Senin, 30 Juni 2014

Kucing

Pagi-pagi mau sarapan kok ya sial, ikannya malah diambil kucing.
lha kucingnya juga sial, saking takutnya sama aku dia lari dan ikannya nyemplung ke air, si kucing gak berani ambil.
oalahhhh kucing, ternyata dirimu takut sama air.
"ya iya lah, aku kan gak punya handuk"
beraninya si kucing menjawab tapi kemudian ia kabur.

Kulit Zebra Menjadi Hitam Dan Putih

Cerita Dari Namibia 

Di sebuah padang pasir terdapat sebuah kolam air yang dijaga oleh seekor Babun (monyet di Afrika). Tidak ada seekor binatang pun yang boleh meminum air dari kolam tersebut. 

“Kolam ini milikku.” Begitu Babun selalu berkata jika ada binatang lain yang datang dan ingin meminum air kolam. 

Saat itu bumi sangat panas dan hanya sedikit sekali ada sumber air. Binatang yang melewati padang pasir terpaksa harus menahan haus dan mencari sumber air yang lain. 

Untuk menjaga kolam air miliknya, Babun rela tinggal di tepi kolam dari pagi hingga pagi lagi. Jika malam tiba, Babun membuat api unggun untuk menghangatkan badannya dan melindungi dirinya dari binatang buas. 

Pada suatu hari, datang seekor kuda putih mendekati kolam. Kuda putih itu bernama Zebra. 

“Mau apa kau ke sini?” bentak Babun. Ia berharap Zebra akan takut dan pergi dari kolam seperti binatang yang lainnya. 

Akan tetapi Zebra tidak memperlihatkan rasa takut sedikit pun pada Babun. Zebra malah berjalan semakin mendekati kolam. 

“Hei. Kau tidak tuli bukan?” Teriak Babun marah dengan suara tinggi. 

“Aku haus, jadi aku akan minum air kolam ini.” Jawab Zebra dengan tenang. 

“Kolam ini milikku.” 

“Kolam ini milik siapapun yang melewati padang pasir ini.” Zebra berjalan semakin mendekati kolam. 

Babun terlihat semakin marah, “aku akan menghalangimu.” 

Zebra tetap tidak peduli dengan kata-kata Babun. Ia menundukkan kepalanya ke kolam bersiap akan meminum air kolam. 

“Kau ini memang binatang tak tahu diri.” Babun sangat marah dan menghampiri Zebra. 

Ketika Babun berusaha menarik kaki Zebra, dengan cepat Zebra menendangnya hingga Babun terpental dan pantatnya membentur batu. Sejak saat itu pantat Babun menjadi botak dan berwarna merah. 

Sementara itu Zebra kehilangan keseimbangan ketika menendang Babun. Ia terjatuh di bekas api unggun. Abu api unggun itu membuat kulitnya yang putih bersih menjadi belang-belang hitam dan putih. 

Pesan : Tidak ada gunanya menjadi anak yang serakah, karena anak yang serakah akan dibenci oleh teman-temannya.

HIkayat Bulan Maret

Cerita Dari Bulgaria 

Baba Marta adalah penguasa bulan Maret. Ia mempunyai kakak bernama Sechko Kecil yang menjadi penguasa bulan Pebruari. Jaman dulu, bulan Pebruari mempunyai hari sebanyak 31 hari dan bulan Maret mempunyai jumlah hari 28. Biasanya musim semi datang pada bulan Maret. Di saat inilah para gembala akan membawa domba-domba mereka ke padang rumput di atas bukit supaya bisa makan dengan kenyang. 

Pada suatu ketika, musim semi datang pada awal bulan Pebruari. Ini berarti musim semi datang pada bulan yang dikuasai oleh Sechko Kecil. Padahal selama ini yang menjadi penguasa musim semi sekaligus menjadi penguasa padang rumput adalah Baba Marta. 

Para gembala domba menjadi bingung. Mereka tidak tahu kepada siapa harus meminta ijin agar bisa memasuki padang rumput. Semua gembala juga tahu bahwa Baba Marta adalah seorang yang sulit ditebak. 

“Apakah kami bisa membawa domba kami ke padang rumput, Sechko kecil.” Tanya salah seorang gembala. 

“Aku memang penguasa bulan Pebruari, tapi aku juga tidak mau bertengkar dengan adikku karena padang rumput itu adalah kekuasaannya sejak dulu. Lebih baik kalian menunggu sampai bulan Maret tiba.” Jawab Sechko kecil. 

“Tapi sayang sekali kalau kami melewatkan musim semi sampai sebulan.” Kata gembala yang lain. 

Tapi para gembala itu tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa menunggu sebulan lagi untuk dapat membawa domba mereka ke padang rumput. 

Diantara para gembala itu ada seorang nenek, ia diam-diam membawa dombanya ke padang rumput tanpa meminta ijin pada Baba Marta. 

“Ini masih bulan Pebruari, jadi Baba Marta tidak berkuasa di bulan ini.” Kata nenek gembala sambil berjalan menggiring dombanya ke padang rumput. 

Tanpa sepengetahuan nenek gembala, Baba Marta mendengar ucapannya. Baba Marta marah dan mendatangi kakaknya, Sechko Kecil si penguasa bulan Pebruari. 

“Aku ke sini untuk meminjam tiga hari milkmu agar aku bisa memberi pelajaran kepada nenek gembala yang tidak patuh.” 

Dengan tiga hari pemberian kakaknya, Baba Marta kemudian meniupkan angin kencang ke arah padang rumput. Angin itu membuat semua domba yang ada di sana mati termasuk nenek gembala. 

Sejak saat itu bulan Pebruari hanya mempunyai 28 hari dan bulan Maret mempunyai hari sebanyak 31 hari. 

Pesan : Patuhilah peraturan yang ada karena jika kalian melanggar peraturan pasti akan mendapat hukuman baik secara langsung maupun tidak langsung.

Minggu, 29 Juni 2014

Menjadi Penulis Sejak Kecil

Judul: Aku mau jadi penulis 

Penulis: Askalin 

Penerbit: Grasindo 

Jumlah halaman: 110 halaman 

Terbit: 2013 

ISBN : 978-602-251-206-6 

Harga :Rp 60.000  

Berlatih menulis bisa dilakukan sejak kecil . Banyak membaca adalah salah satu keharusan bagi calon penulis. Membaca akan melatih imajinasi. Membaca juga akan memperkaya pengetahuan serta memperkaya kosa kata. 

