Selasa, 03 Juni 2014

Putri Buruti Siraso - Cerita Rakyat Sumatera Utara

Kalau di Pulau Jawa dikenal Dewi Sri sebagai Dewi Padi, maka masyarakat Nias mengenal Puteri Buruti Siraso sebagai Dewi bibit Padi. Kisah ini berawal ketika kerajaan Langit dan kerajaan Bumi saling berhubungan. Kerajaan Langit yang dihuni oleh para dewa disebut dengan Teteholi Ana’a, sedangkan kerajaan Bumi yang dihuni oleh manusia dikenal dengan nama Tano Niha. 

Raja kerajaan Teteholi Ana’a bernama Raja Bulugu Silaride Ana’a. Sudah lama sekali ia tidak mempunyai anak. Hingga pada suatu saat, ia sangat bahagia ketika permaisuri mengandung dan melahirkan anak kembar. 

Tapi kegembiraan itu tidak berlangsung lama, karena anak yang lahir adalah kembar sepasang, yaitu laki-laki dan perempuan. Menurut kepercayaan, anak kembar sepasang akan membawa aib bagi orang tuanya. Ini karena anak kembar sepasang, sejak dalam kandungan telah dijodohkan oleh Dewa Sihai. 

Meskipun demikian, Raja Bulugu Silaride tetap membesarkan kedua anaknya dengan penuh kasih sayang. Anak laki-laki diberi nama Silogu Mbanua dan anak perempuan diberi nama Buruti Siraso. 

Ketika Silogu Mbanua dan Buruti Siraso sudah dewasa, Raja Bulugu Silaride Ana’a menjadi cemas. Ini karena kedua anaknya itu sangat dekat dan keduanya saling menyayangi. Raja Bulugu Silaride Ana’a sangat takut kalau kedua anaknya ini nantinya saling jatuh cinta, dan membawa aib bagi dirinya. 

Maka Raja Bulugu Silaride Ana’a menyusun sebuah rencana untuk memisahkan kedua anak kembarnya itu. Ia kemudian memanggil anak laki-lakinya yaitu Silogu Mbanua. 

“Anakku, kau sudah dewasa sekarang. Maka sudah waktunya bagimu untuk mencari perempuan yang akan kau jadikan istri nantinya.” 

“Baiklah ayah, aku akan mencari istri yang hampir sama dengan Buruti Siraso.” Jawaban Silogu Mbanua ini mengagetkan Raja Bulugu Silaride Ana’a. 

Silogu Mbanua kemudian pergi untuk mencari calon istri. Pada saat itulah Raja Bulugu Silaride Ana’a memanggil Putri Buruti Siraso. 

“Putriku, kerajaan Tano Niha sedang dalam bencana. Padi tidak mau tumbuh disana dan tanaman yang sudah besar mati dimakan hama. Kau harus ke sana untuk membantu manusia.” 

Buruti Siraso adalah seorang putri yang cantik. Ia juga baik hati, sehingga ketika mendengar kerajaan lain mendapat bencana, ia langsung ingin menolong. 

“Kalau begitu mulai saat ini dan selamanya, tinggalah di kerajaan Tano Niha, karena di sana kau bisa berbuat lebih banyak hal. 

Tanpa menunggu lama, Putri Buruti Siraso pergi ke Tano Niha. Sebenarnya ini adalah siasat dari Raja Bulugu Silaride Ana’a untuk memisahkan Putri Buruti Siraso dengan saudara kembarnya Silogu Mbanua. 

Ketika kembali ke kerajaan Teteholi Ana’a, Silogu Mbanua tidak bisa menemukan Putri Buruti Siraso. Ia kemudian menanyakan hal ini kepada Raja Bulugu Silaride Ana’a. 

“Ayah, dimana Putri Buruti Siraso?”  

“Putri Buruti Siraso sudah meninggal.” Raja Bulugu Silaride Ana’a kemudian menunjukkan kuburan palsu kepada Silogu Mbanua, untuk meyakinkan bahwa Putri Buruti Siraso memang benar-benar sudah meninggal. Raja Bulugu Silaride Ana’a dan permaisuri tetap menjaga rahasia di mana sebenarnya Putri Buruti Siraso berada. 

Sementara itu di kerajaan Tano Niha, Putri Buruti Siraso membagikan bibit padi kepada para petani. Sejak kedatangan Putri Buruti Siraso, tidak ada lagi hama yang menyerang tanaman. 

Putri Buruti Siraso tinggal di dekat muara Sungai Oyo. Di sana ia beternak unggas dan hewan ternak lainnya. Hasil ternak yang ia pelihara kemudian ia bagikan kepada masyarakat Tano Niha untuk dikembang biakkan. Putri Buruti Siraso juga mengajari manusia cara beternak dan bercocok tanam yang baik. 

Bibit yang diberikan oleh Putri Buruti Siraso menghasilkan panen padi yang melimpah. Hingga kini Putri Buruti Siraso dikenal masyarakat Nias sebagai Dewi Bibit Padi. 

PESAN: Setiap makhluk hidup pasti saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lainnya.

0 komentar:

Posting Komentar