Kamis, 31 Juli 2014

Si Bodoh

Cerita Dari Cina 

Dulu ada seorang nelayan yang sangat bodoh hingga orang-orang di sekitarnya memanggilnya dengan sebutan “Si Bodoh”. Ia tidak pernah bersekolah sehingga tidak ada ilmu yang ia miliki selain cara menangkap ikan dengan anak panah. Setiap hari ia selalu pergi kelaut untuk menangkap ikan. 

Bekalnya adalah seikat anak panah dan sebungkus nasi untuknya makan serta sebotol air untuknya minum. Karena ia sangat rajin maka kemampuannya menangkap ikan selalu terasah. Anak panahnya selalu tepat mengenai sasaran sehingga setiap hari ia selalu membawa ikan yang sangat banyak untuk dijual. 


Pada suatu hari, seperti biasanya Si bodoh pergi ke laut untuk mencari ikan. Saat itu langit mendung, tapi Si Bodoh tetap membawa perahunya ke laut. Angin bertiup sangat kencang dan tak lama kemudian badai datang. Ombak bergulung sangat besar hingga membuat perahu Si Bodoh terombang-ambing menuju kea rah pantai dan akhirnya terbalik. Untunglah Si bodoh pandai berenang, namun seikat anak panah miliknya jatuh ke laut yang tidak begitu dalam. 

Si bodoh kemudian menarik perahunya yang terbalik itu untuk menandai tempat jatuhnya seikat anak panah miliknya. “Besok kalau cuaca sudah membaik aku akan mencarinya.” Pikir Si Bodoh sebelum ia berenang menuju pantai dan pulang ke rumahnya. 

Keesokan harinya cuaca sangat cerah. Para nelayan yang lainnya sudah terlebuh dahulu pergi ke laut. Si Bodoh sedikit kesiangan hari ini karena kelelahan berenang kemaren. Ia melihat perahunya masih dalamkeadaan terbalik dan terombang-ambing ditengah lautan. 

“JAuh juga ternyata kemaren aku berenang, pantas saja badanku sekarang sakit semua.” Pikir Si Bodoh. 

Si Bodoh kemudian menumpang perahu milik temannya menuju perahu miliknya yang terbalik. Setelah Si Bodoh dibantu oleh temannya membalikkan perahu, ia pun bersiap-siap untuk menyelam ke dalam laut. 

“HAi Bodoh, apa yang akan kau lakukan?” tanya temannya heran. 

“Aku akan mengambil anak panahku yang terjatuh di sini kemaren.” Jawab Si Bodoh 

“Apa kau yakin anak panahmu jatuh di sini?” 

“Ya, aku yakin sekali karena aku sudah membuat tanda di tempat jatuhnya anak panahku.” 

Sebelum temannya sempat bertanya lagi, Si Bodoh sudah terjun menyelam ke dalam laut. TAk lama kemudian Si Bodoh muncul. 

“Mana anak panahmu?” tanya temannya ketika melihat Si Bodoh muncul tanpa membawa apapun. 

“Tidak ada. Coba aku cari sekali lagi.” 

Si Bodoh kembali menyelam ke dalam laut. TAk lama kemudian ia muncul dan tetap tidak membawa apapun. “Anak panahku tidak ada, padahal di sini kemaren anak panah itu jatuh. Aku tidak mungkin salah membuat tanda.” Kata Si Bodoh. 

“Mana tanda yang kau buat?” teman si Bodoh penasaran karena sedari tadi ia tidak melihat satu pun tanda di sekitar perahunya berada. 

“Perahuku itu tandanya.” 

“Maksudmu kau menandai tempat jatuhnya anak panahmu itu dengan perahu?” tanya teman Si Bodoh lagi. 

“Iya benar.” 

Mendengar jawaban Si Bodoh temannya tertawa terbahak-bahak, “dasar bodoh.” 

“Kenapa kau malah menertawaiku?” 

“Jelas saja aku tertawa. Kau tahu bodoh, perahu itu akan terombang-ambing terbawa air atau di tiup angin. Jadi tempat perahu ini berada kemaren dengan sekarang sudah berbeda. Perahu ini sudah berpindah tempat dari tempatnya semula sekarang, kau mengerti?” 

Si Bodoh memang tidak pernah tahu akan hal itu. Sekarang ia harus bersusah payah membuat anak panah baru. Kebodohannya membuat dirinya harus kehilangan banyak waktu mencari ikan karena waktunya ia gunakan untuk membuat anak panah. 

PESAN 
Carilah ilmu sebanyak mungkin, tidak hanya dibangku sekolah, tapi juga belajarlah dari pengalaman dan kejadian di sekitar kita karena ilmu apapun yang kita miliki pasti akan berguna suatu saat nanti

Sergevan Si Pemburu Rusa

Cerita Dari Finlandia 

Sergevan adalah anak muda yang sangat pemberani. Ia tinggal di negeri es dan sangat suka berburu rusa hingga ia dikenal sebagai si pemburu rusa. Sebagai pemburu muda Sergevan memang belum begitu pintar sehingga tidak banyak rusa yang sudah berhasil diburunya. Namun demikian, ia tidak pernah putus asa. Berbagai hutan cemara ia jelajahi selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Sergevan sangat ingin mecari pengalamn sebanyak-banyaknya hingga ia bisa menjadi seorang pemburu rusa yang ahli. 

Ketika berburu Sergevan bisa menginap di mana saja. Bisa di gua atau terkadang di rumah-rumah penduduk yang berbaik hati memberinya tumpangan. Suatu ketika Sergevan melewati sebuah rumah kecil saat badai mulai datang. Sergevan mengetuk rumah tersebut hendak memohon ijin menumpang di sana. 

“Masuklah anak muda, diluar udara sangat dingin.” Seorag nenek tua membukakan pintu, dialah pemilik rumah kecil itu. 

“Bolehkah aku menumpang menginap di sini nek?” tanya Sergevan. 

Nenek itu tersenyum ramah sambil menjawab, ”tentu saja boleh, bahkan aku sangat senang karena aku tidak sendirian hari ini.” 

Nenek itu menghidangkan secangkir susu hangat bagi Sergevan yang menghangatkan diri di depan perapian. Karena kelelahan akhirnya Sergevan tertidur. 

Keesokan harinya nenek yang baik hati tersebut menyiapkan sarapan bagi Sergevan. Keduanya menikmati makan pagi berupa segelas coklat hangat dan roti panas yang lezat buatan nenek. 

“Apakah kau akan berburu anak muda?” selidik si nenek. 

“Benar nek, sudah lebih dari satu minggu aku menjelajah hutan.” 

“Apa kau sudah menemukan rusa untuk kau tangkap?” tanya si nenek lagi. “Belum seekor pun rusa yang aku temui nek.” 

“Dulu ada seorang pemburu hebat yang juga sempat menginap di rumah ini.” 

“Maukah kau bercerita tentang si pemburu hebat itu, nek. Aku sangat ingin menimba ilmu dari pengalamannya berburu,” pinta Sergevan penuh semangat. 

“Tentu saja anak muda. Pemburu hebat itu dulu seringkali bernyanyi di hutan. Nyanyiannya itu ia maksudkan untuk memanggil rusa agar datang.” 

“Lalu apa lagi yang ia lakukan nek?” Tanya Sergevan tidak sabar menunggu terusan cerita si nenek. 

“Ia juga suka berburu ketika angin berhembus. Oleh karena itu ia selalu…..” 

Belum selesai nenek itu bercerita Sergevan langsung memotongnya, “pasti ia selalu berhasil menangkap rusa. Kalau begitu aku akan pergi sekarang juga nek, di luar angin sedang berhembus. Ini saatnya aku pergi, terima kasih nek atas nasehatnya.” 

Si nenek tidak sempat berbicara apa-apa ketika Sergevan keluar dari pintu rumahnya menuju ke hutan dengan langkah cepat. 

Beberapa hari kemudian Sergevan kembali ke rumah si nenek. Ia terlihat lesu karena gagal menangkap rusa. “Aku memang tidak berbakat jadi pemburu rusa nek. Dengan menuruti nasehat nenek yang berasal dari pemburu hebat itu pun aku tidak berhasil menangkap rusa setelah beberpa hari di dalam hutan.” 

“Memangnya apa yang telah kau lakuakn anak muda?” 

“Aku sudah bernyanyi untuk memnaggil rusa, tapi tak ada satupun rusa yang terlihat, bahkan kelebat bayangannya pun tidak.” 

Si nenek tersenyum,”anak muda, rusa akan berlari menjauh kalau mendengar nyanyian pemburu.” 

“Tapi kata nenek itu yang dilakukan oleh si pemburu hebat, lalu aku pun sudah ke hutan ketika angin berhembus, tapi yang kulakukan kali ini juga tidak berhasil. Tetap saja tidak ada satu pun rusa yang terlihat.” 

“Anak muda, kemaren itu aku belum selesai member nasehat padamu, tapi kau sudah memotong perkataanku dan langsung pergi. Sebenarnya aku ingin bilang oleh karena hal-hal yang aku ceritakan padamu itu, si pemburu hebat selalu gagal.” 

“Bagaimana bisa begitu?” tanya Sergevan. 

“Tentu saja anak muda. Rusa akan berlari menjauh jika mendengar ada suara manusia, apalagi ketika mendengar manusia bernyanyi. Rusa juga mempunyai penciuman yang sangat baik, sehingga ia bisa mencium bau manusia walaupun jaraknya jauh dengan bantuan angin. OLeh karena itu baumu akan tercium jika kau pergi ke hutan ketika angin berhembus searah dengan arah yang kau tempuh.” 

“Kalau begitu sekarang aku akan mendengar nasehatmu hingga selesai nek.” Serevan mendengarkan nasehat nenek hingga selesai, baru kemudian ia berpamitan. Berkat nasehat dari nenek, Sergevan kemudian terkenal sebagai pemburu rusa yang pintar. Ia tidak pernah gagal menangkap rusa setiap kali pergi berburu ke hutan. 

PESAN 
Menuntutlah ilmu dari seseorang yang telah berpengalaman dan cermatilah setiap pelajaran yang diberikan dari awal hingga akhir. Karena pelajaran yang setengah-setengah diterima akan menimbulkan salah pengertian.

Rabu, 30 Juli 2014

Putri Senaya

Cerita Dari Republik Ceko 

Putri Senaya adalah putri Raja Ronas yang cantik dan pintar. Setiap hari Putri Senaya selalu bermain-main dengan ditemani oleh binatang peliharaannya yaitu Argo dan Kima. Argo adalah seekor anjing hutan yang cerdik dan Kima adalah seekor monyet yang lincah. 

Kecantikan Putri Senaya juga terkenal di negeri tetangga. BAnyak Pangeran yang datang melamar Putri Senaya untuk menjadi permaisuri mereka. Sayangnya diantara pangeran tersebut belum ada yang disukai oleh Putri Senaya. 

HIngga pada suatu hari datang Pangeran Lorka. Pangeran ini terlihat sangat jahat dari wajahnya. Ia datang dengan membawa pasukan yang asangat banyak jumlahnya, layaknya seperti akan pergi berperang. 

“Aku menginginkan Putri Senaya untuk menjadi permaisuriku,” kata Pangeran Lorka kepada raja Ronas. Seperti biasanya, Raja Ronas memanggil dan meminta jawaban langsung dari Putri Senaya. 

“Apakah kau mau menerima lamaran PAngeran Lorka putriku?” tanya Raja Ronas. 

“Melihat wajahnya saja aku sudah ketakutan, apalagi menjadi permaisurinya,” begitu pikir Putri Senaya. 

Putri Senaya kemudian memberikan jawaban yang jujur kepada Pageran Lorka, “aku tersanjung karena Pangeran yang perkasa sepertimu ingin menjadikanku sebagai permaisur. Tapi mohon maaf karena aku belum bisa menerima lamaranmu.” 

