Minggu, 01 Juni 2014

Tongkat Sakti Tunggal Panaluan - Cerita Rakyat Sumatera Utara

Masyarakat Toba mengenal adanya sebuah tongkat sakti yang diberi nama “Tunggal Panaluan”. Pada tongkat ini dilukis wajah manusia, jika digunakan untuk mengusir musuh, maka musuh akan pergi seolah-olah melihat hantu. Selain itu tongkat ini bisa digunakan untuk menurunkan hujan ketika musim kemarau tiba. 

Pada jaman dahulu, ada seorang raja bernama guru Hatimbulan. Kampung tempatnya sedang mengalami kemarau panjang. Sedangkan istrinya yang bernama Nansindak Panaluan, saat itu dalam keadaan hamil. Tapi ketika tiba waktunya melahirkan, anak yang di dalam kandungan tersebut tidak mau keluar. 

Guru Hatimbulan kemudian memanggil Datu untuk melihat keadaan bayi yang dikandung istrinya. 

“Anakmu ini sangat istimewa.” Kata Datu yang memeriksa keadaan Nansindak Panaluan. 

Setelah didoakan oleh Datu tersebut, bayi di dalam kandungan itu lahir kembar, satu laki-laki dan satu lagi perempuan. Yang perempuan bernama Si Tapi Raja Na Uasan, sedangkan yang laki-laki bernama Si Aji Donda Hatahutan. 

Tiba-tiba hujan turun setelah kemarau panjang. Seluruh kampung berbahagia dengan datangnya hujan. Tapi mereka khawatir atas kelahiran anak guru Hatimbulan. Menurut kepercayaan, anak yang lahir kembar sepasang akan membawa bencana. 

Untunglah guru Hatimbulan mengerti akan kekhawatiran orang-orang di kampungnya. Ketika menginjak dewasa, ia memisahkan kedua anaknya tersebut. 

Si Tapi Raja Na Uasan dikirim ke rumah bibinya di kampung yang jauh jaraknya dari rumah mereka. Dengan memisahkan anaknya ini, guru Hatimbulan berharap bisa mencegah bencana yang akan menimpa dirinya dan kampungnya. 

Ternyata dugaan guru Hatimbulan salah. Si Aji Donda Hatahutan diam-diam mencari saudara perempuanya. Setelah bertemu, kedua saudara kembar itu kembali ke kampung mereka. 

Ketika tiba di tengah hutan, mereka beristirahat sebentar. Si Aji Donda Hatahutan pergi mencari buah untuk makan mereka, sementara itu Si Tapi Raja Na Uasan menunggu di bawah pohon bersama dengan anjing kesayangannya. 

Rupanya pohon yang dipanjat oleh Si Aji Donda Hatahutan adalah sebuah pohon ajaib. Dalam sekejab, tubuh Si Aji Donda Hatahutan menempel di pohon tersebut, hanya kepalanya saja yang terlihat namun tetap tidak bisa bergerak. 

Melihat saudaranya menempel dipohon, Si Tapi Raja Na Uasan berusaha untuk menyelamatkan. Namun sayang ia juga ikut menempel. Begitu juga dengan anjingnya, ikut menempel di pohon dan hanya kepala mereka saja yang terlihat. 

Berita bahwa SI Aji Donda Hatahutan mengajak adiknya pulang telah terdengar oleh guru Hatimbulan. Takut terjadi sesuatu hal yang buruk menimpa kedua anaknya, guru Hatimbulan kemudian mencari mereka dengan membawa empat orang Datu sakti. 

Akhirnya guru Hatimbulan menemukan kedua anak kembarnya dan anjing kesayangan SI Tapi Raja Na Uasan. Datu yang ikut tersebut mencoba menyelamatkan , tapi mereka juga ikut menempel. 

Guru Hatimbulan kemudian memanggil seorang Datu yang paling sakti bernama Datu Si Tabo Dibabana. 

“Yang sudah menempel pada pohon ini sudah tidak dapat dihidupkan kembali. Lebih baik pohon ini ditebang agar tidak ada korban lagi.” Saran Datu Si Tabo Dibabana. 

Akhirnya guru Hatimbulan menebang pohon tersebut. Kayu dari pohon itu, kemudian di buat sebuah tongkat dengan dilukis wajah orang-orang yang mati menempel, termasuk anjing kesayangan Si Tapi Raja Na Uasan. Tongkat itu hingga sekarang dikenal dengan nama “Tunggal Panaluan.” 

PESAN: Patuhilah larangan orang tua, karena kalau melanggar larangan bisa berakibat buruk pada diri kita sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar