Sabtu, 31 Mei 2014

Beru Ginting Sope Mbelin - Cerita Rakyat Sumatera Utara

Orang tua Beru Ginting Sope Mbelin tinggal di desa Urung Galuh Simale. Ayahnya bernama Ginting Mergana dan ibunya bernama Beru Sembiring. Awalnya kehidupan mereka sangat miskin, tapi berkat kerja keras Ginting Mergana, perlahan-lahan mereka menjadi orang paling kaya di desa. 

Kebahagian dan kekayaan yang diperoleh oleh Ginting Mergana membuat adiknya merasa iri. Diam-diam adik Ginting Mergana meracuni kakaknya hingga mati. Tidak lama sejak Ginting Mergana meninggal, istrinya, Beru Sembiring juga ikut meninggal dunia. 

Tinggallah Beru Ginting Sope Mbelin menjadi anak yatim piatu. Sejak kedua orang tuanya meninggal, paman dan bibinya tinggal di rumah Beru Ginting. Tapi paman dan bibinya itu bukan merawat dirinya, tetapi justru memperbudak Beru Ginting. 

Setiap hari Beru Ginting disuruh bekerja keras mengerjakan pekerjaan rumah tangga, sementara paman dan bibinya bermalas-malasan menikmati harta peninggalan orang tua Beru Ginting. Bahkan Beru Ginting malah akan diusir dari rumahnya. 

Pada suatu hari, paman Beru Ginting mengajak keponakannya itu pergi. Ternyata mereka pergi menuju pantai. Di sana Beru Ginting dijual kepada seorang pedagang yang mempunyai kapal besar.  

Beru Ginting di jual seharga 250 keping uang perak. Setelah berhasil menjual keponakannya itu, paman Beru Ginting pulang secara diam-diam tanpa sepengetahuan Beru Ginting. 

Anehnya ketika Beru Ginting di bawa ke atas kapal, maka kapal tersebut tidak bisa berjalan. Ketika semua penumpang turun termasuk Beru Ginting, kapal tersebut bisa berjalan. Akhirnya Beru Ginting tidak jadi dibawa oleh si pedagang. Ia di tinggal sendirian di pantai. 

Beru Ginting kemudian berjalan tanpa tujuan. Ia berjalan keluar masuk hutan, mengunjungi satu kampung ke kampung yang lain. Hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang wanita tua yang bernama Datu Rubia Gande. 

Datu Rubia Gande mengijinkan Beru Ginting untuk tinggal bersama dengannya. Mereka hidup berdua dengan bahagia hingga Beru Ginting dewasa. Ketika sudah waktunya menikah, Datu Rubia Gande juga mencarikan jodoh yang baik untuk Beru Ginting. 

Seorang pemuda yang senasib dengannya yang bernama Karo Megana, dipilih oleh Datu rubia Gande sebagai suami Beru Ginting. Setelah menikah, Beru Ginting ingin kembali ke desanya. Datu Rubia Gande tidak bisa melarang, maka ia mengijinkan Beru Ginting untuk pulang. 

Ketika sampai di desanya, Beru Ginting di sambut dengan baik oleh teman-teman sepermainannya dulu. Mereka sangat marah kepada paman dan bibi Beru Ginting setelah mendengar cerita dari Beru Ginting. Penduduk desa tersebut kemudian mengadili paman dan bibi Beru Ginting. 

Rumah dan harta milik Beru Ginting diambil secara paksa oleh penduduk desa tersebut dari paman dan bibinya. Sementara itu untuk menebus dosa-dosanya, paman dan bibi Beru Ginting mendapat hukuman, yaitu tubuh mereka di tanam di dalam tanah, hanya kepala mereka saja yang terlihat. Orang-orang yang akan masuk ke dalam rumah wajib menginjak kepala mereka sebagai tangga. 

PESAN: Setiap perbuatan jahat pasti akan mendapat balasan sesuatu hal yang buruk, dan setiap kebaikan akan mendapat balasan sesuatu hal yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar