkan tahta kerajaan kepada putrinya.

Kisah Mak Per - Cerita Rakyat Sumatera Selatan

Mak Per adalah seorang laki-laki miskin setengah Baya yang hidup berdua bersama dengan istrinya yang bernama Mak Udak. Ia terkenal sebagai peramal, hingga membuat Raja Negeri Kapur berniat ingin mengujinya. Maka pada suatu hari Mak Per dipanggil oleh Raja ke istana. 

“Aku sudah mendengar kehebatanmu dalam meramal. Maka aku minta kau menebak isi peti yang ada dihadapanku sekarang ini. Aku beri kau waktu selama tujuh hari. Jika dalam waktu tujuh hari kau belum juga bisa menebak apa isi peti ini, maka kau akan aku hukum gantung, tapi kalau kau bisa menebak, maka aku akan menyerahkan kerajaan ini untukmu.” 

Mak Per ketakutan mendengar kata-kata raja tersebut. Tapi ia tidak bisa menolak. Di sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Mak Per berpikir bagaimana caranya ia menebak isi peti tersebut. Hingga akhirnya ia mendapat sebuah akal. 

“Peti itu disimpan di kapal milik Raja, pasti orang-orang yang ada dalam kapal itu mengetahui apa isi peti tersebut. Aku harus mencuri dengar secara diam-diam.” Pikir Mak Per senang. Ia kemudian berjalan menuju pantai dan bersembunyi di bawah kapal milik Raja. 

Hingga hari ke enam, Mak Per belum juga mengetahui apa isi peti milik Raja. Hingga akhirnya pada sore hari, Mak Per mendengar perbincangan dua orang penjaga kapal. 

“Mak Per pasti tidak akan mungkin bisa menebak apa isi peti ini. Tidak akan ada orang yang menyangka kalau peti milik Raja berisi ayam putih dengan tulang merah dan kaki kuning.” Kata salah satu penjaga kapal. 

Mak Per sangat senang mendengar kata-kata penjaga kapal itu, maka ia pun langsung pulang ke rumah. Keesokan harinya, Mak Per kembali dijemput oleh pengawal istana untuk menghadap Raja. 

Ketika peti itu kembali dihadapkan di depan Raja dan Mak Per, maka dengan mudah Mak Per menebak isinya. Tentu saja Raja sangat terkejut, tapi ia harus menepati janjinya. 

Untunglah Mak Per adalah orang yang baik, ia tidak mengambil kerajaan, tapi ia hanya minta Raja memberinya harta yang banyak. Sejak saat itu kehidupan Mak Per berubah. Ia tidak lagi miskin, tapi menjadi orang yang kaya raya.

Beru Ginting Sope Mbelin - Cerita Rakyat Sumatera Utara

Orang tua Beru Ginting Sope Mbelin tinggal di desa Urung Galuh Simale. Ayahnya bernama Ginting Mergana dan ibunya bernama Beru Sembiring. Awalnya kehidupan mereka sangat miskin, tapi berkat kerja keras Ginting Mergana, perlahan-lahan mereka menjadi orang paling kaya di desa. 

Kebahagian dan kekayaan yang diperoleh oleh Ginting Mergana membuat adiknya merasa iri. Diam-diam adik Ginting Mergana meracuni kakaknya hingga mati. Tidak lama sejak Ginting Mergana meninggal, istrinya, Beru Sembiring juga ikut meninggal dunia. 

Tinggallah Beru Ginting Sope Mbelin menjadi anak yatim piatu. Sejak kedua orang tuanya meninggal, paman dan bibinya tinggal di rumah Beru Ginting. Tapi paman dan bibinya itu bukan merawat dirinya, tetapi justru memperbudak Beru Ginting. 

Setiap hari Beru Ginting disuruh bekerja keras mengerjakan pekerjaan rumah tangga, sementara paman dan bibinya bermalas-malasan menikmati harta peninggalan orang tua Beru Ginting. Bahkan Beru Ginting malah akan diusir dari rumahnya. 

Pada suatu hari, paman Beru Ginting mengajak keponakannya itu pergi. Ternyata mereka pergi menuju pantai. Di sana Beru Ginting dijual kepada seorang pedagang yang mempunyai kapal besar.  

Beru Ginting di jual seharga 250 keping uang perak. Setelah berhasil menjual keponakannya itu, paman Beru Ginting pulang secara diam-diam tanpa sepengetahuan Beru Ginting. 

Anehnya ketika Beru Ginting di bawa ke atas kapal, maka kapal tersebut tidak bisa berjalan. Ketika semua penumpang turun termasuk Beru Ginting, kapal tersebut bisa berjalan. Akhirnya Beru Ginting tidak jadi dibawa oleh si pedagang. Ia di tinggal sendirian di pantai. 

Beru Ginting kemudian berjalan tanpa tujuan. Ia berjalan keluar masuk hutan, mengunjungi satu kampung ke kampung yang lain. Hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang wanita tua yang bernama Datu Rubia Gande. 

Datu Rubia Gande mengijinkan Beru Ginting untuk tinggal bersama dengannya. Mereka hidup berdua dengan bahagia hingga Beru Ginting dewasa. Ketika sudah waktunya menikah, Datu Rubia Gande juga mencarikan jodoh yang baik untuk Beru Ginting. 

Seorang pemuda yang senasib dengannya yang bernama Karo Megana, dipilih oleh Datu rubia Gande sebagai suami Beru Ginting. Setelah menikah, Beru Ginting ingin kembali ke desanya. Datu Rubia Gande tidak bisa melarang, maka ia mengijinkan Beru Ginting untuk pulang. 

Ketika sampai di desanya, Beru Ginting di sambut dengan baik oleh teman-teman sepermainannya dulu. Mereka sangat marah kepada paman dan bibi Beru Ginting setelah mendengar cerita dari Beru Ginting. Penduduk desa tersebut kemudian mengadili paman dan bibi Beru Ginting. 

Rumah dan harta milik Beru Ginting diambil secara paksa oleh penduduk desa tersebut dari paman dan bibinya. Sementara itu untuk menebus dosa-dosanya, paman dan bibi Beru Ginting mendapat hukuman, yaitu tubuh mereka di tanam di dalam tanah, hanya kepala mereka saja yang terlihat. Orang-orang yang akan masuk ke dalam rumah wajib menginjak kepala mereka sebagai tangga. 

PESAN: Setiap perbuatan jahat pasti akan mendapat balasan sesuatu hal yang buruk, dan setiap kebaikan akan mendapat balasan sesuatu hal yang baik.

Jumat, 30 Mei 2014

Lahilote - Cerita Rakyat Gorontalo

Kalau di Jawa ada cerita Jaka Tarub dan Nawang Wulan, maka di Sulawesi ada juga cerita yang hampir sama. Lahilote adalah tokoh "Jaka Tarub" yang ada dalam cerita rakyat dari Gorontalo. 

