Selasa, 24 Juni 2014

Mainan Luna

Jangan pernah menyia-nyiakan mainan, karena mainan itu akan diselamatkan oleh bidadari yang melewati pelangi. Percaya atau tidak tapi inilah yang dialami oleh Luna. Anak kelas dua SD yang sangat ceroboh. 

“Au……….Luna……………,” teriak mama ketika kakinya menginjak tangan boneka yang sudah putus di sofa. 

Kejadian serupa sudah sering terjadi di rumah Luna. Terkadang Papa yang menemukan sisir mainan di depan pintu, atau mama yang menemukan kepala boneka di dapur. Masih banyak lagi mainan Luna yang tersebar di dalam rumah. 

Ternyata mainan-mainan yang ditelantarkan oleh Luna sangat kesal. Suatu hari ketika Luna tidak ada di kamarnya, mainan-mainan itu mengadakan sebuah pertemuan rahasia. 

“Aku sudah tidak tahan lagi, setiap hari Luna selalu mencopoti tangan dan kakiku dan meletakkannya di sembarang tempat.” Dengan geramnya boneka barbie berkata. 

“Aku juga. Sudah lama sekali badanku sobek dan dacron yang ada dalam tubuhku berhamburan, tapi Luna tidak pernah peduli. Padahal aku dulu adalah boneka kesayangannya. “ Boneka panda nampak sedih melihat keadaan dirinya. 

“Kalau saja aku bisa berjalan sendiri, aku memilih pergi dari sini, Itu lebih baik dari pada berserakan di lantai dan terinjak-injak oleh penghuni rumah ini.” Mainan masak-masakan ikut menambahkan. 

“Memang sudah waktunya kita berbuat sesuatu untuk kehidupan kita yang lebih baik .” Kata boneka Raja dengan penuh wibawa. 

Diantara sekian banyak mainan Luna terdapat sebuah boneka Raja dan Boneka Ratu. Sesuai dengan namanya, kedua boneka itu menjadi raja dan ratu bagi mainan Luna. Boneka Raja adalah sebuah boneka yang bijaksana begitu juga dengan boneka ratu. Setiap persoalan yang dihadapi oleh mainan di kamar Luna bisa di selesaikan dengan baik berkat boneka raja dan boneka ratu. 

Sepertinya permasalahan yang dihadapi oleh mainan Luna kali ini sangat serius. Semua mainan terdiam memikirkan apa yang bisa mereka lakukan untuk bisa keluar dari permasalahan ini. Untunglah saat itu di luar sedang turun hujan sehingga udara di dalam kamar terasa sejuk. 

“Hai lihat....... ada pelangi.” Teriak boneka monyet kegirangan ketika menunjuk ke arah luar , di sana hujan telah reda dan muncul pelangi di langit. 

“Aku tahu....... kita bisa minta bantuan pelangi.” Usul boneka ratu. 

“Usul yang bagus boneka ratu, aku yakin pelangi pasti mau menolong kita.” Boneka kain nampak bahagia. 

Boneka raja melongok ke jendela dan berbicara pada pelangi,” Hai pelangi, tolonglah kami. Keluarkan kami dari sini. Bawa kami pergi, kami sudah tidak tahan lagi kalau harus tinggal lebih lama lagi dengan Luna. Anak itu sangat nakal dan seringkali menyia-nyiakan kami.” 

“Baiklah kawan-kawan semua, aku akan menolong kalian, tapi aku tidak bisa membawa kalian pergi tanpa bantuan bidadari. Sebentar ya! Aku akan mengajak bidadari kemari.” Jawab pelangi. 

Tak lama kemudian pelangi menghilang menuju ke rumah bidadari di atas langit. Semua mainan di dalam kamar Luna terlihat senang . Mereka yakin pelangi dan bidadari akan menolong mereka semua. Sekarang mereka nampak sedang bersiap-siap, agar nanti kalau pelangi dan bidadari datang mereka bisa langsung pergi. 

Ternyata pelangi menepati janjinya, ia datang kembali dan kali ini membawa bidadari. Di langit nampak bidadari berjalan di atas pelangi menuju kamar Luna. Semua mainan bersorak gembira. “Hore....... kita bebas.” 

“Aku akan membawa kalian ke negeri atas langit dan kalian bisa hidup bahagia di sana selamanya. Sekarang berbarislah kalian dengan rapi, peganglah selendangku dan kita akan pergi dengan berjalan di atas pelangi.” 

Bidadari memberikan salah satu ujung selendangnya pada boneka ratu. Di belakang boneka ratu telah berbaris semua mainan yang ada dikamar Luna. Walaupun mereka hanya mainan, tapi mereka bisa berbaris dengan rapi tanpa berebutan. 

Boneka Raja berbaris paling belakang agar bisa melindungi semua mainan. Rombongan itu kemudian berjalan di atas pelangi mengikuti bidadari menuju negeri atas langit. 

Sementara itu betapa terkejutnya Luna ketika pulang ke rumah dan melihat semua mainan di dalam kamarnya sudah tidak ada satu pun. 

“Ma........ dimana semua mainan ku.” Luna menangis keras. 

“Mana mama tahu.” “Pasti mama yang membuangnya. Mama harus membelikanku mainan yang baru.” 

“Tidak akan pernah Luna. Karena mama tidak pernah membuang mainannmu.” 

“Kalau begitu siapa dong yang membuang mainan Luna.” Seluruh anggota keluarga Luna tidak ada yang tahu ke mana perginya mainan Luna, termasuk Luna sendiri. 

“Aku mau mainanku,” Luna menangis. 

“Dulu ketika mainan itu masih ada kau sia-siakan , sekarang setelah mainan itu tidak ada kau tangisi.” Sindir mama. 

“Maafkan aku ma...... aku janji kalau mainan itu ketemu aku mau merawat mereka dengan sungguh-sungguh.“ 

“Kalau begitu kamu harus mencari mereka, karena mama dan papa tidak mau membelikan lagi mainan buat kamu.” 

Kemanapun Luna mencari ia tak akan pernah menemukan mainannya. Tapi Luna tidak tahu kalau mainannya di bawa oleh bidadari lewat jalan pelangi lho. Maukah kalian memberi tahu Luna? 

Pesan : Terkadang kita baru bisa merasakan bahwa suatu barang itu berharga ketika barang tersebut sudah tidak ada. Tentu saja hal ini sudah terlambat. Akhirnya kita menyesal, tapi penyesalan itu sudah tidak berguna lagi

0 komentar:

Posting Komentar