Selain membaca apalagi yang harus dilakukan untuk bisa menjadi seorang penulis? Tentu saja kita harus menulis jika ingin menjadi penulis. Untuk bisa menulis yang baik sebaiknya kita harus tahu jenis-jenis tulisan, memahami tanda baca, hingga menyunting tulisan. Bahkan kita juga harus tahu bagaimana mengirim tulisan kita ke media. 

Di dalam buku ini juga diberikan cara menulis berbagai jenis tulisan. Mulai dari menulis buku harian, menulis cerita, menulis puisi bahkan menulis resensi buku. Kalian juga bisa mendapatkan tips serta kiat menjadi calon penulis hingga siap menjadi penulis.
This entry was posted in

Menjadi Lebih Tangguh dan Percaya Diri Di Peternakan Kakek Ars


Judul: Bo Dan Kawan-Kawan di Peternakan Kakek Ars 

Penulis: Agnes Bemoe 

Illustrator: Inner Child 

Penerbit: Bhuana Ilmu Populer (BIP) 

Jumlah halaman: 158 halaman 

Ukuran: 21 X 29cm 

Terbit: 6 Juni 2014 

ISBN 10: 602-249-623-3 

ISBN 13: 978-602-249-623-6 

Harga :Rp. 125.000  

“Huh!Mana ada permainan yang bisa kumainkan!” Jawab Penny dengan ketus. Penny adalah seekor burung kutilang. Ia terlahir buta, sehingga Penny tidak pernah bisa melihat indahnya dunia juga teman-temannya di peternakan sejak kecil. Untunglah ada Bo, seekor sapi yang baik hati di peternakan Kakek Ars. Ia selalu bisa membuat sahabat-sahabat lainnya bahagia dan percaya diri. 

Selain Penny masih ada Angelina yang selalu diejek “gendut” oleh teman-temannya. Ada juga Okta yang seringkali sakit hati dan marah ketika teman-temannya menuduh dirinya sebagai pencuri. 

Lalu bagaimana Bo si Sapi yang baik hati bisa merubah teman-temannya menjadi binatang yang tangguh dan percaya diri? Ikuti delapan cerita binatang di peternakan kakek Ars dalam buku ini.
This entry was posted in

Mencari Biji Ajaib di 15 Negara

Judul: Areta dan 15 Perayaan Dunia 

Penulis: Dian Meliantari Dkk 

Penerbit:DAR Mizan 

Jumlah halaman: 112 halaman 

Terbit: 2013 

ISBN : 978-602-242-291-4 

Harga :Rp 49.000 

Siapapun pasti akan suka singgah di Negeri Hijau. Di sana juga banyak satwa yang singgah. Namun sayangnya para penebang liar telah menghancuran hutan hijau. Bukit hijau menjadi gundul. Longsor dan banjir terjadi di seluruh negeri. 

Sebagai puteri raja, Areta harus membangun kembali negerinya. Ia pun harus mengumpulkan 15 biji untuk menghijaukan kembali negerinya. Areta harus berkeliling dunia untuk mendatangi perayaan yang ada di penjuru dunia. Dari setiap perayaan itu Areta akan mendapatkan satu buah biji. 

Ikuti perjalanan Areta ke 15 negara di dunia. Diantaranya festival Lemon di Menton Perancis. Ada juga Tomatina di Bunol Spanyol serta festival Labu di Ludwiqsburg Jerman.
This entry was posted in

Gadis Korek Api

Cerita Dari Denmark 


Musim dingin selalu mengiringi natal. Salju berada di seluruh penjuru kota. Udara dingin disertai angin dingin menyelimuti kota. Orang-orang lalu lalang ke toko mainan, toko roti, toko pakaian dan entah kemana lagi. 

Semuanya riang gembira menyambut natal. Pohon-pohon cemara buatan di pasang disemua tempat dengan dihiasi lampu-lampu terang dan hiasan yang bergelantungan. Orang tua dengan baju Sinterklas ada disebagian besar toko dengan setumpuk hadiah yang akan dibagikan kepada anak-anak pengunjung toko. 

Namun dibalik semua keindahan natal itu, ada seorang anak kecil yang membawa sekeranjang penuh korek api untuk ia tawarkan pada siapapun yang lewat dijalan. 

“Apakah anda mau membeli korek api tuan?” tanya anak kecil itu sambil menyodorkan sebungkus besar korek api kepada seorang laki-laki yang berllalu di depannya. 

“Tidak, aku sangat buru-buru.” Jawab lelaki itu kemudian berlalu tanpa menengok sedikitpun anak kecil tersebut. 

Anak kecil itu terus mencoba menawarkan korek apinya kepada setiap orang yang ditemuinya sambil berjalan menyusuri trotoar. Disepanjang jalan ia mencium bau harum kalkun panggang dan juga roti. Perutnya terasa sangat lapar, tapi ia tidak mempunyai uang sedikit pun untuk membeli makanan. Belum ada satu pun korek apinya yang terjual. 

Tapi anak kecil itu pantang menyerah, “Anda pasti memerlukan korek api ini nyonya.” 

Anak kecil itu kembali menawarkan sekotak besar korek api kepada seorang nyonya gemuk yang memakia jaket bulu yang sangat tebal. Namun sayang rupanya nyonya itu sangat terburu-buru hingga ia menyenggol anak kecil tersebut dengan sangat keras. Anak kecil itu terjatuh dan seluruhkorek api yang berada dalam keranjangnya trejatuh berhamburan. Nyonya itu hanya berhenti sebentar untuk minta maaf. 

“Maaf, aku terburu-buru.” Nyonya itu langsung pergi dengan langkah yang sangat cepat. 

Tinggallah sekarang anak kecil itu memunguti korek api yang sudah bisa ia jual lagi. Habis sudah harapannya untuk mendapatkan uang dimalam natal ini. Ia kemudian berjalan ke depan sebuah ruko yang sudah tutup. Anak kecil itu sangat kedinginan karena jaket yang ia pakai pun sudah tipis dan berlubang di sana-sini. 

Anak kecil itu mencoba menyalakan korek api yang ia kumpulkan tadi. Api kecil yang keluar mampu sedikit menghangatkan tubuhnya. Ia memandangi api yang menyala dengan seksama. Anak itu melihat ada kalkun panggang yang sangat lezat di sana. Begitu tangannya akan menyentuh kalkun itu, tiba-tiba apinya padam. 