Lahilote adalah seorang pemuda yang senang berburu ke hutan. Selain pintar berburu, ia juga sakti. Pada suatu hari, ketika Lahilote melewati sebuah kolam ditengah hutan, ia melihat ada tujuh bidadari sedang mandi. Ia kemudian mengubah dirinya menjadi seekor ayam hutan. 

Ayam hutan jelmaan Lahilote itu berjalan mendekati onggokan sayap para bidadari. Lahilote berhasil mengambil sebuah sayap, kemudian ia menghilang. Tak lama kemudian para bidadari itu keluar dari dalam kolam dan bersiap-siap untuk pergi ke kahyangan. 

Ada satu bidadari yang tidak bisa pergi karena sayapnya hilang. Tiba-tiba Lahilote datang dan menjadi pahlawan. Ia mengajak bidadari itu ke rumahnya. Tak lama kemudian keduanya menikah. 

Lahilote tetap pergi berburu ke hutan, sementara itu istrinya bertugas memasak makanan di rumah. Selama beberpa bulan Lahilote heran karena lumbung padinya masih penuh, seakan istrinya tidak pernah mengambil padi. Padahal setiap hari mereka berdua makan nasi dalam jumlah yang cukup banyak. 

Hingga pada suatu hari, Lahilote mengintip istrinya yang sedang masak. Saat itulah Lahilote tahu bahwa istrinya hanya cukup memasak satu butir padi untuk menghasilkan nasi yang bisa dimakan oleh mereka berdua selama sehari. 

Karena ada yang mengetahui rahasia tersebut, maka kesaktian bidadari itu menjadi hilang. Istri Lahilote tidak bisa lagi memasak hanya dengan satu butir padi. Sejak saat itu, istri Lahilote harus menumbuk padi dalam jumlah banyak untuk makan mereka berdua. Hingga akhirnya padi di dalam lumbung menjadi sedikit. 

Tanpa diduga, istri Lahilote menemukan sayap bidadari miliknya dibawah tumpukan padi. Dengan hati gembira, istri Lahilote memakai sayap bidadari miliknya dan langsung terbang menuju kahyangan. Tinggallah Lahilote sendiri dengan segala penyesalannya.

Asal MUla Lubuk Bendahara - Cerita Rakyat Riau

Negeri Bunga Tanjung dipimpin oleh Datuk Bendahara. Istrinya bernama Mak Maimun, dan mereka mempunyai seorang anak yang masih bayi. Datuk Bendahara adalah seorang yang kaya dengan banyak harta. Tapi ia adalah seorang yang sangat pelit. 

Pada suatu hari Mak Maimun membawa anaknya pergi ke sungai. Mak Maimun meletakkan bayinya di sebuah batu besar di tepi sungai, sementara ia asyik bermain air di sungai. Tak lama kemudian bayi Mak Maimun bergerak-gerak dan jatuh ke sungai. 

Mak Maimun berteriak-teriak minta tolong, sementara itu bayinya dengan cepat terbawa arus sungai menuju sebuah lubuk di tepi gua. Semua orang di negeri itu mencari-cari bayi Mak MAimun, termasuk juga suaminya, Datuk Bendahara. 

Tapi hingga malam hari, bayi itu tidak juga ditemukan. Dalam tidurnya, Datuk Bendahara bermimpi bertemu dengan seorang laki-laki tua. Ia meminta Datuk Bendahara menyembelih seekor sapi yang berdarah putih, kemudian Datuk Bendahara harus menyiramkan darah putih itu ke dalam lubuk. Setelah itu, maka hantu dalam lubuk itu akan mengembalikan bayinya. 

Datuk Bendahara yang pelit tidak ingin membuang banyak uang untuk membeli sapi berdarah putih yang harganya sangat mahal. Ia kemudian meminta pelayannya untuk menumbuk tuba dan menampung getahnya. Getah ini berwarna putih, mirip darah sapi putih. 

Setelah tuba yang tertampung cukup banyak, Datuk Bendahara kemudian pergi ke lubuk dan menyiramkan getah tuba itu ke dalamnya. Tentu saja ikan-ikan di dalam lubuk itu mati, minum air tuba yang beracun. Diantara bangkai ikan yang mati tersebut, tiba-tiba keluar sebuah tempayan besar yang langsung menggelinding menuju rumah Datuk Bendahara. 

Orang-orang di Negeri Bunga Tanjung mengira tempayan itu berisi bayi yang hilang. Ternyata dugaan mereka salah. Di depan rumah Datuk bendahara tempayan itu menabrak tangga hingga pecah sedikit, dari pecahan itu keluarlah emas permata. 

Datuk Bendahara yang melihat hal itu langsung berteriak. “ Jangan ada yang berani menyentuh tempayan itu, emas permata itu adalah milikku.” 

Mendengar suara keras Datuk Bendahara, tempayan itu terkejut dan menggelinding lagi menuju lubuk. Datuk Bendahara mengikutnya sambil terus berteriak. Tempayan itu semakin ketakutan, hingga akhirnya masuk kembali ke dalam lubuk. Sejak saat itu, orang-orang mengenal lubuk itu dengan nama Lubuk Bendahara.

Legenda Si Batu - Cerita Rakyat Banten

Ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang Raja yang kejam. Raja menetapkan pajak dalam jumlah yang sangat banyak, sehingga sangat memberatkan rakyatnya. Uang pajak yang terkumpul, digunakan Raja untuk berpesta dan berfoya-foya. 

Perilaku Permaisuri juga sama. Ia senang berpesta dan membeli perhiasan mahal dengan uang hasil pajak. Sementara kehidupan rakyat di kerajaan itu sangat miskin. 

Pada suatu hari Raja dan Permaisuri mengadakan sebuah pesta. Dalam pesta itu diundang semua pejabat kerajaan dan orang-orang kaya di negeri itu. Pesta itu berlangsung sangat meriah dengan makanan yang berlimpah. 

Ketika pesta sedang berlangsung, tiba-tiba datang seorang laki-laki tua yang sangat kumal. Tentu saja Raja dan Permaisuri mengusir laki-laki tua itu dari dalam pesta. Pengawal istana diperintahkan untuk memaksa laki-laki tua itu keluar. 

Ketika para pengawal istana menyeret laki-laki tua keluar, laki-laki tua itu berteriak. “Kalian semua memang orang-orang yang berhati batu. Kalian tidak pantas hidup dimuka bumi ini. ” 

Tiba-tiba langit menjadi gelap dan suara petir menggelegar. Sebuah keajaiban terjadi. Ketika langit menjadi terang kembali, orang-orang yang berada di tempat itu semua telah berubah menjadi batu. Hingga kini tempat tersebut dikenal dengan nama “Si Batu”.

