Senin, 02 Juni 2014

Si Piso Somalim - Cerita Rakyat Sumatera Utara

Sipiso Somalim adalah anak dari Raja Panuasa dan Siboru Sandebona, di kampung Uluan. Sejak kecil Sipiso Somalim telah menunjukkan keistimewaan. Semua binatang selalu menurut pada apa yang ia perintahkan. 

Ketika sudah dewasa, Raja Panuasa memberikan baju kerajaan yang bisa memberi kharisma, bagi siapa saja yang memakainya. Sedangkan ibunya memberikan sebuah pil yang disebut “Pongga Haomasan”, pil ini bisa membuat kenyang tanpa makan. 

Pada suatu saat, Sipiso Somalim ingin pergi ke tempat pamannya yang bernama Punsahang Mataniari. Pamannya ini adalah raja di Rura Silindung. Sipiso Somalim ingin meminang putri sulung pamannya untuk ia jadikan istri. 

Sebelum berangkat, Sipiso Somalim menanam sebuah pohon di depan rumahnya. Ia juga berpesan kepada ibunya. 

“Jagalah pohon ini baik-baik, bu. Karena jika pohon ini layu, itu berarti telah terjadi sesuatu padaku di perjalanan. Jika pohon ini mati, maka aku pun telah mati di dalam perjalanan.” 

" Sipiso Somalim pergi dengan ditemani oleh pelayannya yang bernama Sipakpakkumal. Ketika mereka berdua sampai di sebuah danau, Sipiso Somalim melepaskan pakaiannya dan menceburkan diri ke dalam danau untuk mandi. Sementara itu Sipakpakumal tetap berada di tepi danau menjaga Sipiso Somalim. 

Tiba-tiba Sipakpakumal mempunyai pikiran buruk. Ia melepas pakaiannya dan memakai pakaian kerajaan Sipiso Somalim. Dengan pakaian itu, Sipakpakumal nampak seperti raja, kharisma pada baju kerajaan itu telah berpindah pada diri Sipakpakumal. 

Setelah selesai mandi, tentu saja Sipiso Somalim terkejut melihat baju kerajaannya sudah tidak ada. Ia lebih terkejut lagi ketika melihat Sipakpakumal memakai baju miliknya. 

“Sekarang kita berganti posisi, aku yang menjadi anak raja dan kau menjadi pelayan. Kau juga harus merahasiakan hal ini kepada siapapun.” Kata Sipakpakumal dengan sombongnya. 

Sipiso Somalim mengalah, ia mau menjadi pelayan Sipakpakumal. Ketika mereka tiba di Rura Silindung, Sipakpakumla mengaku sebagai Sipiso Somalim. Awalnya paman Sipiso Somalim percaya, tapi setelah melihat tingkah laku Sipakpakumal selama beberapa hari, Punsahang Mataniari menjadi curiga. 

Diam-diam Punsahang Mataniari menyelidiki orang yang mengaku sebagai keponakannya itu. Maka ketika Sipakpakumal menyatakan keinginannya untuk meminang anak Punsahang Mataniari, paman Sipiso Somalim itu menolak secara halus. 

Sementara itu, pohon yang ditanam oleh Sipiso Somalim sebelum pergi dulu menjadi layu. Ibu Sipiso Somalim menyadari kalau anaknya dalam kesulitan. Maka ia segera mengirim kerbau milik Sipiso Somalim. 

Ketika kerbau itu tiba di Rura Silindung, Sipakpakumal yang masih mengaku sebagai Sipiso Somalim tidak mampu membawa kerbau itu ke kandang. Sedangkan Sipiso Somalim yang menjadi pelayan bisa dengan mudah mengajak kerbau itu ke kandang. 

Sesampainya di kandang, kerbau itu duduk dan menundukkan kepalanya. Sipiso Somalim sepertinya mengerti, apa yang ingin disampaikan oleh kerbau tersebut. Ia kemudian memegang tanduk kerbau dan mematahkannya. 

Di dalam tanduk kerbau, Sipiso Somalim menemukan baju kerajaan dan perhiasan kerajaan dari ibunya. Setelah mengambil barang-barang yang ada di dalamnya, dengan kesaktian yang dimiliki, Sipiso Somalim mengembalikan tanduk kerbau itu ke bentuk semula. 

Sipiso Somalim segera memakai baju kerajaan dan perhiasan kerajaan. Ketika Sipiso Somalim menghadap pamannya dan menceritakan kepadanya apa yang sudah terjadi, Sipakpakumal segera melarikan diri. Sipakpakumal takut dirinya akan dihukum. 

PESAN: Kebenaran akan selalu terlihat, oleh karena itu jangan pernah takut berbuat benar atau berjuang untuk kebenaran.

0 komentar:

Posting Komentar