Pangeran Lorka sangat marah hingga ia langsung berdiri dan berkata dengan kasar, “ kalau begitu aku nyatakan perang sekarang juga terhadap kerajaan ini.” 

Dalam sekejab pasukan yang menyertai Pangeran Lorka langsung menyerbu kerajaan Raja Ronas. Karena serbuan yang mendadak dan jumlah pasukan Pangeran Lorka sangat banyak, maka Kerajaan Putri Senaya dalam waktu yang tidak begitu lama bisa dikuasai oleh PAngeran Lorka. Raja kemudian ditangkap dan ditawan disebuah gua di dalam hutan. Di luar Gua itu terdapat segerombolan semut besar dan dua ekor kera besar sehingga tidak ada satu orang pun yang bisa melepaskan Raja Ronas dari sana. 

Putri Senaya sangat sedih dan ia pun ingin menolong ayahnya, juga merebut kembali kerajaan dari Pangeran Lorka. Semalaman Putri Senaya tidak bisa tidur memikirkan cara untuk membebaskan ayahnya dan juga mengusir Pangeran Lorka dari kerajaannya. 

Maka pada keesokan harinya, Putri Senaya pergi menghadap Pangeran Lorka, “aku menyerah Pangeran. Aku bersedia menjadi permaisurimu, tapi untuk dapat melangsungkan pernikahan kita, maka ayahku harus dihadirkan di sini. Aku mohon sebagai calon menantu yang baik, bebaskanlah ayahku. Buktikan padaku bahwa kau adalah benar-bear seorang pangeran perkasa yang memang pantas menjadi suamiku nanti. Oleh karena itu bebaskanlah ayahku dengan tanganmu sendiri.” 

Mendengar ucapan Putri Senaya, Pangeran Lorka sangat gembira. Tanpa pikir panjang ia langsung pergi untuk mengambil kembali Raja Ronas di dalam gua. Namun tanpa sepengetahuan Pangeran Lorka, diam-diam Kima, monyet peliharaan Putri Senaya telah memercikkan madu ke seluruh permukaan baju yang dipakai oleh Pangeran Lorka. 

Secara diam-diam, Putri Senaya mengikuti PAngeran Lorka menuju ke gua tempat Raja Ronas ditawan. Putri Senaya telah membawa satu tandan pisang dan sekaleng minyak tanah. Ketika sudah mendekati gua, Putri Senaya membaasahi bajunya dengan minyak tanah. Ia beserta Kima dan Argo menunggu ditempat tersembunyi sambil terus mengamati Pangeran Lorka. 

Sementara itu Pangeran Lorka mulai memasuki gua. Di bagian pintu gua di jaga oleh segerombolan semut besar. Sedikit saja orang menyenggolnya, bisa dipastikan gerombolan semut-semut itu pasti akan pudar dan menyerang manusia yang ada di dekatnya. Mengetahui hal itu, PAngeran Lorka berjalan dengan hati-hati. NAmun karena mencium bau madu pada baju 

Pangeran Lorka, semut-semut itu justru mengikutinya. Sedikit demi sedikit badan PAngeran Lorka dikerubuti oleh semut hingga akhirnya tidak ada bagian tubuh Pangeran Lorka yang terlihat. PAngeran Lorka bergulingan menahan sakit karena sengatan semut-semut besar itu sebelum akhirnya ia tidak bergerak sama sekali. 

Setelah melihat keadaan aman, maka Putri Senaya dengan diikuti oleh Argo dan Kima berjalan menuju gua. Baju Putri Senaya yang berbau minyak tanah membuat gerombolan semut-semut itu menjauh. Putri Senya juga tidak lupa memercikkan minyak tanah disepanjang jalan yang dilaluinya di dalam gua agar ketika keluar nanti ia tidak tersesat. 

Ketika sampai di dalam gua, dua ekor monyet besar telah menghadangnya. Putri Senaya kemudian memberikan setandan pisang yang dibawanya. Kedua monyet itu sangat senang dan menikmati pisang yang dibawa oleh Putri Senaya. Sehingga mereka tidak mempedulikan ketika Putri Senaya membebaskan ayahnya. 

Bahkan ketika Putri Senaya, Raja Ronas, Kima dan Argo berjalan keluar, kedua monyet besar itu masih asyik menikmati pisang. Dengan kemampuan penciuman Argo yang tajam, mereka semua bisa keluar dari gua dengan selamat. Dengan kepintarannya Putri Senaya telah bisa menyelamatkan ayahnya dan juga negerinya. 

PESAN 
Orang yang pandai bisa mengalahkan orang yang kuat. Namun kalau kalian menjadi orang pintar, gunakan kepintaran itu untuk kebaikan.

Langkah Mudah Menulis Novel

Seringkali kita sudah memiliki ide cerita sebagai bahan dasar dalam menulis sebuah novel. Namun seringkali pula kita bingung akan mulai menulis dari mana. Kita juga sringkali dibingungkan dengan jalan cerita yang akan kita buat. 

Menulis novel sama halnya dengan merancang sebuah cerita dari awal hingga akhir. Apa yang terjadi di akhir cerita merupakan perubahan dari apa yang terjadi di awal cerita. Perubahan ini bisa terjadi ketika ada konflik diantaranya. Semakin baik rancangan cerita yang kita buat maka akan semakin baik pula novel yang bisa kita hasilkan. 