Kisah Adipati Suryo - Cerita Rakyat Jawa Tengah

Suryo kecil adalah anak pencari kayu bakar yang tinggal di desa Randualas. Ayahnya meninggal ketika ia berusia tiga tahun. Ibunya bekerja keras mencari kayu bakar untuk memberi makan Suryo. Karena lelah bekerja ibu Suryo jatuh sakit. 

“Kau harus menjadi seorang yang pintar, agar kehidupanmu nantinya tidak seperti kami. “pesan Ibu Suryo sebelum ia meninggal. 

Setelah ibunya meninggal dunia, Suryo pergi ke kota Raja. Di sana ia bekerja di sebuah perguruan silat. Sambil bekerja, diam-diam Suryo ikut belajar silat. Ternyata Suryo adalah anak yang pandai. Ia bukan hanya menguasai ilmu silat, tapi juga ilmu pengetahuan yang juga dipelajari di perguruan tersebut. 

Ketika sudah dewasa, Suryo mengikuti seleksi pengawal istana. Ternyata ia bisa diterima dengan mudah. Di sini Suryo terus belajar ilmu kesaktian yang lain dari berbagai guru. Semakin lama Suryo menjadi seorang pengawal yang tangguh. 

Hingga pada suatu ketika, kerajaan tiba-tiba diserang oleh musuh. Dengan kesaktiannya dan juga kepandaiannya mengatur siasat, Suryo berhasil mengalahkan musuh. Sebagai tanda terima kasih, Raja kemudian mengangkat Suryo menjadi seorang Adipati. 

Orang-orang di desa Randualas merasa sangat senang Suryo menjadi seorang adipati. Mereka berharap desa mereka yang miskin bisa mendapat perhatian khusus dari Adipati Suryo. Maka beberapa orang desa datang ke kadipaten untuk mengucapkan selamat dan menyampaikan keinginan mereka. 

Sayangnya waktu itu Adipati Suryo sedang mengadakan pertemuan dengan para pembantunya ketika penjaga pintu gerbang istana datang. 

“Ada orang-orang dari desa Randualas yang datang kemari, mereka mengaku kenal dengan kanjeng Adipati. Menurut pengakuan mereka, Adipati Suryo berasal dari desa tersebut.” Kata penjaga gerbang istana. 

Adipati Suryo malu mengakui dirinya berasal dari desa Randualas yang miskin. “Aku tidak mengenal mereka, karena aku bukan berasal dari desa Randualas. Suruh saja mereka pergi.” 

Selang beberapa bulan kemudian, ada seseorang yang iri dengan keberhasilan Adipati Suryo. Orang tersebut kemudian membuat fitnah dan melaporkan kepada Raja bahwa Adipati Suryo tidak menyetorkan pajak kadipaten kepada Raja. 

Adipati Suryo kemudian diberhentikan sebagai Adipati dan disuruh pergi oleh Raja. Tidak ada seorang pun yang mau menolong Suryo. Tidak ada jalan lain kecuali pulang ke rumahnya di desa Randualas. Sebenarnya ia malu dan ragu. 

“Apakah penduduk desa Randualas masih mau menerimaku setelah aku mengusir mereka dari Kadipaten dulu. Pasti mereka dendam padaku.” Pikir Suryo. 

Ternyata penduduk desa Randualas menerima Suryo dengan baik. Mereka telah memaafkan perlakuan Suryo kepada mereka ketika ia menjadi Adipati dulu. Dalam penyesalannya, Suryo berjanji pada dirinya sendiri untuk dapat memajukan desanya yang miskin. 

Tak lama kemudian ada utusan Raja datang menjemput Suryo. Mereka membawa surat perintah Raja yang meminta Suryo kembali menjadi Adipati. Raja sudah bisa membuktikan bahwa fitnah yang ditujukan pada Suryo tidak benar. Kali ini Adipati Suryo mendapat kesempatan untuk memajukan desanya.

PESAN : Sahabat sejati adalah orang-orang yang ada untuk kita disaat kita susah atau pun senang.

Awang Garang - Cerita Rakyat Kepulauan Riau

Pada jaman dahulu kepulauan Riau dikuasai oleh bajak laut dari negeri Sulu. Di sana pula tinggal Awang Garang, seorang pemuda miskin yang pemberani dan sangat senang berada di laut. Pada saat itu Sultan memerintahkan untuk membuat kapal besar yang akan digunakan untuk berperang melawan bajak laut. 

Awang Garang yang pemberani tentu saja dilibatkan dalam pembuatan kapal tersebut. Karena ia sangat rajin dan giat bekerja, maka Sultan sangat sayang padanya. Hal ini membuat para Datuk menjadi iri padanya. 

Pada saat bekerja membuat kapal, tiba-tiba mata Awang Garang terkena pecahan kayu, hingga mata Awang Garang yang satu tidak dapat melihat. Kejadian ini dijadikan alasan oleh para Datuk untuk menyingkirkan Awang Garang. Tentu saja Awang Garang sangat marah dan bersumpah bahwa kapal tersebut jika telah selesai dibuat tidak akan bisa ditarik ke laut. 

Setelah selesai, kapal tersebut memang tidak bisa ditarik ke laut, sehingga Awang Garang kembali dipanggil oleh para Datuk. Kali ini Awang Garang mengajukan tiga buah syarat. Ia minta disediakan 36 pemuda yang kuat juga tujuh putri atau saudara perempuan para Datuk yang sedang hamil 9 bulan dengan baju yang berbeda warna. Selain itu Awang Garang juga minta para Datuk hadir pada acara tersebut dengan mata yang ditutup kain hitam. 

Setelah semua syarat dipenuhi, maka Awang Garang siap menarik kapal tersebut dengan bantuan 36 pemuda yang kuat tersebut. Awang Garang memakai bantuan kayu untuk memudahkannya menarik kapal. Cara ini sengaja ia rahasiakan, oleh karena itu ia sengaja meminta para Datuk menutup matanya. 

Tak lama setelah kapal itu berada di laut, ketujuh putrid yang sedang hamil itu melahirkan anak laki. Masing-masing diberi nama sesuai dengan baju yang dipakai ibunya. Anak laki-laki tersebut setelah besar nanti akan menjadi panglima yang menumpas bajak laut di perairan Riau. Para Panglima itu dibawah pimpinan Panglima Elang Laut Bermata Satu atau Awang Garang.

Selasa, 27 Mei 2014

Diculik Hantu Kelelawar

Judul: Misteri Chiroptera Penculik 
Penulis: Sri Widiyastuti 
Illustrator cover : Rendi Arrahman 
Genre: Petualangan Misteri
Penerbit: Bhuana Sastra (Imprint BIP) 
Jumlah halaman: v + 170 halaman 
Ukuran: 13 X 19 cm Terbit: Januari 2014 
ISBN 10: 6012-249-525-3 
ISBN 13: 978-602-249-525-3 
Harga :Rp. 30.000 

Diculik Hantu Kelelawar 

Hujan deras membuat Sarah mau tidak mau harus melewati pohon beringin besar menjelang maghrib. Orang bilang kalau pohon beringin itu menyeramkan. Benar saja ketika petir menyambar Sarah melihat ada Raksasa berkepala kribo dengan perut gendut di pohon beringin. Sosok itu mirip monster kelelawar besar di tengah hujan deras. Benarkah pohon beringin yang usianya lebih dari seratus tahun itu ada hantunya? 

Sarah pun menyelidiki pohon beringin besar itu. Ia hanya ingin meyakinkan dirinya bahwa tidak ada hantu kelelawar di sana. Tapi nyatanya dua sahabat Sarah yaitu Lisa dan Dian hilang di pohon beringin itu. Benarkah mereka diculik oleh hantu kelelawar? Ikuti petualangan seru Sarah bersama kedua saudara sepupu kembarnya dari Malaysia yaitu Adli dan Azri. Mereka bertiga menyelidiki penculikan yang diduga dilakukan oleh hantu kelelawar. 
This entry was posted in

Si Kelingking - Cerita Rakyat Jambi

Ada seorang laki-laki tua dan istrinya yang tinggal di sebuah desa di kaki bukit. Suami istri itu sangat miskin dan mereka juga tidak mempunyai anak. Pada suatu hari laki-laki tua itu berdoa pada Tuhan. 

“Ya Tuhan, berilah aku seorang anak. Bagaimanapun bentuknya anak itu akan aku terima, meskipun anak itu hanya sebesar kelingking sekalipun.” Kata laki-laki tua itu dalam doanya. 

Tidak berapa lama kemudian, istrinya mengandung. Ketika melahirkan, ternyata bayi yang keluar hanya sebesar kelingking. Laki-laki tua itu tetap bersyukur kepada Tuhan karena doanya telah dikabulkan. 

Namun beberapa tahun kemudian, anak laki-laki tua itu tetap sebesar kelingking, dan sepertinya anak itu tidak akan bisa lagi tumbuh menjadi besar. Hingga laki-laki tua itu memberi nama anaknya dengan nama “ Si Kelingking”. 

Pada suatu saat, kerajaan diserang oleh seorang raksasa perempuan bernama “Nenek Gergasi”. Raksasa itu sering memakan manusia dan juga binatang ternak. Semua penduduk menjadi gelisah. 

Raja memerintahkan semua penduduk untuk mengungsi. Tapi Si Kelingking justru ingin menghadapi Nenek Gergasi. Ia minta dibuatkan lubang sebesar dirinya. Maka setelah membuatkan lubang dan meletakkan Si Kelingking di dalamnya, laki-laki tua yang menjadi Ayah Si Kelingking pergi mengungsi bersama dengan penduduk lain. 

Ketika Nenek Gergasi datang, ia mengamuk karena tidak ada makanan yang bisa ia makan hari itu. Tidak ada hewan ternak dan juga tidak ada manusia. Tiba-tiba Nenek Gergasi mendengar sebuah suara. 

“Tidak ada lagi yang bisa kau makan di sini. Sebaiknya kau pergi saja.” Itu adalah suara Si Kelingking. 

Tapi Nenek Gergasi tidak melihat orang disekitarnya. Sehingga Nenek Gergasi mengira bahwa itu adalah suara hantu. Maka Nenek Gergasi ketakutan dan lari secepat kilat. Hingga tanpa di sadari Nenek Gergasi, ia masuk ke dalam jurang dan mati. 

Semua rakyat di kerajaan, juga Raja berterima kasih kepada Si Kelingking. Raja menyatakan Si Kelingking sebagai pahlawan dan memberinya hadiah yang sangat banyak.

Si Kantan Anak Durhaka - Cerita Rakyat Sumatera Utara

Si Kantan adalah seorang pemuda miskin yang hidup sebagai pencari kayu bakar. Ia dan ibunya tinggal di sebuah gubug di dekat Sungai Barumun, di daerah Labuhan Batu. Ibu Si Kantan sudah tua sehingga ia hanya bisa membantu Si Kantan menjual kayu bakar. 

Pada suatu hari, ketika Si Kantan berada di dalam hutan, ia tertidur setelah lelah bekerja. Dalam tidurnya ia bermimpi bertemu dengan seorang laki-laki tua. 

“Ambillah tongkat milikku yang tertimbun di bawah pohon tempatmu duduk sekarang.”kata laki-laki tua dalam mimpi Si Kantan. 

Belum sempat Si Kantan bertanya, laki-laki tua itu sudah menghilang, dan Si Kantan terbangun dari tidurnya. 

“Tidak ada salahnya kalau aku menggali tanah di bawah pohon ini.” Pikir Si Kantan.  

Tanpa membuang waktu, Si Kantan langsung menggali tanah bekas tempatnya duduk, seperti yang diberitahukan laki-laki tua yang ada dalam mimpinya tadi. Setelah menggali cukup dalam, Si Kantan menemukan sebuah benda yang berkilau. Ternyata Si Kantan menemukan sebuah tongkat yang berlapis emas dan batu permata. 

“Aku bisa menjual tongkat ini dengan harga sangat mahal dan kita akan menjadi orang kaya.” Kata Si Kantan kepada ibunya ketika sampai di rumah. 

“Tidak ada orang di daerah sini yang punya uang untuk membeli tongkat milikmu itu Si Kantan.” Ibu SI Kantan ragu. 

“Kalau begitu aku akan pergi ke Malaka untuk mencari orang paling kaya di sana dan menjual tongkat ini kepadanya,bu.” 

Ibu Si Kantan sebenarnya ingin melarang, tapi ia kasihan melihat anaknya sangat mengharap doa restunya. 

Si Kantan pergi ke Malaka dengan menaiki sebuah kapal yang melintasi Sungai Barumun. Ketika sampai di Malaka, ternyata Si Kantan tidak mudah mendapatkan pembeli. Hingga setelah beberpa hari di Malaka, Raja Malaka mendengar kabar tentang tongkat SI Kantan, ia kemudian menyuruh pengawal istana untuk menjemput SI Kantan. 

Setelah sampai di istana Raja Malaka, Si Kantan bukan hanya berhasil menjual tongkat miliknya. Ternyata Raja Malaka juga sangat senang melihat kepribdian Si Kantan, maka Raja Malaka meminta Si Kantan untuk menjadi menantunya. 

Selama bertahun-tahun Si Kantan telah menjadi menantu raja dengan harta yang sangat banyak. Sementara itu ibu Si Kantan tetap saja miskin dan tingggal di gubug sederhana di tepi Sungai Barumun. 

Hingga pada suatu ketika, Si Kantan bersama istri dan pengawal kerajaan, menaiki sebuah perahu yang besar dan mewah melintasi Sungai Barumun. Kabar kedatangan Si Kantan telah tersiar ke mana-mana, dan ibu Si Kantan juga sudah mendengar. Ia sangat senang karena anaknya yang telah lama ia rindukan akan segera datang. 

