Jumat, 30 Mei 2014

Awang Garang - Cerita Rakyat Kepulauan Riau

Pada jaman dahulu kepulauan Riau dikuasai oleh bajak laut dari negeri Sulu. Di sana pula tinggal Awang Garang, seorang pemuda miskin yang pemberani dan sangat senang berada di laut. Pada saat itu Sultan memerintahkan untuk membuat kapal besar yang akan digunakan untuk berperang melawan bajak laut. 

Awang Garang yang pemberani tentu saja dilibatkan dalam pembuatan kapal tersebut. Karena ia sangat rajin dan giat bekerja, maka Sultan sangat sayang padanya. Hal ini membuat para Datuk menjadi iri padanya. 

Pada saat bekerja membuat kapal, tiba-tiba mata Awang Garang terkena pecahan kayu, hingga mata Awang Garang yang satu tidak dapat melihat. Kejadian ini dijadikan alasan oleh para Datuk untuk menyingkirkan Awang Garang. Tentu saja Awang Garang sangat marah dan bersumpah bahwa kapal tersebut jika telah selesai dibuat tidak akan bisa ditarik ke laut. 

Setelah selesai, kapal tersebut memang tidak bisa ditarik ke laut, sehingga Awang Garang kembali dipanggil oleh para Datuk. Kali ini Awang Garang mengajukan tiga buah syarat. Ia minta disediakan 36 pemuda yang kuat juga tujuh putri atau saudara perempuan para Datuk yang sedang hamil 9 bulan dengan baju yang berbeda warna. Selain itu Awang Garang juga minta para Datuk hadir pada acara tersebut dengan mata yang ditutup kain hitam. 

Setelah semua syarat dipenuhi, maka Awang Garang siap menarik kapal tersebut dengan bantuan 36 pemuda yang kuat tersebut. Awang Garang memakai bantuan kayu untuk memudahkannya menarik kapal. Cara ini sengaja ia rahasiakan, oleh karena itu ia sengaja meminta para Datuk menutup matanya. 

Tak lama setelah kapal itu berada di laut, ketujuh putrid yang sedang hamil itu melahirkan anak laki. Masing-masing diberi nama sesuai dengan baju yang dipakai ibunya. Anak laki-laki tersebut setelah besar nanti akan menjadi panglima yang menumpas bajak laut di perairan Riau. Para Panglima itu dibawah pimpinan Panglima Elang Laut Bermata Satu atau Awang Garang.

0 komentar:

Posting Komentar