Beberapa langkah mudah dalam menulis novel berikut ini dikenal sebagai metode Snowflake (http://bubblecow.net/see-how-easily-you-can-write-a-novel-using-the-snowflake-method/) seperti yang disampaikan Randy Ingermanson (situsnya http://www.advancedfictionwriting.com/)

1. Inti novel ditulis dalam satu kalimat.
2. Satu kalimat tersebut kemudian diperpanjang menjadi satu paragraf yang isinya merupakan kejadian utama dalam novel, lengkap dengan akhir cerita. 
3. Setiap kalimat diatas diperpanjang lagi menjadi satu paragraf. Dimana setiap paragraf harus berakhir dengan bencana (Masalah). Sedangkan paragraf terakhir berisi bagaimana cerita yang akan kita buat berakhir. 
4. Pikirkan tokoh utama serta ringkasan cerita. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan antara lain : 
  • Apa yang membuat tokoh utama bertindak?(Motivasi)
  • Apa yang diinginkan oleh i tokoh utama? (Tujuan)
  • Hal apa yang bisa mencegah si tokoh utama dalam mencapai keinginannya? (Konflik)
  • Apa yang dipelajari oleh tokoh utama dan bagaimana ia bisa berubah? (Pencerahan)
  • Garis kehidupan tokoh utama yang meliputi kelahiran, masa kecil dll. 
5. Buat deskripsi setiap tokoh-tokoh penting dalam cerita.
6. Satu halaman dari rigkasan cerita yang telah kita buat kemudian kita kembangkan menjadi empat halaman. 
7. Buat deskripsi karakter tokoh dalam cerita menjadi lebih lengkap dan lebih detail lagi. 
8. Buat daftar adegan yang dibutuhkan dengan menggunakan sinopsis empat halaman yang kita miliki.
9. Buat inti cerita dari setiap adegan yang kita buat dari daftar adegan yang sudah ada.
10. Tulis draft pertama 


Pemburu Dan Burung Snipe

Cerita Dari Norwegia 

Seorang pemburu setiap hari pergi ke hutan. Ia berburu bianatang apapun yang ditemui di hutan untuk kemudian dagingnya dijual ke pasar. Pemburu itu sangat pintar membidikkan senapannya hingga tak ada seekor binatang pun yang bisa lepas kalau sudah dalam incarannya. 

Pada suatu hari ketika si pemburuberjalan menuju hutan, di tengah perjalanan ada seekr burung Snipe yang sudah menunggunya. Pemburu itu segera menyiapkan senapannya untuk dibidikkan kea rah burung snipe yang sekarang berdiri tepat dihadapannya. 

“Apakah kau mau membidikku dengan senapanmu itu tuan pemburu?” tanya burung snipe sambil menatap si pemburu. 

“Tentu saja aku tidak akan melewatkan buruanku.” 

“Tapi aku bukan buruanmu tuan pemburu. Aku sengaja berdiri di sini untuk menunggu kedatanganmu sejak tadi.” 

Si pemburu heran dan menurunkan senapannya, “berani sekali kau ini burung snipe, tidakkah kau takut aku akan menembakmu.” 

Aku lebih takut jika kau menembak anak-anakku.” Jawab burung snipe. 

“Mana aku tahu anak-anakmu diantara sekian banyak burung snipe yang akan aku tembak.” 

“Jika kau lihat burung-burung snipe yang cantik-cantik, maka itulah anak-anakku tuan pemburu.” 

“Baiklah aku tidak akan menembak anak-anakmu dan juga menembakmu. Aku kagum pada keberanian serta kasih sayang mu terhadap anak-anakmu.” 

Si pemburu kemudian melanjutkan perjalanannya menuju ke dalam hutan. Hari itu terasa sangat sepi. Hari sudah siang namun pemburu belum juga mendapatkan seekor pun binatang buruan. 

“Ke mana semua perginya binatang-binatang dalam hutan ini,” pikir si pemburu kesal.

Si pemburu kemudian beristirahat sebentar di bawah sebuah pohon rindang di pinggir danau di dalam hutan. Angin yang bertiup sepoi-sepoi hampir saja menidurkan si pemburu. Namun kemudian ia terbangun mendengar suara riuh. Ternyata suara itu datangnya dari bagian lain di pinggir danau tak jauh dari tempat si pemburu beristirahat. Segerombolan burung sedang bermain dan bercanda di sana. 

“Dasar burung-burung jelek. Mengganggu tidurku saja,” NAmun kemudian mata si pemburu menjadi terbuka lebar dan menyadari bahwa segerombolan burung yang sedang bermain di pinggir danau itu adalah rejekinya hari ini. 

Si pemburu menyiapkan senapannya dan siap membidik. Dengan tembakan yang beruntun segerombolan buruung itu mati dan terkapar di atas rumput. Pemburu itu kemudian mengambil burung itu satu bersatu dan mengumpulkannya menjadi satu agar mudah di bawa. 

“Memang nasib baik. Lumayan pendapatanku hari ini. Sekarang aku bisa pulang.” Si pemburu berjalan pulang dengan menenteng lebih dari sepuluh ekor burung . Di tengah jalan ia kembali bertemu dengan burung snipe. Kali ini ia terlihat sedih dan menangis. 

“Kau tidak menepati janjimu tuan pemburu.” 

“Janji yang mana burung snipe. Aku tidak menembak anak-anakmu hari ini.” 

“Tuan pemburu, burung-burung yang ada tentenganmu itu semua adalah anak-anakku.” Jelas burung snipe sedih. 

“Bagaimana mungkin burung snipe, kau tadi bilang bahwa anak-anakmu adalah burung-burung snipe yang cantik. ” 

“Yang kau tenteng itu adalah burung-burung snipe tuan pemburu.” Tegas burung snipe 

“Iya, tapi ini adalah burung snipe jelek, bukan yang cantik,” sanggah si pemburu. 

“Bagiku itu adalah burung-burung snipe tercantik tuan pemburu karena itu adalah anak-anakku.” 

Namun apa boleh buat, semuanya sudah terlanjur. Anak-anak burung snipe sudah mati ditembak pemburu karena salah pengertian pemburu atas apa yang dikatakan oleh burung snipe. 

PESAN 
Sampaikan pesanmu sejelas mungkin agar orang lain tidak salah menafsirkan sendiri hingga akhirnya nanti bisa merugikan diri kita sendiri atau pun orang lain.