Satu lagi korek api ia nyalakan, kali ini ia melihat sebuah pohon terang dan neneknya yang sudah meninggal datang dari balik pohon terang itu. 

“Nenek,” sapa anak kecil itu. 

Ia terlihat nampak sangat bahagia. “Aku sangat rindu pada nenek.” 

“Nenek pun rindu cucuku.” 

"Aku kesepian dan takut berada di sini sendiri nek.” 

“KAlau begitu ikutlah aku.” 

Sayangnya api dari korek api yang dinyalakan anak kecil itu sudah padam sehingga bayagan nenek menghilang. Anak kecil itu berusaha menyalakan sebuah kore apai lagi, namun kali ini ia mengalami kesulitan. Korek api yang berhamburan di jalan tadi sebagian besar basah sehingga ia harus mencobanya satu persatu. Ratusan korek api sudah di coba anak kecil itu, kini tubuhnya menggigil kedinginan. Untunglah masih tersisa sebuah korek yang masih bisa menyala. 

Kali ini anak kecil itu melihat bayangan ibunya yang datang dengan sayap putih. 

“Ikutlah terbang bersama ibu anakku.” 

“Ke mana bu?” 

“Ketempat yang hangat dengan banyak makanan dan sangat terang dengan cahaya pohon natal.” Anak kecil itu kemudian digandeng oleh ibunya. Mereka berdua terbang kelangit dengan penuh kebahagiaan. 

Keesokan harinya, anak kecil itu ditemukan dalam keadaan membeku di depan sebuah toko. Ia meninggal karena kedinginan dan kelaparan di malam natal ketika orang-orang bergembira dan merayakannya dengan makanan yang berlimpah di setiap rumah. 

PESAN Pedulilah pada orang-orang disekitarmu, siapa tahu mereka ada yang sangat memerlukan pertolongan kita.

Legenda Air Terjun Niaga

Cerita Dari Amerika Serikat 


Dulu ada seorang gadis yang baru saja ditinggal mati oleh kedua orang tuanya. Gadis itu sangat sedih dan ingin menyusul kedua orang tuanya yang mati karena hanyut terbawa arus sungai. 

Dengan sebuah kano (perahu kecil dari kayu) gadis itu menuju ke arah air terjun Niagara. Tapi sebelum kano yang ditumpangi gadis itu terjatuh dari air terjun Niagara, Dewa Petir berhasil menyelamatkannya. 

Dewa Petir membawa gadis itu ke rumahnya di balik air terjun Niagara. Gadis itu kemudian ia beri nama “Gadis Kabut”. Sejak saat itu orang-orang di desa mengenal Gadis Kabut sebagai anak Dewa Petir. 

Pada suatu hari Gadis Kabut datang ke desa dan mengabarkan sebuah berita, “kalian harus segera pergi dari desa ini. Besok seekor ular besar akan kemari, ia sedang lapar dan akan memangsa kalian semua.” 

Penduduk desa segera bersiap-siap dan mengungsi ke sebuah bukit yang tinggi. Keesokan paginya seekor ular besar benar-benar datang ke desa. Ular itu sangat marah karena sudah tidak ada seorang pun di desa itu. 

Melihat ular besar itu mengamuk dan merusak desa, Dewa Petir segera datang. Dengan kekuatan petirnya, Dewa Petir berhasil membunuh ular besar tersebut. Tubuh ular besar itu jatuh ke air terjun Niagara dan menimpa rumah Dewa Petir. 

Sejak saat itu Dewa Petir dan Gadis Kabut membuat rumah di awan. Di sana mereka hidup bahagia. Tapi sekali waktu Dewa Petir dan Gadis Kabut melihat bekas rumah mereka. Itu sebabnya sampai sekarang, masih sering terdengar suara petir di air terjun Niagara. 

Pesan : Berbuat baiklah kepada orang-orang yang tinggal di sekitar rumah kita, karena saudara terdekat kita yang sebenarnya adalah tetangga kita.

Cerita Di Makam Dewi Sartika


Ini adalah ceritaku ketika berkunjung ke makam Dewi Sartika di Bandung. Aku sendiri baru tahu kalau makam Dewi Sartika ternyata berada di Bandung ketika searching tempat-tempat wisata disekitar hotel tempatku menginap. Saat itu aku menginap di Hotel Gino Feruci Kebon Jati. 


Tidak banyak orang tahu tentang keberadaan makam Dewi Sartika ini. Untunglah aku bertemu dengan seorang tukang becak yang sudah tua namun masih kuat mengayuh becak. Ia membawaku mengunjungi Kelenteng kemudian ke makam Dewi Sartika. 

Dewi Sartika adalah tokoh perintis pendidikan bagi kaum wanita di Bandung. Ia pernah mendirikan sekolah istri atau yang dikenal sebagai Sakola Istri di beberapa wilayah Jawa Barat. Atas jasanya tersebut Dewi Sartika diberikan penghargaan oleh pemerintah Indonesia sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui SK Presiden No. 252 tahun 1966. 


Makam Dewi Sartika terletak di Jalan Karang Anyar Astana Anyar Bandung. Dari stasiun Kereta Api Bandung, kita bisa naik becak dengan biaya sekitar Rp 20.000. Sebenarnya bisa juga naik angkot karena ada angkot yang lewat di depan makam, cuma aku gak tahu jalurnya. 


Kalau naik kendaraan pribadi, setelah melewati jalan Gardu Jati dan jalan Cibadak masuk ke jalan Pejagalan. Sekitar 500 meter dari Jalan Pejagalan kita harus belok kiri masuk  ke jalan Karang Anyar. Di sebelah kiri kita akan menemukan pintu gerbang makam yang khas. 

Di makam ini ada papan petunjuk "Situs Makam Bupati Bandung". Karena tempat ini sebenarnya adalah makam keluarga Bupati Bandung, maka makam ini juga dikenal sebagai "Makam Ageng". 

Makam ini tidak begitu luas karena luas keseluruhan hanyalah 2.999 m2. Ada 10 juru kunci yang mengurus makam ini yaitu enam jurus kunci wanita dan 4 juru kunci laki-laki.  Itu sebabnya makam ini selalu terlihat bersih dan rapi. 

Sebenarnya makam ini adalah makam keluarga, jadi tidak dibuka untuk umum. Kalau kita ingin berziarah ke Makam Dewi Sartika maka kita harus meminta ijin dahulu pada juru kunci yang mengurusi makam ini. 

