Minggu, 29 Juni 2014

Gadis Korek Api

Cerita Dari Denmark 


Musim dingin selalu mengiringi natal. Salju berada di seluruh penjuru kota. Udara dingin disertai angin dingin menyelimuti kota. Orang-orang lalu lalang ke toko mainan, toko roti, toko pakaian dan entah kemana lagi. 

Semuanya riang gembira menyambut natal. Pohon-pohon cemara buatan di pasang disemua tempat dengan dihiasi lampu-lampu terang dan hiasan yang bergelantungan. Orang tua dengan baju Sinterklas ada disebagian besar toko dengan setumpuk hadiah yang akan dibagikan kepada anak-anak pengunjung toko. 

Namun dibalik semua keindahan natal itu, ada seorang anak kecil yang membawa sekeranjang penuh korek api untuk ia tawarkan pada siapapun yang lewat dijalan. 

“Apakah anda mau membeli korek api tuan?” tanya anak kecil itu sambil menyodorkan sebungkus besar korek api kepada seorang laki-laki yang berllalu di depannya. 

“Tidak, aku sangat buru-buru.” Jawab lelaki itu kemudian berlalu tanpa menengok sedikitpun anak kecil tersebut. 

Anak kecil itu terus mencoba menawarkan korek apinya kepada setiap orang yang ditemuinya sambil berjalan menyusuri trotoar. Disepanjang jalan ia mencium bau harum kalkun panggang dan juga roti. Perutnya terasa sangat lapar, tapi ia tidak mempunyai uang sedikit pun untuk membeli makanan. Belum ada satu pun korek apinya yang terjual. 

Tapi anak kecil itu pantang menyerah, “Anda pasti memerlukan korek api ini nyonya.” 

Anak kecil itu kembali menawarkan sekotak besar korek api kepada seorang nyonya gemuk yang memakia jaket bulu yang sangat tebal. Namun sayang rupanya nyonya itu sangat terburu-buru hingga ia menyenggol anak kecil tersebut dengan sangat keras. Anak kecil itu terjatuh dan seluruhkorek api yang berada dalam keranjangnya trejatuh berhamburan. Nyonya itu hanya berhenti sebentar untuk minta maaf. 

“Maaf, aku terburu-buru.” Nyonya itu langsung pergi dengan langkah yang sangat cepat. 

Tinggallah sekarang anak kecil itu memunguti korek api yang sudah bisa ia jual lagi. Habis sudah harapannya untuk mendapatkan uang dimalam natal ini. Ia kemudian berjalan ke depan sebuah ruko yang sudah tutup. Anak kecil itu sangat kedinginan karena jaket yang ia pakai pun sudah tipis dan berlubang di sana-sini. 

Anak kecil itu mencoba menyalakan korek api yang ia kumpulkan tadi. Api kecil yang keluar mampu sedikit menghangatkan tubuhnya. Ia memandangi api yang menyala dengan seksama. Anak itu melihat ada kalkun panggang yang sangat lezat di sana. Begitu tangannya akan menyentuh kalkun itu, tiba-tiba apinya padam. 

Satu lagi korek api ia nyalakan, kali ini ia melihat sebuah pohon terang dan neneknya yang sudah meninggal datang dari balik pohon terang itu. 

“Nenek,” sapa anak kecil itu. 

Ia terlihat nampak sangat bahagia. “Aku sangat rindu pada nenek.” 

“Nenek pun rindu cucuku.” 

"Aku kesepian dan takut berada di sini sendiri nek.” 

“KAlau begitu ikutlah aku.” 

Sayangnya api dari korek api yang dinyalakan anak kecil itu sudah padam sehingga bayagan nenek menghilang. Anak kecil itu berusaha menyalakan sebuah kore apai lagi, namun kali ini ia mengalami kesulitan. Korek api yang berhamburan di jalan tadi sebagian besar basah sehingga ia harus mencobanya satu persatu. Ratusan korek api sudah di coba anak kecil itu, kini tubuhnya menggigil kedinginan. Untunglah masih tersisa sebuah korek yang masih bisa menyala. 

Kali ini anak kecil itu melihat bayangan ibunya yang datang dengan sayap putih. 

“Ikutlah terbang bersama ibu anakku.” 

“Ke mana bu?” 

“Ketempat yang hangat dengan banyak makanan dan sangat terang dengan cahaya pohon natal.” Anak kecil itu kemudian digandeng oleh ibunya. Mereka berdua terbang kelangit dengan penuh kebahagiaan. 

Keesokan harinya, anak kecil itu ditemukan dalam keadaan membeku di depan sebuah toko. Ia meninggal karena kedinginan dan kelaparan di malam natal ketika orang-orang bergembira dan merayakannya dengan makanan yang berlimpah di setiap rumah. 

PESAN Pedulilah pada orang-orang disekitarmu, siapa tahu mereka ada yang sangat memerlukan pertolongan kita.

0 komentar:

Posting Komentar