Selasa, 24 Juni 2014

Si UDin Anak Yang Manja

Cerita Rakyat Sumatera Barat 

Siapa yang tidak mengenal Udin di kampung Kramat ini. Udin adalah anak tunggal Pak Bondan, pemilik seratus lebih kuda yang disewa-sewakan kepada para pedagang dari kampung Kramat atau kampung sekitarnya untuk mengangkut barang ke kota. 

Penghasilan Pak Bondan dari menyewakan kuda ini sangatlah besar, apalagi jika ditambah dengan hasil padi dari puluhan hektar sawah miliknya. Jadi tidaklah heran kalau kehidupan Udin menjadi seperti raja. 

Apa saja yang ia inginkan dengan cepat selalu dikabulkan oleh ayahnya. Kalau orang yang melayaninya terlambat datang sedikit saja, maka si Udin akan marah-marah. 

“Apa saja kerjamu, rugi bapakku menggaji pemalas sepertimu,” kata-kata Udin memang kasar dan seringkali menyakiti hati para pelayan. 

Berbeda dengan bapaknya, ibu si Udin tidak membiarkan anaknya selalu bermanja-manja. Sudah sering ibu si Udin menasihati anaknya, namun sayang nasehat itu tidak pernah di dengar oleh Udin. Makin hari sifat manjanya semakin bertambah, bahkan ia sudah berani berbohong pada ibunya agar keinginannya terpenuhi. 

Pada suatu hari bapak Udin sedang pergi ke kota dan Udin ingin pergi ke pasar malam seperti biasanya. Pasar malam itu ada di kampung Udin setiap bulan sekali tepat saat malam bulan purnama, biasanya bapak Udin selalu mengajaknya ke sana. 

Di pasar malam itu Udin selalu naik semua permainan yang ada, dan mencoba semua permainan yang ditawarkan hingga larut malam. Ada satu tempat yang belum ia masuki sebenarnya, dan ia sangat ingin tahu tempat apa itu, karena dari luar tempat itu ia selalu mendengar teriakan-teriakan orang nampaknya sangat gembira. 

Sayangnya bapak Udin tidak pernah mengijinkan Udin untuk masuk ke dalam tempat itu. Maka ketika bapaknya tidak ada dirumah, Udin tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. 

“Ini kesempatanku untuk melihat permainan apa yang ada di tempat yang ramai di pinggir pasar malam itu.” Pikir Udin dengan gembira. 

Udin tahu ibunya pasti tidak akan mengijinkan dirinya pergi ke pasar malam tanpa bapaknya, sedangkan ibu Udin juga pasti tidak mau mengantar anaknya, karena selama ini Udin tidak pernah melihat ibunya pergi ke pasar malam, baik itu sendiri atau pun bersama- sama dengan Udin dan bapaknya. Maka diam-diam Udin pergi ke pasar malam sendiri tanpa ditemani seorang pelayan pun. 

Si Udin sangat gembira ketika bisa memasuki tempat yang selama ini telah membuatnya penasaran. Ternyata tempat itu adalah tempat orang-orang berjudi sabung ayam. 

Awalnya Udin hanya melihat-lihat, tapi lama kelamaan ia pun ingin ikut bertaruh. Ayah Udin selalu memberinya uang banyak, dan dalam waktu yang tidak begitu lama uang itu telah habis ia pakai untuk bertaruh. Orang-orang di tempat itu yang mengetahui kalau Udin adalah anak Pak Bondan, berpura-pura baik hati meminjaminya uang, agar Udin mau bertaruh lagi. 

Semakin malam Udin semakin penasaran, karena ia belum sekali pun menang bertaruh, tanpa ia sadari hutangnya sudah sangat banyak. Hingga pagi hari barulah tempat itu di tutup, Udin dan orang-orang yang ada di sana pulang ke rumah masing-masing. 

Keesokan harinya ketika bapak Udin pulang dari kota, ia dikejutkan oleh beberapa orang yang datang menagih hutang padanya. Bapak dan Ibu Udin semakin kaget ketika mengetahui ternyata anaknya telah berada di arena judi sabung ayam, dari malam hingga pagi tanpa mereka ketahui. Kekecewaan bapak Udin yang mendalam, karena merasa telah salah dalam mendidik anaknya, membuatnya sakit dan akhirnya meninggal. 

Bapak Udin memang masih meninggalkan harta yang banyak. Tapi lama kelamaan harta itu semakin habis, karena sedikit demi sedikit telah dijual oleh ibu Udin untuk keperluan hidup mereka berdua. 

Namun sifat manja Udin tidak pernah berubah, bahkan hingga ia besar dan ketika harta peninggalan bapaknya telah menipis serta ibunya tidak sanggup lagi untuk menggaji satu pun pelayan. 

Ketika ibunya sudah tua dan akhirnya meninggal, Si Udin pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak tahu harus bagaiamana menjalani hidup, karena harta peninggalan bapaknya sudah habis, dan ia tidak tahu dan tidak terbiasa bekerja. Akhirnya Udin hanya bisa menjadi pengemis, dan harus pergi dari kampungnya karena rumah tempat ia tinggal pun sudah ia jual. 

Pesan : Sejak awal, anak-anak harus dilatih untuk hidup mandiri, agar nanti dikemudian hari tidak tergantung dengan orang lain.

0 komentar:

Posting Komentar