Di kompleks pemakaman ini, makam Dewi Sartika berada di tepi kiri jalan masuk. Di sisi kanan jalan masuk ada makam suami Dewi Sartika yang bernama Raden Kanduruan Agah Suriawinata. 

Di Kompleks pemakaman ini juga ada makam Dr. Hasan Sadikin yang merupakan adik kandung dari mantan Gubernur DKI Ali Sadikin. Nama Dr. Hasan Sadikin diabadikan sebagai nama RSU di Bandung. 

Makam para Bupati Bandung berada di bangunan induk menyerupai pendopo. Ada sekitar  40 makam lengkap dengan potret orang yang dimakamkan di bangunan induk ini. Diantaranya makam Bupati Bandung keturunan Raden Adipati Wiranata Kusumah. 

Dalam pendopo tersebut juga terdapat makam ayah dan ibu Dewi Sartika. Ayah Dewi Sartika bernama Raden Somanegara sedangkan ibunya bernama Nyi Raden Rajapermas. 

Dewi Sartika wafat di Tasikmalaya dalam usia 62 tahun tepatnya pada tanggal 11 September 1947. Setelah meninggal Dewi Sartika dimakamkan di pemakaman Cigagadon Desa Rahayu Kecamatan Cineam. Tiga tahun kemudian makam Dewi Sartika dipindahkan ke kompleks pemakaman Bupati Bandung. 


Berburu Kuliner Di Palu

Pagi yang cerah di Palu aku awali dengan menyusuri Pantai Talise. Taman di tepi pantai Talise terasa sangat nyaman sebagai tempat menikmati sejuknya angin laut di pagi hari. Dari bangku beton yang tersedia kita bisa memandang pegunungan yang ada di seberang sana. Begitu juga dengan jembatan 3 yang menjadi ikon kota Palu. Sayangnya berada di Pantai ini tidak bisa berlama-lama. Ketika matahari sudah mulai bergerak dari ujung laut menuju ke atas langit maka sinarnya terasa menyengat. Padahal hari belum begitu siang. Saatnya mencari sarapan ringan khas Palu. 

Jajanan di Pasar Lama. 

Tidak perlu waktu lama untuk sampai ke pasar lama dari pantai Talise. Ada angkutan umum semacam angkot yang bisa membawa kita dari Pantai Talise ke Pasar Lama. Angkutan umum di sini akan mengantar kita sampai ke tujuan, jadi kita tidak perlu berganti-ganti angkutan umum untuk sampai ke tempat tertentu. Tapi memang perlu kesabaran lebih karena kita akan diajak berkeliling mengantarkan penumpang lain ke tujuan mereka masing-masing.


Pasar lama merupakan pasar pertama yang ada di Palu. Pasar ini sudah berdiri sejak Palu masih masuk dalam wilayah kabupaten Donggala. Sekarang Palu menjadi wilayah dari Kota Administratif Palu. Di sini masih banyak terdapat jajanan tradisional khas Palu. 

Jangan heran kalau di Palu kita akan menjumpai makanan yang mirip dengan makanan dari Makasar. Ini karena selain tempatnya berdekatan, orang-orang Sulawesi Tengah memang sejak jaman dulu mempunyai hubungan persaudaraan dnegan orang-orang di Sulawesi Selatan. 

Di pasar lama ini kita bisa menjumpai burasa yang merupakan singkatan dari “beras ada rasa”. Burasa dibuat dari beras yang dicampur dengan santan dan dibumbui dnegan garam kemudian dibungkus dengan daun pisang. Perebusan burasa dilakukan selama 4 jam agar bisa tahan lama. Biasanya burasa ini bisa tahan 3-7 hari. 

Di pasar lama ini burasa dijual seharga Rp 3.000/ bungkus. Dalam satu bungkus terdapat 3 kepeng burasa. Pedagang burasa di pasar lama menyediakan sambal tomat juga sambal duo sole sebagai pilihan untuk makan burasa. 

Di tempat lain ada juga yang menjual burasa yang ukurannya lebih besar. Burasa ini berisi 7 kepeng dalam setiap bungkusnya. Selain dimakan dengan sambal, burasa juga seringkali dimakan dengan kari, mie kuah juga baso. 

Selain buras di sini kita bisa menjumpai tukang kue tradisional. Ada kue broncong yang dimasak diatas kayu bakar dalam cetakan kue pukis. Kue broncong ini dibuat dari adonan berupa campuran terigu, kelapa muda, gula dan diberi ragi sebagai pengembangnya . Kue ini dijual dengan harga Rp 500/ buah. Pedagang kue broncong ini berada di tepi jalan dekat jalan masuk menuju ke dalam pasar lama. Ibu-ibu setengah baya ini mulai memasak kue broncongnya di dalam gerobaknya sejak pukul 7 pagi hingga 11 atau 12 siang.  

Yang tidak kalah enak adalah kue paranggi atau disebut juga bolu gula merah. Kue ini berbentuk setengah lingkaran mirip kue apem kalau di Jawa. Bahan yang digunakan untuk membuat kue paranggi adalah terigu, gula merah, minyak dan soda kue. Kue yang dominan dengan rasa manis ini dimasak dengan cara di oven sehingga bisa tahan hingga 1 minggu. 

Hidangan Khas Kaili 

Makanan khas Palu disebut juga dengan masakan Kaili. Ada satu warung makan yang khusus menjual masakan khas Kaili. Warung makan ini terletak tidak jauh dari pantai Lere tepatnya di Jalan Tembang. Kita bisa datang ke sini mulai pukul 10 pagi hingga sore hari. 

Warung makan yang berdiri sejak tahun 2004 ini menyediakan menu khas seperti palumara, sayur kelor, nasi jagung, ikan bakar serta wempoi. Masakan khas Kaili dominan rasa asam serta pedas yang berasal dari cabe rawit. Yang unik adalah pada sayur kelor dan wempoy. Kalau di Jawa daun kelor biasanya digunakan untuk bahan campuran pada air yang digunakan untuk memandikan mayat. Namun di Palu, daun kelor menjadi bahan utama sayur. Selain daun kelor, di dalam sayur ini juga ada pisang muda yang diiris tipis-tipis. 

Wempoi adalah sebutan lain dari sayur asem di Palu. We berarti air sedangkan poi artinya asam, jadi wempoi berarti air asam atau sayur asam. Dalam satu mangkuk wempoi kita bisa menjumpai okra, potongan labu siam dan jantung pisang. Rasa asam yang ada pada Wempoi ini berasal dari air asam. Sedangkan jantung pisang akan dimasak secara terpisah untuk menghindari warna hitam pada bahan lainnya. Setelah matang barulah jantung pisang dicampur dengan bahan lainnya termasuk air asam. 