Ternyata kapal Si Kantan hanya berlabuh di tengah sungai Barumun. Karena tidak sabar ingin bertemu anaknya, ibu Si Kantan menaiki sebuah perahu kecil mendekati kapal Si Kantan. Tapi ketika perahu kecil itu akan merapat dan ibunya memanggil dengan penuh kerinduan , Si Kantan malah mengusir dengan kata-kata kasar. 

“Aku adalah menantu Raja Malaka, jadi aku tidak mungkin mempunyai ibu seperti dirimu. Cepatlah pergi menjauh dari perahuku wanita tua.” Teriak Si Kantan dari atas kapal. 

Ibu Si Kantan terkejut, anaknya bisa berbuat seperti itu terhadap dirinya. Dengan hati yang terluka, ibu Si Kantan membalikkan arah perahunya. Tapi belum begitu jauh, tiba-tiba langit menjadi hitam, petir menyambar dan angin yang sangat besar membalikkan kapal Si Kantan. 

Si Kantan yang durhaka, kapal dan isinya berubah menjadi sebuah pulau. Hingga sekarang, orang mengenal pulau itu dengan nama Pulau Si Kantan.

PESAN: Anak yang durhaka terhadap orang tua akan dihukum oleh Tuhan. Oleh karena itu jangan pernah menyakiti hati orang tua kalian, agar tidak menjadi anak durhaka.

Batu Menangis - Cerita Rakyat Kalimantan Tengah

Ada seorang gadis yang sangat malas. Setiap hari yang ia lakukan hanyalah berdandan dan mempercantik diri. Semua pekerjaan rumah dilakukan oleh ibunya. Bahkan si gadis seringkali memperlakukan ibunya sebagai pembantu. 

Sebenarnya ibu si gadis ingin anaknya bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sehingga jika ia menikah nanti, si gadis bisa menjadi seorang istri yang baik. Maka pada suatu hari, ibu si gadis berhasil membujuk anaknya untuk ikut ke pasar. Ibu si gadis ingin mengajari anaknya cara berbelanja. 

Dari rumah hingga berada di dalam pasar, si gadis tidak mau berjalan di samping ibunya. Ia selalu berjalan di depan, dan ibunya berjalan dibelakang. Semua orang memandang kagum pada kecantikan si gadis. 

“Mengapa kau tidak berjalan di samping ibumu, gadis cantik?” tanya seorang pemuda di pasar. 

Si gadis sepertinya malu memiliki ibu yang jelek dengan pakaian yang kumal. Maka ia pun menjawab, “ dia bukan ibuku, dia adalah pembantuku, jadi mana mungkin aku berjalan di sampingnya.” 

Mendengar jawaban anaknya, ibu si gadis menjadi sakit hati. Ia tidak pernah menyangka anaknya akan berlaku seperti ini. Dalam hati ibu si gadis berdoa kepada Tuhan. Dalam waktu sekejab langit menjadi hitam dan kilat menyambar. Di saat bersamaan, tubuh si gadis berubah menjadi batu. 

Di saat itulah si gadis menyesal dan memohon ampun kepada ibunya. Tapi semua sudah terlanjur, dan hingga kini batu itu masih menangis memohon ampunan ibunya. Orang mengenal batu itu dengan sebutan “Batu Menangis”.

Aji Saka - Cerita Rakyat Jawa Tengah

Kerajaan Medang Kamulan diperintah oleh seorang raja bernama Prabu Dewata Cengkar. Tapi rakyat Medang Kamulan hidup dalam ketakutan. Ini karena kebiasaan buruk Prabu Dewata Cengkar. Setiap hari Prabu Dewata Cengkar selalu memakan manusia. 

Semakin hari penduduk Medang Kamulan semakin berkurang. Selain habis dimakan oleh Prabu Dewata Cengkar, sebagian dari mereka ada juga yang mengungsi. Tentu saja hal ini membuat Parbu Dewata Cengkar marah. 

Sementara itu di desa Medang Kawit, ada seorang pemuda yang sakti. Pemuda ini bernama Aji Saka. Mendengar perilaku Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka segera pergi ke istana. 

Di sana Aji Saka menyerahkan dirinya untuk menjadi santapan Prabu Dewata Cengkar. Tapi Aji Saka mengajukan sebuah syarat. Ia mau dimakan oleh Prabu Dewata Cengkar, dengan imbalan tanah selebar sorban yang ia pakai. 

Prabu Dewata Cengkar setuju, ia pun memegang ujung sorban Aji Saka dan menariknya. Sorban itu bergerak sangat cepat dan terus memanjang. Hingga tanpa disadari, Prabu Dewata Cengkar sudah sampai ditepi laut dan tak lama kemudian ia masuk ke dalam laut dan akhirnya mati. Rakyat Medang Kamulan sangat senang, dan Aji Saka diangkat sebagai raja menggantikan Prabu Dewata Cengkar.

Setelah menjadi raja, Ajisaka mengutus abdinya untuk mengambil pusaka miliknya. NAmun sayang abdi yang diutus tersebut justru bertengkar dengan abdi yang bertugas menjaga pusaka. Pertengkaran itu menyebabkan keduanya mati. Ajisaka kemudian mengabadikan peristiwa ini menajdi sebuah puisi yang kemudian dikenal sebagai susunan huruf Jawa . 

Senin, 26 Mei 2014

Putri Purbasari - Cerita Rakyat Jawa Barat

Putri Purbasari mempunyai seorang saudara tiri bernama Putri Purbalarang. Ketika Raja menjadikan Purbasari sebagai Ratu, Purbalarang merasa iri. Maka ia meminta seorang dukun sakti untuk menyihir Putri Purbasari. Oleh dukun sakti itu, Putri Purbasari dibuat menjadi sakit. Seluruh badannya penuh dengan penyakit yang menjijikkan. 

Raja kemudian membuang Putri Purbasari ke hutan. Di sana Putri Purbasari ditemani oleh seekor monyet yang bernama Lutung Kasarung. Setiap hari Lutung Kasarung membawa buah bagi Putri Purbasari. Hingga pada suatu hari, Lutung Kasarung membuat sebuah kolam besar untuk mandi Putri Purbasari. 

Sebuah keajaiban terjadi, penyakit Putri Purbasari hilang. Putri Purbasari kembali menjadi cantik. Mendengar kabar ini, Putri Purbalarang sangat marah. Ia pergi ke hutan dan menantang Putri Purbasari. 

“Kalau kau ingin menjadi ratu, maka kau harus mempunyai suami yang tampan.” Kata Putri Purbalarang dengan sombong. Saat itu juga, Lutung Kasarung yang selalu berada di samping Putri Purbasari menjelma menjadi seorang pangeran yang tampan. Ternyata Lutung Kasarung adalah Putra Dewa yang turun dari kahyangan ke bumi. Putri Purbasari dan jelmaan Lutung Kasarung kembali ke istana. Mereka berdua menikah kemudian menjadi raja dan ratu.

