Jumat, 30 Mei 2014

Asal MUla Lubuk Bendahara - Cerita Rakyat Riau

Negeri Bunga Tanjung dipimpin oleh Datuk Bendahara. Istrinya bernama Mak Maimun, dan mereka mempunyai seorang anak yang masih bayi. Datuk Bendahara adalah seorang yang kaya dengan banyak harta. Tapi ia adalah seorang yang sangat pelit. 

Pada suatu hari Mak Maimun membawa anaknya pergi ke sungai. Mak Maimun meletakkan bayinya di sebuah batu besar di tepi sungai, sementara ia asyik bermain air di sungai. Tak lama kemudian bayi Mak Maimun bergerak-gerak dan jatuh ke sungai. 

Mak Maimun berteriak-teriak minta tolong, sementara itu bayinya dengan cepat terbawa arus sungai menuju sebuah lubuk di tepi gua. Semua orang di negeri itu mencari-cari bayi Mak MAimun, termasuk juga suaminya, Datuk Bendahara. 

Tapi hingga malam hari, bayi itu tidak juga ditemukan. Dalam tidurnya, Datuk Bendahara bermimpi bertemu dengan seorang laki-laki tua. Ia meminta Datuk Bendahara menyembelih seekor sapi yang berdarah putih, kemudian Datuk Bendahara harus menyiramkan darah putih itu ke dalam lubuk. Setelah itu, maka hantu dalam lubuk itu akan mengembalikan bayinya. 

Datuk Bendahara yang pelit tidak ingin membuang banyak uang untuk membeli sapi berdarah putih yang harganya sangat mahal. Ia kemudian meminta pelayannya untuk menumbuk tuba dan menampung getahnya. Getah ini berwarna putih, mirip darah sapi putih. 

Setelah tuba yang tertampung cukup banyak, Datuk Bendahara kemudian pergi ke lubuk dan menyiramkan getah tuba itu ke dalamnya. Tentu saja ikan-ikan di dalam lubuk itu mati, minum air tuba yang beracun. Diantara bangkai ikan yang mati tersebut, tiba-tiba keluar sebuah tempayan besar yang langsung menggelinding menuju rumah Datuk Bendahara. 

Orang-orang di Negeri Bunga Tanjung mengira tempayan itu berisi bayi yang hilang. Ternyata dugaan mereka salah. Di depan rumah Datuk bendahara tempayan itu menabrak tangga hingga pecah sedikit, dari pecahan itu keluarlah emas permata. 

Datuk Bendahara yang melihat hal itu langsung berteriak. “ Jangan ada yang berani menyentuh tempayan itu, emas permata itu adalah milikku.” 

Mendengar suara keras Datuk Bendahara, tempayan itu terkejut dan menggelinding lagi menuju lubuk. Datuk Bendahara mengikutnya sambil terus berteriak. Tempayan itu semakin ketakutan, hingga akhirnya masuk kembali ke dalam lubuk. Sejak saat itu, orang-orang mengenal lubuk itu dengan nama Lubuk Bendahara.

0 komentar:

Posting Komentar