Aneka cara menikmati Kaledo 

Di jalan Diponegoro Palu ada beberapa warung Kaledo yang telah ada sejak tahun 1970. Diantaranya depot 77 dan warung abadi. Kaledo adalah tulang sumsum yang disajikan bersama kuah asam pedas. Dalam setiap mangkuk kaledo pasti terdapat tulang sumsum sapi. Namun jika kita memesan kaledo talang, maka yang ada di dalam mangkuk hanyalah kuah asam pedas yang berisi potongan daging tanpa tulang sumsum. Kita juga bisa memilih isi yang ada dalam mangkuk kaledo selain tulang sumsum. Beberapa pilihan yang bisa dipilih adalah kikil, daging atau campuran kikil dan daging. 


Sumsum yang ada di dalam tulang dimakan dnegan cara menyedotnya dengan sedotan berlubang besar. Makan kaledo haruslah panas-panas karena jika dinginmaka sumsum yang ada di dalam tulang akan mengental dan tidak bisa dimakan dengan sedotan. Kalau sudah demikian satu-satunya jalan adalah mengambilnya dengan gagang sendok. Kaledo dini disajikan bersama nasi putih atau singkong rebus. 

Berburu Oleh-oleh khas Palu 


Sebelum meninggalkan kota Palu, kita bisa mampir ke jalan Veteran atau pun jalan Sersan Jupri untuk membeli oleh-oleh. Sebenarnya oleh-oleh khas Palu adalah bawang goreng. Tempat membeli bawang goreng khas Palu adalah toko bawang goreng Mbok Siti yang ada di belakang kantor Dinas Pertanian Palu. Selain bawang goreng kita bisa membeli kue kering tradisional khas Palu. Seperti kue bagea, kacang dipa, kue kurma, atau kue pia. 

Tulisan ini pernah dimuat di Reader Digest edisi April 2014 pada kolom Kartu Pos

Menikmati Bogor Di Hotel Pajajaran Suites


Hari Rabu siang tangal 18 Juni 2014 aku berangkat ke Bogor. Karena hari sudah siang dan memburu waktu agar tidak terlambat tiba di Bogor, akhirnya aku memilih untuk naik kereta commuterline menuju Bogor dari stasiun Kramat Sentiong yang jaraknya cuma sejengkal dari rumah. 

Perjalanan ke Bogor aku tempuh selama kurang lebih 1,5 jam.
Sampai di stasiun ojek jadi pilihan tunggal karena aku sudah sangat terlambat. Dengan membayar Rp 20.000 tukang ojek mengantarku ke Pajajaran Suites Hotel Bogor dalam waktu tidak lebih dari 10 menit. 

Ternyata sampai di hotel acara sudah dimulai. Tapi karena aku masih memakai kostum casual, akhirnya aku putuskan untuk mengambil kunci kamar dan mengganti pakaian dengan baju semi resmi. Aku mendapatkan kamar 711 yang berada di lantai paling atas yaitu lantai 7. 
Kesan pertama memasuki kamar sangat menyenangkan. Aku bisa melihat pemandangan kota Bogor dari kamar. Kamarnya juga tida terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Jadi sangat nyaman. Tidak berlama-lama di dalam kamar, setelah ganti baju aku langsung ke ruangan meeting. 

Di depan lift tersedia kursi yang nyaman, sehingga aku tidak perlu capek berdiri. Ternyata ada banyak ruangan meeting di hotel ini. Aku sedikit bingung menemukan ruangan tempat acaraku berlangsung. Namun staf hotel yang ramah menunjukkan sekaligus mengantarku hingga di depan ruangan meeting. 

Di hotel ini aku akan menginap selama 3 hari 2 malam. Ada acara penilaian proposal dana bantuan sosial yang diselenggarakan oleh Direktorat PKLK kemendikbud. Tidak banyak orang yang ada dalam ruangan meeting. Hanya sekitar 30 orang saja yang semuanya bertugas menilai kelayakan proposa. 


Sambil menikmati kopi dan snack sore, aku pun terinspirasi mengerjakan penilaian proposal di tepi kolam renang. Kolam di sini sangat unik. Letaknya di atas dan dari sini kita bisa melihat pemandangan di bawahnya. 

Makan pagi, siang dan malam sangat variatif dan enak. Bahkan aku terkesan dengan hidangan ala sunda yaitu sayur asem, ikan asin dan sambel lalapan yang dihidangkan pada hari kedua. Tempat makannya juga tidak kalah menarik dengan kolam renang. Dari tempat makan ini kita bisa melihat pemandangan empang dan sawah di bawahnya. Selain itu juga ada kolam kecil di tepi tempat makan yang berisi ikan koi besar-besar. 

Aku bisa melihat matahari terbit dan indahnya kota bogor di pagi hari ketika bangun tidur. Begitu juga pada malam hari, lampu-lampu kota yang berkelap-kelip bisa terlihat dengan indah. Di kamar mandi tersedia shampo dan sabun dalam wadah yang menempel di tembok dekat shower. Jadi kita bisa memakai shampo dan sabun cair sesuai dengan yang kita perlukan. 

Setiap kali aku kembali ke ruangan setelah istirahat, sudah tersedia air mineral yang baru di atas meja. Bahkan pada hari kedua kami diberikan compliment berupa jus buah segar dalam botol plastik. Ini adalah hal yang belum pernah aku temui ketika meeting di hotel lain. 

Karena hotel ini letaknya di dalam kota, maka pada malam hari kita bisa menikmati berbagai pilihan warung tenda di sekitar jalan Pajajaran. Selain itu kita juga bisa ke Mall Jambu Dua yang letaknya tidak begitu jauh dari hotel.  Walaupun hotel ini lebih cocok untuk meeting, tapi suatu hari nanti aku berencana kembali menginap di sini jika ke Bogor bersama keluarga. 
This entry was posted in

Menjual Keledai

Cerita Dari Kamboja 

Ada seorang petani bernama Khek, ia hidup berdua dengan anaknya. Khek juga mempunyai seekor keledai yang gemuk. Khek dan anaknya telah merawat keledai mereka sejak keledai itu masih sangat kecil. Sekarang keledai itu sudah besar. 

