Sabtu, 28 Juni 2014

Kisah Putri Bambu

Cerita Dari Jepang 

Di sebuah desa di Jepang, tinggal sepasang suami istri petani. Mereka berdua sudah menikah cukup lama, namun belum juga dikaruniai seorang anak, bahkan hingga usia keduanya sudah tua. Namun kedua kakek dan nenek petani ini tidak pernah berhenti berdoa. Keduanya selalu memohon pada tuhan siang dan malam agar diberikan seorang anak. 

Pada suatu hari si kakek pergi ke ladang seperti biasanya. Ketika ia melewati kebun bambu, tiba-tiba terdengar tangis bayi. Kakek itu berhenti sejenak mencari-cari dimana asal suara tangisan tadi. Satu persatu ia memeriksa rumpun bambu yang ada di sana, hingga akhirnya ia menemukan sebuah batang bambu besar. Dari batang bambu itulah rupanya asal suara tangis bayi tersebut. 

Dengan hati-hati kakek itu memotong batang bambu dan membelahnya. Betapa kagetnya si kakek ketika di dalam batang bambu itu ia temukan seorang bayi mungil yang sangat cantik. Dengan perasaan gembira, ia pun kemudian pulang ke rumah untuk segera memperlihatkan bayi yang ia temukan itu kepada istrinya. 

Kakek dan nenek petani itu menamakan bayi yang ia temukan tersebut dengan nama “Putri Bambu”. Mereka membesarkan Putri Bambu dengan penuh kasih sayang hingga Putri Bambu tumbuh menjadi seorang wanita dewasa yang cantik dan baik hatinya. 

Kecantikan dan kebaikan Putri BAmbu kemudian tersebar kemana-mana. Tidak hanya di negerinya, tapi juga ke negeri tetangga. Hingga akhirnya ada lima pangeran dari lima negeri yang datang ingin melamar Putri BAmbu menjadi permaisurinya. Namun sebenarnya Putri BAmbu tidak ingin menikah, ia ingin mengabdikan hidupnya untuk kedua orangtuanya yang sudah tua. 

Untuk menolak secara halus, maka Putri Bambu mengajukan syarat yang sangat tidak mungkin dipenuhi kepada kelima pangeran yang datang. Kepada pangeran pertama, ia meminta mangkuk batu besar milik Sang Budha yang berada di India. Pangeran kedua diminta untuk membawakan batang pohon emas yang hanya tumbuh di Gunung Horai. PAngeran ketiga harus membuat seutas tali yang panjang dengan bahan kulit tikus api. Pangeran keempat diminta untuk membawakan kalung yang dipakai oleh naga laut. 

Sedangkan pangeran kelima harus mendapatkan kulit kacang yang tersimpan di sarang burung layang-layang. Kelima pangeran itu kemudian berusaha untuk memenuhi permintaan Putri Bambu, namun tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil. 

Putri Bambu kemudian merawat kedua orang tuanya hingga si nenek meninggal. Beberapa bulan kemudian si kakek menyusul istrinya. Putri BAmbu tentu saja sangat sedih. Hingga pada suatu malam disaat bulan purnama bersinar penuh, sebuah kabut putih muncul dari gunung Fujiyama yang kemudian membentuk sebuah jembatan yang menghubungkan bumi dan bulan. Beberapa bayangan putih melewati jembatan tersebut dan menjemput Putri Bambu untuk dibawa ke bulan. 

Pesan 
Kita bisa mencontoh perbuatan baik Putri Bambu, yang dibesarkan dengan kasih sayang, maka ia rela berkorban apapun, demi bisa membalas kebaikan hati kakek dan nenek yang telah membesarkannya menjadi seorang anak yang baik budi.

0 komentar:

Posting Komentar