Pangeran Pecah Kulit - Cerita Rakyat Jakarta

Kisah ini terjadi sekitar tahun 1720 dimana saat itu Belanda dengan VOC nya menguasai hampir seluruh wilayah nusantara termasuk Batavia. Ketidak adilan dan tindakan semena-mena penjajah Belanda terhadap masyarakat pribumi atau penduduk asli menyebabkan terjadinya berbagai bentuk pemberontakan. 

Di Batavia tepatnya di daerah Pangeran Jayakarta terdapat sebuah rumah besar milik seorang pemuda keturunan Jerman bernama Pieter Erbelverld. Karena selalu diangggap rendah oleh teman-teman sebangsanya, ia pun kemudian menjadi peduli dengan masyarakat Pribumi, maka ia dijuluki sebagai Pangeran Pecah Kulit, tapi orang memanggilnya dengan sebutan Tuan Gusti. 

Pieter Erbelverd memeluk agama islam dan menjalankan ibadah dengan sungguh-sungguh sehingga hal ini membuat para ulama semakin bersimpati padanya. Sebaliknya, orang-orang Belanda semakin menjauhi dan membencinya. 

Rumah Pieter Erbelverld seringkali dijadikan sebagai tempat berkumpulnya para tokoh-tokoh pejuang dalam menyusun siasat pemberontakan pada VOC. Pada suatu malam para tokoh pejuang menyusun siasat melakukan penyerangan secara diam-diam ke markas besar VOC melalui penyerangan bawah tanah. 

Namun tanpa mereka sadari, Ali seorang pemuda berandalan yang tinggal di sekitar rumah Pieter Erbelverd, mencuri dengar semua pembicaraan mereka. Ali melaporkan hal ini kepada Kapten Cruse dan ia mendapatkan hadiah. 

Gubernur Jendral memerintahkan Kapten Cruse membawa pasukan Kompeni untuk mengepung rumah Pieter Erbelverd. Kapten Cruse beserta empat puluh pasukannya menuju rumah Pieter Erbelverd. 

Tidak ada perlawanan pada penangkapan tersebut, Pieter Elberverd, dan juga beberapa orang pejuang yang berada di rumah tersebut ditangkap oleh Kompeni. Mereka mati secara mengenaskan ditangan para algojo kompeni. 

Jenazah Pieter Elberverd di kubur di daerah Mangga Dua. Rumah milik Pieter Elbeverd di bongkar hingga rata dengan tanah. Pada tanah tersebut dipancangkan tiang setinggi tombak dengan patung kepala Pieter ditancapkan diatasnya.

Putri Candra Kirana - Cerita Rakyat Jawa Timur

Putri Candra Kirana adalah anak dari Raja Daha. Ia mempunyai seorang saudara tiri bernama Dewi Galuh. Sejak kecil Candra Kirana sudah dijodohkan dengan Raden Inu Kertapati, seorang pangeran dari Kerajaan Kahuripan. Hal ini membuat Dewi Galuh iri, ia kemudian pergi menemui seorang dukun sakti dan meminta Putri Candra Kirana disihir. 

 Dukun sakti itu merubah Putri Candra Kirana menjadi seekor keong emas dan membuangnya ke sungai. Hingga pada suatu saat, keong emas itu ditemukan oleh seorang perempuan tua dan dibawa ke rumahnya di desa Dadapan. Ketika perempuan tua itu pergi mencari kayu ke hutan, keong emas berubah menjadi manusia dan mengerjakan pekerjaan rumah. 

Ketika perempuan tua itu tiba di rumah, makanan sudah tersedia di meja makan dan rumahnya juga sudah bersih. Tentu saja perempuan tua itu curiga. Pada suatu hari diam-diam ia mengintip ke dalam rumahnya, ingin mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. 

Ketika perempuan tua itu tahu bahwa keong emas dirumahnya menjelma menjadi seorang putri yang cantik, ia pun segera menemuinya. Sejak saat itu sihir yang ada pada Putri Candrakirana hilang. Ia tidak lagi berubah menjadi keong emas. 

Di saat yang hampir bersamaan, Raden Inu Kertapati mencari Putri Candra Kirana. Di tengah jalan ia diserang oleh burung gagak jelmaan dukun sakti. Tapi Raden Inu Kertapati dibantu oleh seorang tua yang sakti. Burung Gagak itu bisa dikalahkan, dan orang tua itu juga memberitahu dimana Putri Candra Kirana berada. 

 Tak lama kemudian Raden Inu Kertapati menyusul Putri Candra Kirana ke desa Dadapan. Keduanya bertemu kemudian bersama-sama kembali ke Daha. Raja Daha sangat gembira melihat Putri Candra Kirana sudah kembali. Sedangkan Dewi Galuh ketakutan akan dihukum oleh Raja karena perbuatan jahatnya, akhirnya ia pun pergi dari kerajaan Daha.

Kisah Badhong Gatotkaca - Cerita Rakyat Yogyakarta

Gatotkaca adalah seorang ksatria yang dikenal kuat dan gagah perkasa dengan otot kawat dan tulang besi. Penampilannya terlihat lebih berkharisma dan berwibawa karena adanya badhong, yaitu semacam sayap yang terbuat dari kulit kerbau dan selalu menghiasi punggung Gatotkaca. Badhong ini juga dipercaya berperan dalam menambah kekuatan dan kesaktian gatotkaca. 

Sebagai seorang raja di Pringgodani, Gatotkaca memimpin rakyatnya dengan arif dan bijaksana. Rakyat pringgodani merasa sangat aman dan nyaman karena mempunyai seorang raja yang kuat dan sakti. 

Mereka tidak pernah khawatir pada musuh yang akan menyerang kerajaan Pringgodani, karena selain mereka yakin bahwa Gatotkaca bisa mengatasinya, juga karena rakyat Pringgodani sangat cinta pada raja dan Negara yang sudah memberikan kehidupan layak dan nyaman pada mereka. Demi cintanya pada Negara, rakyat Pringgodani rela berkorban apa saja demi kerajaan dan raja yang sangat mereka cintai. 

Pada suatu saat datang ancaman dari tentara Brojodenta. Seluruh rakyat Pringgodani tahu, bahwa telah lama Brojodenta yang merupakan paman dari Gatotkaca, ingin menjadi raja di Pringgodani. 

Brojodenta merasa sebagai anak laki-laki tertua, maka seharusnya ia lah yang pantas menjadi raja dan memegang kekuasaan Pringgodani. Ia sangat kecewa ketika ayahnya lebih memilih Arimbi, yaitu ibu dari Gatotkaca untuk mewarisi tahta Pringgodani. Kemudian tahta itu diberikan pada Gatotkaca. 