Karena Khek tidak begitu membutuhkan keledai untuk membantu pekerjaannya, maka ia berniat untuk menjual keledai itu. Bersama dengan anaknya, Khek berangkat ke pasar pagi-pagi sekali. 

Sebelum berangkat Khek berkata, “Keledai ini sangat bagus, pasti harganya akan tinggi kalau dijual. Tapi kalau kita naiki berdua, aku takut keledai ini akan lelah dan terlihat jelek, nanti pedagang di pasar akan menawar dengan harga rendah. Jadi lebih baik aku panggul saja keledai ini sampai pasar.” 

Perbuatan Khek ini justru membuat orang-orang yang ditemuinya di jalan menertawakan dirinya . 

“Khek, sejak kapan kau menjadi orang yang bodoh seperti ini. Keledai itu seharusnya kau naiki bukannya kau panggul seperti itu.” Kata salah seorang teman Khek yang bertemu di jalan. 

Karena merasa tidak nyaman, akhirnya anak Khek berkata,” Pak, benar juga kata orang itu, keledai ini lebih baik kita naiki saja. “ 

 “Tapi kalau kita naiki berdua, pasti keledai ini akan kelelahan, jadi lebih baik kau saja yang naik.” Jawab Khek 

Akhirnya Khek menurunkan keledai itu. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke pasar. Keledai itu dinaiki oleh anaknya, sedangkan Khek berjalan disampingnya. 

Belum begitu jauh keduanya berjalan, mereka bertemu dengan teman Khek yang berkata,”Kalian ini seharusnya naik keledai itu berdua. Kau nampak seperti budak anakmu,Khek.” 

Maka Khek pun menuruti saran temannya tadi. Ia pun ikut menaiki keledai. Baru beberapa meter, Khek kembali bertemu dengan temannya yang lain. 

”Kau mau ke mana Khek?” sapa temannya 

“Mau ke pasar, menjual keledai ini.” 

“Kau ini bodoh sekali Khek, keledai mau kau jual malah kau naiki. Nanti keledai itu pasti kelelahan dan harganya akan menjadi murah karena nampak kurus dan jelek. Seharusnya kau tuntun saja.” 

“Benar juga,” pikir Khek. 

Kemudian Khek dan anaknya turun. Keduanya menuntun keledai itu sampai di pasar. 

Pesan : Ada banyak saran yang diberikan oleh orang lain kepada kita, namun tidak semua saran itu baik, jadi kita harus bisa memilih mana saran yang bermanfaat dan mana yang tidak.

Sabtu, 28 Juni 2014

Ke Kantor Abra Resto Bersama Vivalog



Jalan-jalan kali ini ke kantor Abra Resto di jalan Sultan Agung No.7 Setiabudi Jakarta Selatan. Walaupun namanya Abra resto, tapi ini bukan sebuah restoran. Abra resto adalah situs panduan kuliner yang bisa diakses melalui Google Play, Android maupun BlackBerry 10. 


Kali ini vivalog mengadakan gathering dengan para blogger sekaligus memperkenalkan situs abra resto. Selain silaturahmi, gathering kali ini juga membicarakan tentang bagaimana mengoptimasi blog juga menaikkan traffic blog melalui vivalog. 

Gathering kali ini berlangsung sangat santai dan penuh keakraban. Dari perwakilan Abra resto juga menjelaskan bagaimana menggunakan aplikasi yang ada di Android serta BlackBerry 10 untuk mencari tempat makan di Jakarta. 

Di akhir acara para blogger dibagikan voucher MAP dari Vivalog dan voucher makan dari Abraresto. Dengan voucher ini para blogger bisa menggunakannya untuk makan dan mereview tempat makan yang dikunjungi. Senangnya bisa makan dan belanja gratis untuk mengisi postingan di blog.  



52 Ribu Sehari Lewat Vivalog

Awalnya aku agak ragu membuat blog yang berisi bacaan untuk anak-anak dan orang tua yang mendampinginya. Apa mungkin blog seperti ini bisa mendapatkan banyak pengunjung? Biasanya blog yang mendapat banyak pengunjung adalah blog yang berisi tutorial, misteri, kesehatan juga wisata dan kuliner.

Tapi karena passionku memang pada bacaan untuk anak-anak dan orang tuanya, jadilah blog buku anak ini tetap jadi pilihan utama. Pengalaman dari blog travelingku yang lebih dulu aku buat, maka strategi untuk menaikkan traffic tentunya aku akan submit tulisan di blog ku untuk bisa dipublish di vivalog. 

Setelah mempelajari "sedikit" tentang tulisan yang ada di vivalog, akhirnya aku memutuskan untuk submit tulisanku pada kategori sastra, budaya serta sejarah. Pada bulan-bulan pertama posting tulisan di blog aku belum berani submit tulisan ke vivalog. Baru setelah bulan ke-3 aku berani submit tulisan ke vivalog. Hasilnya sangat memuaskan, traffic yang aku dapat berkisar antara 1000-3000 per hari. 


Hingga pada bulan ke-5 aku semakin sering submit ke vivalog. Tepatnya pada tanggal 2 Juni 2014, saat itu aku submit tulisan yang berjudul "Legenda Batu Gantung". Belum sampai 10 menit jumlah tayangan blogku sudah mencapai 3.000. Semakin lama semakin bertambah hingga keesokan harinya aku bisa melihat total tayangan blog dalam sehari adalah lebih dari 52.387 tayangan. 

Sampai sekarang aku masih selalu submit beberapa tulisan dari blogku ke vivalog. Ya walaupun tidak setiap hari, tapi jumlah tayangan di blogku setidak lebih dari 1000 setiap harinya. 



Kisah Putri Bambu

Cerita Dari Jepang 

Di sebuah desa di Jepang, tinggal sepasang suami istri petani. Mereka berdua sudah menikah cukup lama, namun belum juga dikaruniai seorang anak, bahkan hingga usia keduanya sudah tua. Namun kedua kakek dan nenek petani ini tidak pernah berhenti berdoa. Keduanya selalu memohon pada tuhan siang dan malam agar diberikan seorang anak. 

Pada suatu hari si kakek pergi ke ladang seperti biasanya. Ketika ia melewati kebun bambu, tiba-tiba terdengar tangis bayi. Kakek itu berhenti sejenak mencari-cari dimana asal suara tangisan tadi. Satu persatu ia memeriksa rumpun bambu yang ada di sana, hingga akhirnya ia menemukan sebuah batang bambu besar. Dari batang bambu itulah rupanya asal suara tangis bayi tersebut. 