Ratu Yang Pelit

Cerita Dari Irak 

Raja adalah seorang yang sangat baik. Ia juga bijaksana dan dermawan, jadi tidak heran kalau sang raja sangat dicintai oleh rakyatnya. Namun sayangnya ratu mempunyai sifat kebalikannya. Sang ratu sering marah-marah kepada setiap orang, walaupun orang tersebut hanya berbuat sedikit saja kesalahan. Selain itu sang ratu juga terkenal sangat pelit. 

Sebagai bukti cinta mereka pada raja, rakyat di kerajaan tersebut seringkali mengirim makanan untuk raja. Tanpa sepengetahuan ratu, biasanya raja meminta pelayan untuk kembali memberi hadiah kepada orang yang telah mengirim makanan tersebut. 

Pernah pada suatu ketika raja dan ratu sedang duduk berdua di balkon yang terletak tepat di pinggir sungai. Pada saat yang bersamaan ada seorang nelayan yang lewat. Nelayan itu membawa muatan ikan yang sangat banyak. 

“Selamat siang tuanku raja dan ratu,” sapa nelayan itu sambil memberi hormat. Ia pun kemudian menghentikan perahunya. 

Raja tersenyum dan membalas sapaan nelayan, “selamat siang bapak nelayan. Sepertinya ini adalah hari keberuntunganmu. Aku lihat banyak sekali ikan hasil tangkapanmu hari ini.” 

“Benar tuanku raja, dan hamba juga telah menangkap seekor ikan yang paling besar.” Nelayan itu mengmbil ikan yang terbesar diantara ikan-ikan lain di dalam perahunya. 

Kemudian ia menyerahkan ikan tersebut kepada raja, “tuanku, ikan ini akan hamba berikan kepada tuanku karena hamba tahu tuanku sangat senang makan ikan.” 

Raja terlihat sangat bahagia, ia memang sangat senang makan ikan. Setiap hari di meja makan istana harus selalu ada hidangan dari ikan sebagai hidangan utama untuk sang raja. 

“Terima kasih bapak nelayan, kau telah memberikan ikan terbesar hasil tangkapanmu hari ini untukku. Sebagai tanda terima kasihku aku akan memberimu hadiah …..” 

Sebelum sang raja menyelesaikan perkataaannya, ratu cepat-cepat memotong, “sebelumnya aku perlu bertanya dulu padamu bapak nelayan, apakah ikan yang kau berikan pada raja itu adalah ikan laki-laki atau ikan perempuan?” 

Ratu yang pelit sudah merencanakan niat buruk pada si nelayan. Kalau nelayan itu menjawab bahawa ikan yang ia berikan pada sang raja adalah ikan laki-laki, maka sang ratu akan bilang kalau sang taja hanya menyukai ikan perempuan. Dan kalau bapak nelayan itu menjawab ikan yang ia berikan adalah ikan perempuan maka sang ratu akan menjawab kalau sang raja hanya menyukai ikan laki-laki. Dengan demikian ratu berharap hadiah dari raja tidak perlu diberikan kepada nelayan, melainkan bisa diambil kembali oleh ratu. 

“Mohon maaf tuanku ratu, ikan yang hamba berikan untuk tuanku raja adalah ikan yang sangat istimewa, sehingga ia bukanlah ikan laki-laki atau pun ikan perempuan.” Rupanya nelayan itu sudah tahu rencana buruk sang ratu yang sudah terkenal pelit itu. 

Sang raja yang melihat kejadian itu hanya bisa tersenyum. Diam-diam tanpa sepengetahuan ratu ia menambah jumlah uang yang dihadiahkan untuk nelayan yang pintar itu. 

PESAN 
Lebih baik menjadi orang yang dermawan yang sering bersedekah dari pada menjadi orang pelit. Karena orang yang menerima sedekah kita akan memberikan kita doa-doa yang baik untuk kita.

Jack Dan Pohon Jagung

Cerita Dari Amerika Serikat 

Jack adalah anak petani jagung. Ayahnya mempunyai ladang jagung yang sangat luas. Sayangnya Jack tidak pernah mau membantu ayahnya bekrja di lading. Padahal Jack adalah anak laki-laki tunggal yang sangat diharapkan oleh ayahnya untuk bisa menggantikannya kelak kalau dirinya sudah tua dan tidak mampu lagi mengurusi ladang. Jack lebih suka bermalas-malasan di tempat tidur atau bermain-main dengan mainannya yang banyak di dalam kamar. 

“Cobalah sekali-kali kau pergilah ke ladang jagung Jack,” bujuk ibunya 

“Malas bu, diladang tidak ada mainan.” Jawab Jack 

“Tapi di ladang kau bisa membantu ayahmu,” ibu Jack tetapberusaha membujuk anaknya. 

Namun Jack tetap tidak mau, “aku tidak suka dengan ladang Jagung.” Ibu Jack menghela nafas kemudian berjalan mendekati anaknya dan duudk disampingnya,”Jack sayang, kau suka dengan sarapan dan makanan yang ibu sediakan untukmu setiap hari?” 

“Ya, aku suka sekali bu. Aku sangat suka dengan puding jagung buatan ibu juga corn flakes dan susu ini bu,” Jack menjawab sambil terus meengunyah sarapannya. 

“Kau tahu Jack, semua makanan yang kau senangi tadi semuanya terbuat dari jagung. Lalu kenapa kau sendiri tidak mau pergi ke ladang jagung.” 

“Pokoknya aku tidak suka. Jangan paksa aku bu.” Jack sedikit kesal karena merasa dipaksa ibunya. 

Setelah sarapan Jack kembali ke dalam kamarnya dan bermain-main seperti biasanya. Ia sangat menyukai sebuah tiruan kincir angin yang cukup besar yang bisa ia naiki. Dari atas kincir angin ini ia bisa memandang seluruh mainan yang telah ia jajar di bawahnya. Di sini Jack merasa dialah yang paling hebat dibanding dengan mainan miliknya. Namun kali ini Jack merasa ada angin besar yang berhembus hingga membuatnya terjatuh dari atas kincir angin mainan miliknya itu. 

