Minggu, 01 Juni 2014

Kisah Si Tanduk Panjang - Cerita Rakyat Sumatera Utara

Si tanduk panjang dilahirkan dengan dua buah tanduk di kepalanya. Kedua orang tuanya malu mempunyai anak yang cacat. Oleh karena itu mereka membuang bayi si tanduk panjang di sungai. 

Bayi Si Tanduk panjang diletakkan di dalam sebuah kotak kayu yang terbuka. Di samping bayi Si Tanduk Panjang diletakkan juga semangkuk beras dan sebutir telur. Air sungai perlahan-lahan membawa kotak kayu yang berisi bayi Si Tanduk Panjang mengikuti ke mana arus sungai pergi. 

Diam-diam kakak perempuan Si Tanduk Panjang mengikuti ke mana pun arus sungai membawa adiknya pergi. Setiap kali ia mendengar tangisan Si Tanduk Panjang, si kakak tahu kalau adiknya lapar. 

“Diamlah adikku sayang, makanlah beras yang ada dalam mangkuk di sampingmu itu.” Teriak kakak Si Tanduk Panjang. 

Jika arus sungai deras, maka kakak Si Tanduk Panjang harus berlari agar bisa menyusul kotak kayu adiknya. Terkadang, kakak Si Tanduk Panjang juga harus terluka kulitnya karena tergores ranting pohon. Sungai itu terlalu besar sehingga kakak Si Tanduk Panjang tidak bisa mengambil kotak kayu yang berisi adiknya. 

Beberapa hari kemudian terdengar suara anak ayam. “Telur ayam itu pasti sudah menetas.” Pikir kakak Si Tanduk Panjang. 

Setelah beberapa bulan kemudian, kotak kayu yang membawa Si Tanduk Panjang berada pada sebuah sungai yang sempit. Kakak Si Tanduk Panjang tidak menyia-nyiakan hal ini, ia segera meraih kotak kayu yang berisi adiknya itu, dengan bantuan sebuah galah yang besar. 

Ajaib! Yang berada di dalam kotak kayu itu bukan lagi bayi Si Tanduk Panjang, melainkan seorang bocah laki-laki yang tampan. Di belakangnya juga ada seekor ayam jantan yang besar dan tegap. 

“Siapa kamu?” tanya kakak Si Tanduk Panjang heran. 

“Aku Si Tanduk Panjang, adikmu.” Si Tanduk Panjang langsung memeluk kakaknya. 

“Adikku mempunyai dua tanduk di kepalanya, sedangkan kau tidak punya.” 

Si Tanduk Panjang dan kakaknya kemudian berjalan menuju desa terdekat. Di pintu masuk sebuah desa, kedua kakak beradik itu bertemu dengan seorang penjaga desa. 

“Kalian tidak boleh masuk desa ini kecuali kalian mau mengadu ayam kalian dengan ayam milik kepala kampung.” Kata penjaga desa. 

“Apa imbalannya?” tanya kakak Si Tanduk Panjang. 

“Kalau ayam kalian menang, kalian boleh melewati desa ini dan mendapatkan satu kantong uang emas. Tapi kalau ayam kalian kalah, maka kalian harus menetap di desa ini dan menjadi budak kami.” 

“Bagaimana kalau kami tidak mau?” tanya Si Tanduk Panjang. 

“Kalian tidak boleh melawati desa ini. Kalian harus kembali dan memutari gunung itu.” Jawab penjaga desa. 

Si Tanduk Panjang setuju untuk mengadu ayam miliknya dengan ayam kepala kampung. Ternyata ayam Si Tanduk Panjang yang menang. Maka Si Tanduk Panjang bisa melanjutkan perjalanan bersama ayam dan kakaknya dengan membawa sekantong uang emas. 

Ketika melewati desa lain, ternyata berlaku peraturan yang sama. Di desa itu Si Tanduk Panjang juga mengadu ayam miliknya dengan ayam kepala kampung. Ternyata ayam Si Tanduk Panjang menang lagi. Kantong uang emas yang dibawanya semakin bertambah. 

Setiap kali mereka memasuki desa baru, ayam Si Tanduk Panjang memenangkan pertarungan. Karena sudah terlalu banyak maka kakak Si Tanduk Panjang meminta bantuan kuli untuk menariknya dalam gerobak. Ia mengajak adiknya menuju desa tempat kelahiran mereka berdua. 

Ketika Si Tanduk Panjang dan Kakaknya datang, mereka berdua mendapat sambutan yang baik oleh penduduk desa. 

“Si Tanduk Panjang dan kakaknya sekarang menjadi orang kaya.” Teriak salah seorang warga desa. 

Orang tua Si Tanduk Panjang yang miskin, merasa senang mendengar anaknya pulang dan telah menjadi orang kaya. Tapi Si Tanduk Panjang dan kakaknya tidak mau menerima orang tua yang telah membuang anaknya. 


PESAN : Orang yang sekarang hidupnya berada di bawah, suatu ketika akan berada di atas, karena roda dunia selalu berputar. Jadi jangan menjadi sombong ketika kalian menjadi orang kaya dan jangan merasa rendah diri ketika kalian menjadi orang miskin.

0 komentar:

Posting Komentar