Dengan hati-hati kakek itu memotong batang bambu dan membelahnya. Betapa kagetnya si kakek ketika di dalam batang bambu itu ia temukan seorang bayi mungil yang sangat cantik. Dengan perasaan gembira, ia pun kemudian pulang ke rumah untuk segera memperlihatkan bayi yang ia temukan itu kepada istrinya. 

Kakek dan nenek petani itu menamakan bayi yang ia temukan tersebut dengan nama “Putri Bambu”. Mereka membesarkan Putri Bambu dengan penuh kasih sayang hingga Putri Bambu tumbuh menjadi seorang wanita dewasa yang cantik dan baik hatinya. 

Kecantikan dan kebaikan Putri BAmbu kemudian tersebar kemana-mana. Tidak hanya di negerinya, tapi juga ke negeri tetangga. Hingga akhirnya ada lima pangeran dari lima negeri yang datang ingin melamar Putri BAmbu menjadi permaisurinya. Namun sebenarnya Putri BAmbu tidak ingin menikah, ia ingin mengabdikan hidupnya untuk kedua orangtuanya yang sudah tua. 

Untuk menolak secara halus, maka Putri Bambu mengajukan syarat yang sangat tidak mungkin dipenuhi kepada kelima pangeran yang datang. Kepada pangeran pertama, ia meminta mangkuk batu besar milik Sang Budha yang berada di India. Pangeran kedua diminta untuk membawakan batang pohon emas yang hanya tumbuh di Gunung Horai. PAngeran ketiga harus membuat seutas tali yang panjang dengan bahan kulit tikus api. Pangeran keempat diminta untuk membawakan kalung yang dipakai oleh naga laut. 

Sedangkan pangeran kelima harus mendapatkan kulit kacang yang tersimpan di sarang burung layang-layang. Kelima pangeran itu kemudian berusaha untuk memenuhi permintaan Putri Bambu, namun tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil. 

Putri Bambu kemudian merawat kedua orang tuanya hingga si nenek meninggal. Beberapa bulan kemudian si kakek menyusul istrinya. Putri BAmbu tentu saja sangat sedih. Hingga pada suatu malam disaat bulan purnama bersinar penuh, sebuah kabut putih muncul dari gunung Fujiyama yang kemudian membentuk sebuah jembatan yang menghubungkan bumi dan bulan. Beberapa bayangan putih melewati jembatan tersebut dan menjemput Putri Bambu untuk dibawa ke bulan. 

Pesan 
Kita bisa mencontoh perbuatan baik Putri Bambu, yang dibesarkan dengan kasih sayang, maka ia rela berkorban apapun, demi bisa membalas kebaikan hati kakek dan nenek yang telah membesarkannya menjadi seorang anak yang baik budi.

Jumat, 27 Juni 2014

Kura-kura Hidup Di Air

Cerita Dari Afrika Barat

Pada jaman dahulu kura-kura hidup di darat bersama dengan manusia dan binatang lain. Awalnya kehidupan kura-kura di darat aman-aman saja. Tapi setelah manusia tahu bahwa daging kura-kura sangat enak untuk dimakan, maka kehidupan kura-kura menjadi terancam. 

Pada suatu hari seekor kura-kura besar tertangkap oleh manusia. Kura-kura itu kemudian dibawa ke perkampungan manusia untuk dibuat kura-kura bakar. Dalam perjalanan menuju perkampungan manusia kura-kura tetap tenang dan memikirkan bagaimana caranya untuk bisa membebaskan diri. Ketika sudah sampai di perkampungan manusia, Kura-kura itu diletakkan dihadapan Kepala Suku. 

“Ambil kayu untuk memecah tempurung Kura-kura ini.” Perintah Kepala Suku kepada salah satu pengawalnya. 

Tiba-tiba Kura-kura mengeluarkan kepalanya dan berkata, “ itu akan sia-sia saja Kepala Suku. Tempurungku ini sangat keras, nanti kayu itu yang akan patah.” 

Kepala Suku berpikir sebentar, kemudian ia memberi perintah lagi kepada pengawalnya, “kalau begitu ambilkan saja besi untuk memecahkan tempurung Kura-kura ini.” 

“Itu akan lebih berbahaya Kepala Suku. Tempurungku lebih keras dari pada besi. Jadi kalau kamu memaksakan untuk memukul tempurungku dengan besi, maka besi itu akan terpental dan akan terlempar ke arah kalian semua. “ 

“Benar juga.” Kata Kepala Suku dalam hati. 

“Kalau begitu bagaimana caranya kami mengeluarkan dagingmu dari tempurung itu?” tanya Kepala Suku kepada Kura-kura. 

"Itu sangat mudah. Lemparkan saja aku ke sungai. Aku pasti akan membentur batu besar yang ada di dasar sungai. Kalau sudah begitu tempurungku pasti akan hancur dan dagingku akan mengambang di atas air. Nanti kalian bisa mengambilnya.” Jawab Kura-kura. 

“Itu ide yang bagus. Lemparkan Kura-kura itu ke sungai.” Teriak Kepala Suku memberi perintah kepada pengawalnya. 

Kepala Suku dan pengawalnya tidak tahu bahwa Kura-kura bisa berenang di dalam air. Maka mereka menurut saja membawa Kura-kura ke pinggir sungai dan melemparkannya. 

“Terima kasih karena kalian telah membebaskanku kembali.” Kata Kura-kura dari dalam sungai kemudian menyelam ke dalam air. 

Semua orang yang berada di pinggir sungai menjadi sadar bahwa mereka telah dibohongi oleh Kura-kura. Sejak saat itu Kura-kura dan keturunannya memutuskan untuk hidup di dalam air karena mereka takut akan ditangkap oleh manusia. 

Pesan : Tenanglah ketika sedang menghadapi kesulitan sehingga bisa berpikir untuk mencari jalan keluar yang terbaik.

Warna-Warni Dalam Semangkuk Wedang Ronde


Bandung yang dingin apalagi di waktu mendung adalah salah satu alasan berburu kuliner hangat yang ringan. Semangkuk wedang ronde panas tentu saja akan mampu menghangatkan badan. Bagi yang suka susu kedelai, maka sekoteng bisa jadi pilihan wajib selain wedang ronde. 