Walau pun tidak begitu tinggi sebenarnya, tapi Jack merasa tubuhnya sangat sakit, matanya berkunang-kunang dan pandangannya kabur. Ketika pandangannya sudah normal kembali Jack merasa sedang berada di tengah-tengah ladang jagung milik ayahnya yang sangat luas. Di sekeliling Jack adalah pohon jagung. Jack tidak tahu ke mana jalan keluar dari ladang jagung ini yang bisa membawanya menuju rumah. 

Jack sangat kesal karena ia berada di tempat yang paling di bencinya. Seluruh tanaman jagung di ladang itu sudah siap panen, sehingga jagung-jagung yang menguning bergelantungan di setiap pohon jagung. Jack benar-benar bingung karena setelah ia lama berjalan, ia tetap belum bisa menemukan jalan keluar dari sekumpulan pohon jagung ini. Ia juga tidak tahu di mana arah rumahnya. 

“Seandainya saja aku sering pergi ke ladang jagung ini, pastilah aku tidak akan tersesat seperti sekarang.” Pikir Jack menyesal. 

Tapi bagaimana pun juga Jack aharus secepatya menemukan jalan pulang ke rumahnya, kalau ia tidak ingin tetap berada di ladang hingga malam hari nanti. 

“Ibuuuuuu………………… Ayahhhhhh……………...” Teriak Jack minta pertolongan, tapi sayangnya baik ayah maupun ibunya tidak mendengar teriakan Jack itu. 

LAdang jagung itu terlalu luas, sedangkan Jack hanyalah seorang anak kecil dengan suara yang tidak begitu keras. Jack terus saja berjalan dan sesekali mendongak ke atas, hingga akhirnya ia menemukan sebuah batang jagung yang lebih besar dari yang lainnya. 

“Mungkin kalau aku memanjat batang jagung ini, maka aku bisa melihat di mana jalan ke rumah dari atas pohon jagung ini,” pikir Jack. 

Ia pun segera memanjat batang jagung sambil sesekali berpegangan pada daunnya yang lebar. Namun anehnya Jack merasa belum juga mencapai ujung pohon itu. Begitu melihat ke bawah, betapa kagetnya Jack karena batang jagung yang ia panjat itu semakin lama semakin menjulang tinggi ke atas. Pohon jagung itu sangat cepat pertumbuhannya. 

Jack sempat melihat ayahnya berada di atas kincir angin, ia pun berusaha memanggilnya,”Ayahhhhhh………… tolonglah aku…….” 

Walaupun terdengar sayup-sayup, namun suara Jack bisa terdengar oleh ayahnya. Ayah Jack berusaha untuk menolong anaknya, namun hal ini sangat mustahil. Pohon jagung yang di panajt oleh Jack terus meninggi dan hampir menyentuh langit. Jack semakin panik dan berteriak memanggil ibunya. 

Pada saat itu lah ibu Jack datang membangunkan Jack yang tertidur di bawah kincir angin mainan miliknya. Rupanya tadi Jack kelelahan bermain sampai akhirnya tertidur. 

“Jack….. bangun nak, sebentar lagi hari menjelang sore, pergilah mandi agar badanmu segar pada saat kita makan malam nanti.” 

Jack terbangun dan langsung memeluk ibunya. Ia pun menceritakana apa yang ia alami. “Mulai besok, aku akan sering-sering pergi ke ladang jagung milik ayah bu. Aku tidak mau tersesat lagi.” 

“Syukurlah Jack, apa yang kau alami hanyalah mimpi.” Kata ibunya dengan lembut. 

PESAN 
Janganlah menjadi anak pemalas yang hanya mau bermain-main saja. Sesekali pergilah ke luar rumah agar kau juga tahu bagaimana keadaan di lingkungan sekitarmu.

Ceret Ajaib

Cerita Dari Jepang 

Ini adalah kisah seorang tukang sampah di Jepang. Tukang sampah ini adalah seorang yang rajin bekerja dan jujur. Walaupun telah bekerja keras sepanjang hari mengambil sampah dari rumah ke rumah, namun kehidupannya tetap saja miskin. Ia hidup sendirian di sebuah rumah kecil di dekat sebuah kuil. Berapapun orang memberinya uang selalu ia terima. Si tukang sampah tidak pernah meminta uang kepada orang yang membutuhkan jasanya. Bahkan ia selalu membuang sampah kuil dekat rumahnya itu walaupun tidak dibayar. 

Pada suatu hari seorang pendeta di kuil memanggilnya. “Wahai tukang sampah, kau begitu rajin membuang sampah di kuil ini. Kami semua sangat berhutang budi padamu.” 

“Itu sudah menjadi kewajiban saya tuan pendeta,” jawab si tukang sampah sambil memberi hormat pada pendeta. 

Pendeta itu sangat menyukai sikap hormat dan rendah hati dari si tukang sampah. “Tidak ada barang berharga yang bisa kami berikan padamu sebagai imbalan kerja kerasmu selama ini untuk kami.” Kata pendeta 

“Saya melakukannya dengan senang hati tuan pendeta. Jadi saya tidak mengharapkan imbalan apapun dari anda.” 

Pendeta kemudian mengambilsebuah ceret dan diberikan kepada tukang sampah, ”Hanya ini yang bisa kami berikan untukmu sebagai tanda balas budi kami padamu.” 

“Terima kasih tuan pendeta, ceret ini pasti akan sangat berguna untuk saya,” Tukang sampah menerima ceret tersebut dengan senang hati. 

Sesampainya dirumah, ceret itu ia isi dengan air dan diletakkan di meja dekat dengan tempat tidurnya. Tukang sampah ini mempunyai kebiasaan selalu minum air putih setiap pagi. Namun pada keesokan harinya si Tukang sampah dikejutkan oleh suara kecil yang membangunkan dirinya. 

“Tukang sampah yang baik hati……. Bangunlah, hari sudah siang. “ 

Tukang sampah membuka matanya dan mencari-cari dari mana asal suara yang sudah membangunkan dirinya itu. “Kau harus bekerja sekarang.” Kata suara kecil itu lagi. 

