Sabtu, 14 Juni 2014

Hakim Yang BIjaksana

Cerita dari Kamboja 

Di sebuah desa, tinggal seorang pemuda miskin yang rajin bekerja. Sifatnya yang baik dan semangatnya bekerja keras ini, membuat seorang gadis jatuh cinta padanya. Gadis ini anak seorang yang kaya raya. 

Ternyata si pemuda juga menyukai si gadis dan keduanya ingin menikah. Namun rupanya orang tua si gadis tidak menyetujui, tapi ia juga tidak mungkin menolak begitu saja lamaran si pemuda, karena takut anak gadisnya kecewa dan membenci dirinya. 

Maka orang tua si gadis kemudian mengajukan sebuah syarat. “Jika kau ingin menjadikan anakku sebagai istri, maka kau harus bisa tahan berendam di danau selama tiga hari tiga malam. “ 

Si Pemuda menyanggupi persyaratan tersebut. Ia pun merendam dirinya di danau dengan diawasi oleh beberapa orang suruhan orang tua si gadis. Pada malam kedua, udara sangat dingin namun si pemuda masih kuat merendam dirinya dalam air danau. 

Di saat yang bersamaan ada sekumpulan orang sedang menyalakan api unggun di atas bukit yang jaraknya cukup jauh dari tempat si pemuda tadi berendam. Untuk sedikit melawan hawa dingin, si pemuda itu mengangkat kedua tangannya ke atas. Ia berharap dengan menggerakkan tangannya tubuhnya akan terasa sedikit hangat. 

Sayangnya orang-orang suruhan yang berjaga di pinggir danau salah sangka. Mereka mengira pemuda ini mengangkat tangannya untuk merasakan hangatnya api unggun yang berada di atas bukit. Maka mereka segera menyuruh pemuda itu naik ke pinggir danau dan menyatakan si pemuda gagal memenuhi tantangan orang tua si gadis. 

Si pemuda yang merasa diperlakukan secara tidak adil melaporkan hal tersebut kepada hakim. Kesempatan ini dipakai oleh orang tua si gadis untuk menyuap hakim agar memenangkan dirinya. Ia tetap tidak mau anak gadisnya menikah dengan pemuda itu. 

Maka pada saat persidangan berlangsung, hakim memenangkan orang tua si gadis dan membebankan denda pengadilan kepada si pemuda. Denda itu berupa menyediakan makanan bagi hakim dan juga keluarga si gadis. 

Untunglah ada seorang hakim bijaksana yang mau menolong si pemuda. Hakim bijaksana itu meminta si pemuda untuk memasak makanan tanpa garam dan meletakkan garam pada sebuah piring kecil secara terpisah. Ketika si pemuda menyajikan makanan tersebut, hakim yang bijaksana itu pun bersedia ikut serta. 

“Mengapa kau memasak makanan ini tanpa garam anak muda.” Kata hakim marah. 

Si pemuda hanya diam saja, kali ini hakim bijaksana yang menjawab, ”wahai hakim, kau kemaren mengatakan bahwa dengan jarak yang jauh pun pemuda ini bisa merasakan hangatnya api unggun, itu sama halnya dengan masakan yang ada dihadapanmu sekarang ini. HArusnya kau pun juga bisa merasakan rasa asinnya garam ketika masakan dan garam tersebut saling berjauhan.” 

Hakim yang memutuskan kasus si pemuda itu menjadi malu. Ia kemudian mencabut keputusannya dan akhirnya memenangkan si pemuda. Akhirnya pemuda itu bisa menikah dengan si gadis dan keduanya hidup bahagia. 

Pesan : Selalu berbuatlah yang jujur, karena kejujuran itu akan selalu menang, walaupun sebelumnya bisa saja kalah.

0 komentar:

Posting Komentar