Kenikmatan dimsum juga bisa melengkapi kehangatan semangkuk ronde yang kita santap. Jika kita berada di kota kembang Bandung, tidak ada salahnya jalan-jalan di Jalan Gardu Jati. Di dekat pasar Astana Anyar, tepatnya di Jalan Gardu Jati no.52 Bandung ada sebuah warung yang menyediakan wedang ronde dan minuman hangat lainnya. Karena tempatnya yang unik aku lebih suka menyebutnya dengan cafĂ© tradisional ronde. 

Warung Ronde Gardu Jati sudah ada sejak tahun 1986. Awalnya ini adalah sebuah gerobak yang ada di kaki lima. Di bagian lain Jalan Gardu Jati tepatnya di dekat hotel Trio, kita juga bisa menikmati ronde yang sama di gerobak kaki lima. Sedangkan warung ronde Gardu Jati ini sendiri mulai buka sejak pukul 9 pagi hingga 12 malam. 

Dulu sebelum tahun 2003 tempat ini bernama Ronde jahe warna warni. Kemudian pada tahun 2005 menjadi rumah ronde. Kini kita bisa mengenal tempat ini dengan nama warung ronde Gardu Jati karena tempatnya di jalan Gardu Jati. 

Tempat ini tidak begitu besar, terletak tepat di tepi jalan Gardu Jati Bandung. Di depan pintu ada sebuah papan tulis hitam yang ditulisi menu dengan menggunakan kapur. Dari elatalase kita bisa melihat aneka cerek tradisional dan perlengkapan dapur lainnya. 

Begitu masuk di sebelah kanan ada meja dan kursi bar yang jumlahnya tidak begitu banyak. Dari kursi ini kita bisa melihat bagaimana para pelayan warung ini meracik isian ronde dan membuat aneka hidangan yang disajikan di sini. Sambil menunggu kita pun bisa mencicipi aneka camilan ala warung. 

Masuk lebih ke dalam lagi ada beberapa meja dan kursi kayu. Sedangkan di ujung ruangan terdapat tangga menuju ke atas. Tempat ini memang terdiri dari dua lantai. Jadi kalau di bawah sudah penuh, maka jangan khawatir. Kita bisa naik ke lantai atas dan menikmati kehangatan ronde di atas sana. 


Interior tempat ini di dominasi oleh hiasan China. Di dinding warung ini juga dihiasi oleh kusen jendela yang unik bergaya tempo dulu. Ada juga papan hitam bertuliskan menu special pilihan yang dikenal sebagai “Ronde Hoki”. Menu Ronde Hoki diantara adalah Ronde soya, ronde durian, tahu ronde dan kacang hijau. 

Yang unik di sini adalah isian ronde yang berwarna-warni. Isian ronde terbuat dari tepung beras ketan yang ditambahkan air dan dibuat adonan hingga bisa dibentuk. Adonan ini kemudian dibentuk bulat mirip bola-bola kecil. Di dalamnya diberikan isian berupa aneka jenis kacang yang dihaluskan dan diberi gula agar manis. 


Ronde biasanya dinikmati oleh keluarga Tionghoa yang berkumpul pada 40 hari menjelang perayaan Imlek. Bahkan ronde juga digunakan dalam ritual sembahyang . Seperti terlihat adanya beberapa keluarga Tionghoa yang melaksanakan sembahyang ronde. Bagi masyarakat Tionghoa, ronde identik dengan kebersamaan keluarga seperti halnya teh bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. 

Kuah ronde sendiri terbuat dari campuran jahe dan gula. Sari jahe inilah yang memberikan rasa hangat di dalam tubuh. Gula yang digunakan juga ada beberapa pilihan. Bisa menggunakan gula putih atau gula pasir. Namun juga nikmat jika menggunakan gula merah atau gula Jawa. 

Di tempat ini kita bisa mendapatkan isian ronde atau bola-bola ronde yang masih segar. Setelah pengunjung memesan maka para pelayan di tempat ini dengan cekatan membuat isian ronde. Adonan tepung beras ketan memang sudah dipersiapkan sebelumnya, jadi pelayan di sini tinggal membentuk bulatan, mengisinya dengan aneka kacang dan merebusnya dalam air panas. Bola-bola tepung ketan yang warna-warni ini setelah mengambang dipermukaan air mendidih akan diangkat dan disajikan di dalam mangkuk bersama kuah jahe. 

Di sini ada sepuluh macam kombinasi wedang ronde . Ada beberapa pilihan wedang ronde favorit seperti ronde campur, ronde soya, ronde durian, tahu ronde, kembang tahu serta sekoteng. Harga yang diberikan di sini juga murah meriah yaitu dalam kisaran Rp 10.000 – Rp 15.000 untuk setiap mangkuknya. 

Warna-warni bola-bola ronde yang ada di sini menandakan isiannya. Bola yang berwarna merah muda di dalamnya berisi kacang merah. Sedangkan bola yang berwarna hijau di dalamnya berisi kacang hijau. Untuk ronde yang isi di dalamnya durian bolanya berwarna putih. Ada juga bola ronde tanpa isi yang dibalut dengan wijen diluarnya. Bola warna lain isi di dalamnya adalah kacang tanah. 

Sekoteng adalah sejenis ronde dengan kuah dan isian yang lebih beragam. Di tempat ini kuah sekoteng adalah perpaduan kuah ronde dengan rasa jahe yang kuat dengan susu kedelai yang gurih. Di dalamnya terdapat isian bola-bola ronde serta kacang tanah juga potongan roti tawar. 

Nuansa China yang sangat kental di tempat ini juga bisa dirasakan dengan berbagai hidangan pilihan lainnya. Di sini kita bisa mencicipi aneka dimsum yang masih hangat dan disajikan dalam tenong kecil yang klasik. Untuk satu porsi aneka dimsum di sini bisa dinikmati dengan harga Rp 13.000 saja. 


Kita bisa mencoba dumpling hangat yang legit. Perpaduan udang dan ayam di dalamnya terasa pas apalagi jika dicelupkan pada saus yang disediakan secara terpisah. Satu porsi dumpling berisi tiga buah. 

Kaki ayam yang ada di tempat ini juga layak dicoba. Kita tidak perlu bersusah payah memisahkan tulangnya, karena kaki ayam yang dihidangkan di sini sudah siap untuk disantap tanpa tulang. Dimasak dengan bumbu asam manis khas China rasanya tidak cukup jika hanya menikmati satu porsi saja. 


Ada banyak alasan untuk merayakan kebersamaan secara sederhana di tempat ini. Kehangatan bukan saja terasa dari kuah ronde tapi juga dari suasana yang ada di sini.