Kembali si tuang sampah menengok ke kiri dan ke kanan, namun ia tidak menemukan ada seorang manusia pun di dekatnya. “Aku di sini tukang sampah. Aku ada diatas meja dekat tempat tidurmu.” 

Tukang sampah memandangi ceret yang ia letakkan di atas meja,”kaukah itu yang berkata, ceret?” 

“Benar tukang sampah. Aku adalah ceret yang diberikan oleh tuan pendeta kepadamu.” 

“Sungguh beruntungnya aku mendapatkan ceret ajaib sepertimu.” 

Ceret itu menjadi tersipu karena dikatakan sebagai ceret ajaib, “ aku akan menolongmu tukang sampah agar kau bisa mendapatkan uang yang bayak setiap hari dan kehidupanmu meningkat.” 

"Tapi aku tidak mau uang dari keajaiban. Aku lebih suka bekerja keras untuk mendapatkan uang.” Jawab si tukang sampah 

“Kita akan bekerja keras berdua dengan keajaibanku.” 

“Apa maksudmu?” tanya tukang sampah masih tidak mengerti. 

“Aku bisa menari dan bernyanyi. Kau bisa memanggil banyak orang untuk melihat keajaibanku ini. Mereka nanti akan memberikan uang sebagai bayaran telah menonton diriku. Nanti uang yang terkumpul bisa kau pakai untuk kehidupanmu sehari-hari.” Terang ceret ajaib. 

MAka tukang sampah menuruti apa yang dikatakan ceretajaib. Semua orang kemudian ingin melihat ceret ajaib yang bisa menari dan bernyanyi. Uang yang dikumpulkan oleh tukang sampah setiap hari dari pemberian orang-orang tersebut sangat banyak hingga ia lama kelamaan menjadi orang kaya. Walaupun ia telah menjadi orang kaya, si Tukang sampah tetap bekerja mengambil sampah demi untuk menolong banyak orang yang membutuhkan jasa dirinya. 

PESAN 
JAdilah anak yang rendah hati dan selalu menolong siapapun yang membutuhkan bantuan kita dengan tulus ikhlas.

Kebenaran Dan Kuantitas

Seringkali orang menganggap bahwa yang banyak itu adalah yang benar. Padahal tidak jarang justru yang sedikit itulah yang benar. 

Lalu mengapa justru yang seringkali terjadi adalah kesalahan berjamaah? Ini karena kebanyakan orang malas untuk berpikir dan tidak pintar menelaah dengan logika mereka. 

Kebanyakan orang akan menerima begitu saja sebuah argumen yang diucapkan oleh segelintir orang yang dianggap benar. Ketika ada banyak orang yang ikut-ikutan bodoh dengan mengiyakan argumen itu maka akan semakin banyak lagi orang yang terjerumus dengan mengiyakan argumen yang salah itu. 

JAdilah argumen yang salah itu dianggap sebagai kebenaran berjamaah ketika ada segelintir orang dari golongan biasa saja yang berpikir pintar dan tidak mau menerima begitu saja argumen salah yang telah dibenarkan secara berjamaah itu, maka orang-orang pintar itu justru dianggap salah hanya karena mereka adalah kaum minoritas. 

Selasa, 29 Juli 2014

Bibi Greenleaf (2)

Namun berita buruk tentang rusa putih jelmaan bibi Greenleaf sudah terlanjur menyebar dan sebagian besar orang-orang desa telah mempercayainya. Orang-orang desa itu juga percaya bahwa penyakit yang menyerang anak-anak mereka itu adalah sihir yang disebarkan oleh bibi Greenleaf yang menjelma menjadi rusa putih. 

Semakin hari cuaca semakin buruk dan semakin banyak anak-anak bahkan orang tua yang terkena penyakit flu. Hal ini tentu saja membuat penduduk desa yang sudah termakan isu tentang sihir bibi Greenleaf menjadi cemas. Hingga akhirnya beberapa orang-orang desa berkumpul dan membicarakan cara untuk menghindarkan desa mereka dari sihir jahat bibi Greenleaf. 

“Kita harus mengusir perempuan itu dari desa ini,” usul salah seorang yang duduk paling depan. 

“Tapi bagaimana caranya, sedangkan kita sendiri belum pernah melihat wajah wanita penyihir itu, lagi pula apakah kita semua mampu melawan sihirnya,” sahut yang lain. 

Diantara sekian banyak orang yang berada di sana, ada seorang pemuda yang menyampaikan sebuah pertimbangan, “apakah kita semua yakin bahwa sihir bibi Greenleaf yang membuat banyak penduudk kita sakit. Bukankah dokter sudah mengatakan bahwa ini adalah penyakit flu, dan kita semua tahu cuaca memang sangat buruk. Lagi pula tidak ada satu pun bukti yang menunjukkan adanya keterlibatan bibi Greenleaf di sini.” 

Sesaat ruangan menjadi sunyi. Masing-masing yang hadir di sana memmpertimbangkan ucapan pemuda tadi. Hingga salah seorang berseru. “Apakah munculnya rusa putih itu bukan merupakan sebuah bukti yang kuat. Sampai sekarang pun masih sering rusa itu berkeliaran di desa dan banyak diantara kita yang melihatnya.” 

“Kalau begitu bagaimana kalau kita tangkap saja rusa putih itu untuk mengetahui apakah rusa itu merupakan jelmaan bibi Greenleaf atau bukan.” Usul seseorang yang hadir di sana dan di setujui oleh semua yang hadir saat itu. 

Keesokan harinya para laki-laki di desa bersiap-siap dengan senapan yang diisi dengan peluru perak yang diyakini bisa mengalahkan sihir. Masing-masing sudah bersembunyi ditempat yang berlainan untuk mengawasi datangnya rusa putih. Angin dingin dan hujan salju tidak mereka hiraukan. 