Oleh karena itu Brojodenta selalu saja mencari cara untuk dapat merebut tahta Pringgodani dengan cara apapun juga. Ia tidak menyadari betapa banyak korban yang akan jatuh nanti dengan adanya peperangan yang ia kobarkan. Yang ada dalam pikiran Brojodenta hanyalah kekuasaan dan kepentingan dirinya sendiri. 

Berbagai cara telah dilakukan oleh paman Gatotkaca yang lain, seperti Brojomusti yang rela mengorbankan nyawanya demi ketentraman rakyat di Pringgodani. 

“Biarlah aku yang mencoba berbicara dengan pamanmu Brojodenta, Gatotkaca. Siapa tahu ia mau mendengar nasihatku dan mengurungkan niatnya untuk menyerbu Pringgodani. “ 

Namun kenyataan berkata lain, ternyata Brojodenta tidak mau mendengar nasehat Brojomusti, dan malah menyerang adiknya tersebut. Brojomusti yang kalah sakti dari kakaknya akhirnya kalah dan pulang kembali ke Pringgodani menemui Gatotkaca. 

“Maafkan aku Gatotkaca, kesaktian Brojodenta bukanlah tandinganku sehingga aku tidak bisa mengalahkannya. Tapi aku tetap akan mengabdikan diriku pada kerajaan Pringgodani ini. Ijinkan aku untuk melebur ke dalam tubuhmu, agar bisa menambah kesaktian dan kekuatanmu untuk melawan Brojodenta.” Brojomusti kemudian melebur masuk kedalam tangan kiri Gatotkaca. 

Ketika peperangan tidak bisa lagi dihindari, Gatotkaca maju memimpin pasukannya di barisan paling depan menghadapi serbuan pasukan Brojodenta. Dalam hati kecilnya, sebenarnya Gatotkaca tidak ingin melawan pamannya sendiri. 

Namun ia harus menjadi seorang raja yang wajib melindungi rakyatnya kapan pun juga. Pada awalnya Gatotkaca hampir saja kalah, kemudian ia terbang dan menjatuhkan badhongnya ke tanah. 

Ketika menyentuh tanah, badhong itu langsung berubah menjadi tiruan dirinya, sehingga Brojodenta sulit membedakan mana Gatotkaca yang asli. Akhirnya Brojodenta tidak mampu melawan dua Gatotkaca dengan kesaktian dan kekuatan yang sama sekaligus dalam waktu yang bersamaan. 

Hingga akhirnya Brojodenta kalah dan menyerahkan diri, “Aku mengaku kalah dan menyesal telah berusaha menyerang kerajaan tempat kelahiranku yang seharusnya aku lindungi dan jaga. 

Untuk menebus kesalahanku, maka ijinkan aku melebur dalam tubuhmu, agar aku bisa selalu membantumu dalam mempertahankan kerajaan Pringgodani dari ancaman musuh serta menjaga dan membela rakyat Pringgodani.” 

Kerajaan Pringgodani akhirnya kembali damai. Sedangkan badhong Gatotkaca yang jatuh ke tanah tersebut, kini berubah menjadi batu yang berada di desa Pringgodani Yogyakarta.

Menyelamatkan Penyu Di Pulau Betuah

Judul: Misteri Pulau Betuah 
Penulis: Tuti Sitanggang 
Penerbit: Kiddo 
Jumlah halaman: 156 halaman 
Ukuran: 13 X 19,5 cm 
Terbit: Pebruari 2014 
ISBN : 978-979-91-0670-4 
Harga :Rp 35.000 

Negeri Ratu Ngambur dikenal sebagai desa Ngambur. Desa ini berada di pesisir barat propinsi Lampung. Uti, Ibul dan Hana bersekolah di SD Ngambur di desa Ngambur. Petualangan ketiga sahabat ini dimulai ketika ketiganya terpilih mewakili sekolah mengikuti lomba susur pantai. 

Dalam lomba ini ketiganya harus bisa memecahkan teka-teki yang ada di setiap pos. Dari teka-teki inilah kalian juga bisa belajar banyak tentang penyu dan makanan kha Lampung. Dalam penyrusuran pantai itu ketiga sahabat ini juga bertemu dengan seorang laki-laki dengan berewok tebal di dagunya. 

Mengapa bapak berewok itu marah-marah dan mengusir ketiga sekawan itu ketika mendekatinya? Apa yang terjadi pada Ibul ketika mencari bantuan ke Pulau Betuah yang tidak berpenghuni? Bagaimana caranya ketiga sahabat itu menyelamatkan penyu-penyu di Pulau Betuah? Temukan jawabannya dalam novel anak detektik ini.
This entry was posted in

O BIa Moloku - Cerita Rakyat Maluku

Obia Moloku tinggal bersama dengan kedua orang tuanya dan seorang adiknya yang masih sangat kecil. Ayah Obia adalah seorang nelayan. Keluarga mereka hidup sangat miskin. Setiap hari ayah Obia hanya membawa sedikit ikan yang dijual ke pasar, sehingga keluarga ini seringkali kelaparan. 

Di dapur, ibu Obia selalu menyimpan telur ikan. Setiap kali ayah Obia pergi ke laut, maka ibu Obia selalu menjaga telur ikan tersebut dengan baik. Keluarga ini yakin bahwa jika terjadi sesuatu pada telur ikan tersebut, maka itu berarti telah terjadi sesuatu hal buruk yang menimpa ayah Obia. 

Pada suatu hari ibu Obia pergi ke ladang untuk mencari ubi untuk makan mereka sekeluarga. Saat itu Obia menjaga adiknya, tapi adik Obi selalu saja menangis. Kemudian datang seorang tetangga dekat rumah Obia dan berkata, “mungkin adikmu lapar Obia, berilah dia makan supaya tidak menangis terus.”  

Obia kemudian pergi ke dapur. Ia mencari-cari makanan yang bisa diberikan untuk adiknya. Hingga akhirnya Obia menemukan telur ikan. Ia pun memberikan telur ikan itu kepada adiknya. Benar saja, adik Obia langsung diam setelah memakan telur ikan itu. 

Tiba-tiba saja langit menjadi gelap, ombak dilaut bergulung sangat tinggi. Ibu Obia berlari dari kejauhan. Di saat yang sama seseorang datang memberi kabar bahwa perahu ayah Obia terbalik dan ayah Obia terbawa ombak. Ibu Obia sangat terkejut, ia pun segera pergi ke dapur. Ia menjadi lemas ketika mengetahui telur ikan sudah tidak ada lagi. 

Ibu Obia berlari menuju laut dan tak lama kemudian tertelan ombak. Kini tinggal Obia dan adiknya yang harus hidup berdua. Seandainya saja ibu Obia berpesan kepada anaknya untuk tidak menyentuh telur ikan itu.

