Selasa, 27 Mei 2014

Batu Menangis - Cerita Rakyat Kalimantan Tengah

Ada seorang gadis yang sangat malas. Setiap hari yang ia lakukan hanyalah berdandan dan mempercantik diri. Semua pekerjaan rumah dilakukan oleh ibunya. Bahkan si gadis seringkali memperlakukan ibunya sebagai pembantu. 

Sebenarnya ibu si gadis ingin anaknya bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sehingga jika ia menikah nanti, si gadis bisa menjadi seorang istri yang baik. Maka pada suatu hari, ibu si gadis berhasil membujuk anaknya untuk ikut ke pasar. Ibu si gadis ingin mengajari anaknya cara berbelanja. 

Dari rumah hingga berada di dalam pasar, si gadis tidak mau berjalan di samping ibunya. Ia selalu berjalan di depan, dan ibunya berjalan dibelakang. Semua orang memandang kagum pada kecantikan si gadis. 

“Mengapa kau tidak berjalan di samping ibumu, gadis cantik?” tanya seorang pemuda di pasar. 

Si gadis sepertinya malu memiliki ibu yang jelek dengan pakaian yang kumal. Maka ia pun menjawab, “ dia bukan ibuku, dia adalah pembantuku, jadi mana mungkin aku berjalan di sampingnya.” 

Mendengar jawaban anaknya, ibu si gadis menjadi sakit hati. Ia tidak pernah menyangka anaknya akan berlaku seperti ini. Dalam hati ibu si gadis berdoa kepada Tuhan. Dalam waktu sekejab langit menjadi hitam dan kilat menyambar. Di saat bersamaan, tubuh si gadis berubah menjadi batu. 

Di saat itulah si gadis menyesal dan memohon ampun kepada ibunya. Tapi semua sudah terlanjur, dan hingga kini batu itu masih menangis memohon ampunan ibunya. Orang mengenal batu itu dengan sebutan “Batu Menangis”.

0 komentar:

Posting Komentar