Minggu, 25 Mei 2014

Tadulako Bulili - Cerita Rakyat Sulawesi Tengah

Tadulako artinya adalah panglima perang. Di desa Bulili terdapat tiga orang Tadulako, yaitu Tadulako Makeku, Tadulako Bantali dan Tadulako Molove. Ketiga Tadulako itu bertugas menjaga keamanan desa dan juga penduduknya.  

Pada suatu hari, Raja Sigi menikah dengan seorang gadis Bulili. Selama beberapa bulan Raja Sigi tingal di Bulili. Ketika istrinya sedang hamil, Raja Sigi minta ijin untuk pulang. Istri Raja Sigi tersebut dijaga oleh penduduk desa Bulili secara bergantian. 

Ketika istri Raja Sigi melahirkan, Tadulako Makeku dan Tadulako Bantili diutus untuk memberi kabar kepada Raja Sigi, sekaligus meminta lumbung padi untuk anaknya yang baru saja lahir. Tapi sayang, kehadiran dua Tadulako itu tidak disambut baik oleh Raja Sigi. 

Raja Sigi justru menghina kedua Tadulako tersebut. Hingga akhirnya Tadulako Bantili mengangkat lumbung padi yang sangat besar yang berada di istana Raja kemudian membawanya pergi dengan cara dipanggul. Raja Sigi semakin marah, ia menyuruh pengawal istana untuk menangkap kedua Tadulako itu. 

Pengawal istana mengejar kedua Tadulako itu. Hingga akhirnya, ketika sampai di sebuah sungai yang besar, dengan kesaktiannya kedua Tadulako itu berhasil melompati sungai dengan mudah. Sedangkan pengawal istana Raja Sigi hanya bisa memandang keduanya tanpa bisa melakukan apa-apa.

Sabtu, 24 Mei 2014

Wa Lancar - Cerita Rakyat Sumatera Utara

Sudah sejak kecil, Wa Lancar, seorang pemuda yatim piatu ingin menuntut ilmu agama. Namun karena ibunya tidak mampu membiayai, maka ia pun mencari akal untuk bisa belajar. Ia datangani beberapa tempat mengaji. Karena tidak ada uang untuk membayar, maka Wa Lancar rela disuruh mengerjakan pekerjaan rumah di tempat tersebut. 

Dari tiga tempat ia pun hanya mendapatkan masing-masing satu kajian yaitu, pertama ”kalau sudah lapar jangan makan”, kedua “ kalau lelah berjalan, istirahatlah”, ketiga “ ambil batu, ambil pisau, asah yang tajam.” Walau hanya beberapa kajian sederhana, namun Wa Lancar menerimanya dengan kesungguhan hati.  

Merasa ilmu yang diperolehnya masih sangat sedikit, ia pun pergi mengembara untuk memperdalam ilmu agama. Dalam perjalanannya, ia selalu minta ijin tinggal di mesjid. 

Disana Wa Lancar membantu membersihkan masjid dan mengajar anak-anak mengaji sambil dirinya juga ikut belajar. Karena kegigihan dan sifatnya yang rajin, maka banyak orang yang menyukai kebaikan dirinya , dari anak-anak hingga orang tua . 

Namun ada saja orang merasa iri dengan Wa Lancar. Orang itu adalah Si Pulan. Secara diam-diam ia mengadu pada raja,” Baginda, di masjid istana, ada guru ngaji bernama Wa Lancar, di sana ia mengajarkan ajaran-ajaran sesat pada anak-anak yang mengaji.” 

" Tanpa menyelidiki terlebih dahulu, raja memerintahkan pengawal istana untuk pergi menangkap Wa Lancar. Sebagai hukuman maka Wa Lancar di haruskan mengawini putri sang raja. 

Putri ini sudah beberapa kali menikah, namun tak lama berselang dari hari pernikahannya suami sang putri selalu meninggal. Hingga tak ada lagi laki-laki di kerajaan tersebut yang mau untuk dinikahkan dengannya. 

Lain halnya dengan Wa Lancar, ia menerima hukuman tersebut justru sebagai hadiah. Dengan ikhlas ia menikahi putri raja. Sampai disitu Si Pulan masih tetap berniat jahat pada Wa Lancar, tanpa diketahui oleh orang lain, diberikanlah bubuk racun pada makanan Wa Lancar pada saat perjamuan makan malam di istana. 

Saat itu Wa Lancar sangat lapar, namun ia teringat kajian dari gurunya yaitu,” kalau lapar jangan makan.” 

Maka diberikannya jatah makanannya pada teman yang duduk disebelahnya. Sesaat setelah makan, orang tersebut langsung mati. Hal ini tentu saja membuat Si Pulan tidak senang. Ia pun mencari cara untuk kembali mencelakakan Wa Lancar. 

Pada suatu pagi Si Pulan mendatangi Wa Lancar,” Aku diutus oleh baginda raja untuk menyampaikan sebuah pesan untukmu. Beliau menginginkan batu hitam, batu tersebut banyak terdapat di sungai.” 

" Tanpa rasa curiga Wa Lancar berangkat ke sungai dengan di temani oleh beberapa pengawal kerajaan. Pada perjalanan pulang setelah mendapatkan batu hitam, Wa Lancar merasa kelelahan. 

Kembali ia teringat pada kajian yang kedua , “kalau lelah berjalan istirahatlah”. Maka ia pun beristirahat di bawah sebuah pohon rindang sementara para pengawal kerajaan berjalan terlebih dahulu. 

Tak jauh dari tempatnya istarahat, Wa Lancar dikejutkan oleh suara orang minta tolong. Setelah dilihatnya, ternyata suara tersebut adalah para pengawal kerajaan yang terkena perangkap binatang . 

Sebenarnya perangkap tersebut sengaja di pasang Si Pulan untuk mencelakakan Wa Lancar, namun ternyata gagal. Setelah menolong para pengawal Wa Lancar dan rombongan kembali ke istana. Karena banyak yang terluka maka perjalanan menjadi lama. 

Lewat tengah malam, barulah Wa Lancar sampai diistana. Putri raja sudah tidur, sementara ia sendiri memilih untuk mengasah pisaunya dengan meminjam batu hitam sebelum besok pagi diserahkan pada raja. Ini juga karena ia teringat akan kajian gurunya ,” ambil batu, ambil pisau. asah yang tajam.” 

Ketika ia selesai mengasah, dilihatnya lipan putih keluar dari sela-sela kaki sang putri. Dengan cekatan disergapnya lipan tersebut dengan pisau yang baru saja diasahnya. Ternyata lipan inilah yang menyebabkan para suami putri raja terdahulu meninggal. Sekarang tak ada lagi suami putri raja yang akan mati termasuk Wa Lancar. 

PESAN: Ilmu yang dipelajari dengan sungguh-sungguh dan ikhlas, walaupun sederhana, akan mendatangkan manfaat yang besar.