Setelah menunggu beberap lama, salah satu dari penduduk desa melihat bayanga rusa putih, ia pun segera mengarahkan senapannya dan memberikan tembakan ke arah rusa putih. Walaupun tidak mengenai rusa putih, namun tembakan itu menjadi tanda bagi yang lain bahwa rusa putih sudah muncul. Mereka kemudian bersiap-siap dan sebagian berusaha mengejar rusa putih yang berlari ke arah hutan. 

Ketika pengejaran mereka hamper mendekati rumah bibi Greenleaf, muncul seorang perempuan muda yang berjalan cepat ke arah desa. Melihat banyak orang yang menuju ke arahnya, perempuan muda itu pun berkata,”bisakah kalian menolongku memanggilkan dokter. Bibiku sedang sakit keras di rumahnya.” 

Orang-orang desa yang tidak mengenal perempuan itu saling berpandangan. “Siapa kamu dan siapa bibimu? Kami belum pernah melihatmu sebelumnya di sini.” Tanya salah seorang penduduk desa. 

“Aku adalah keponakan bibi Greenleaf yang tinggal dipondokan di ujung jalan itu. Kemarin aku membawa bibiku menengok rumahnya yang sudah lama ia tinggalkan, tapi cuaca di sini sangat buruk hingga bibiku ekarang jatuh sakit. 

Penduduk desa yang berada di situ saling berpandangan. Mereka merasa malu bahwa sangkaan mereka selama ini tentang bibi Greenleaf seorang penyihir adalah tidak benar. Selama ini bibi Greenleaf yang sudah tua itu tinggal bersama keponakannya sehingga rumahnya sudah lama sekali ia tinggalkan hingga nampak kotor. Sebagai ungkapan maaf atas prasangka buruk mereka, maka segeralah dipanggilkan dokter untuk mengobati bibi Greenleaf yang juga terserang flu. 

Penduduk desa mnjadi percaya bahwa penyakit yang menimpa banyak penduduk desa adalah karena cuaca buruk, bukan karena sihir. 

PESAN 
Jangan pernah berprasangka buruk terhadap seseorang apalagi menuduh seseorang tanpa bukti yang jelas, karena itu akan menjadi fitnah yang bisa membuat orang yang dituduh menjadi menderita padahal ia belum tentu bersalah.

Bibi Greenleaf (1)

Cerita Dari Amerika Serikat 

Di dekat hutan, di sebuah ujung jalan pinggir desa terdapat sebuah pondokan tua yang sangat kotor. Para penduduk desa tidak pernah melihat siapa penghuninya. Yang mereka ketahui bahawa di rumah itu tinggal seorang penyihir wanita yang sudah tua. Menurut orang-orang tua di desa, penyihir itu bernama Greenleaf, biasanya mereka memanggil dengan nama bibi Greenleaf. Sayangnya tak seorang pun penduduk desa itu yang pernah melihat bagaimana rupa bibi Greenleaf. 

Banyak cerita buruk yang beredar di desa tentang bibi Greenleaf. Misalnya saja tentang kemampuan sihir bibi Greenleaf yang bisa mematikan orang. Ada lagi yang bilang bahwa seseorang yang pernah memasuki halaman bibi Greenleaf tak lama kemudian jatuh sakit dan lumpuh. 

Masih banyak lagi cerita-cerita buruk lainnya. Oleh karena itu hingga kini tak ada seorang pun apalagi anak kecil yang berani lewat di depan rumah bibi Green leaf., apalagi memasuki rumahnya. Walau pun sebenarnya para penduduk desa itu peasaran pada kehidupan bibi Greenleaf yang sangat misterius itu. 

Pada suatu hari di musim dingin tiba-tiba terdengar kabar aneh yang ramai dibicarakan di desa. “Aku melihat seekor rusa putih tadi malam,” kata salah seorang penduduk laki-laki di desa. 

Beberapa temannya membenarkan, ”ya….aku juga pernah melihatnya dan rusa itu lari menuju jalanan kearah pinggir hutan.” 

“Apa mungkin itu adalah salah satu rusa yang tersasar dari hutan?” Tanya yang lainnya. 

“Walaupun itu adalah rusa dari hutan, pastilah itu rusa jadi-jadian.” 

“Atau bisa jadi itu rusa jelmaan bibi Greenleaf.” 

Perkiraan orang ini membuat yang lainnya menjadi cemas. Apalagi beberapa hari kemudian banyak anak-anak kecil di desa tersebut yang sakit. Menurut analisa dokter anak-anak ini sakit flu karena cuaca yang teramat dingin.

Jumat, 25 Juli 2014

Niat Buruk Si Nelayan

Cerita Dari Uzbekistan 

 Ada seorang nelayan tua yang sudah tidak kuat lagi untuk pergi mencari ikan ke laut. Untuk menyambung hidupnya ia hanya mengandalkan dari hasil memancing yang tentu saja tidak sebanyak hasil menangkap ikan dilaut dengan jaring. 

Setiap hari ia pergi ke sebuah karang yang letakkanya menjorok ke laut. Di bawah karang itu banyak sekali ikan sehingga si nelayan tua akan mendapatkan ikan yang lumayan jika ia memancing dari pagi hingga sore hari. 

Suatu hari, ketika si nelayan tua menunggu pancingnya termakan ikan, datanglah seekor burung besar. “Apa yang kau lakukan di sini nelayan tua,” tanya burung besar . 

Nelayan tua itu kaget melihat burung besar yang bisa bicara. “Ini pasti burung ajaib,” pikir si nelayan. “Aku memancing ikan untuk aku jual.” Jawab si nelayan tua. 

“Orang tua sepertimu mengapa masih saja bekerja keras. Seharusnya kau sudah bersantai di rumah menikmati hari tuamu.” 

“Aku hanya hidup sendiri, tidak ada satu pun saudara bahkan anak yang aku punya.” 

“Kasihan sekali kau nelayan tua. Aku akan menolongmu. Setiiap pagi datanglah ke tempat ini. Kau tidak perlu lagi memancing ikan seharian karena aku akan selalu membawakanmu ikan yang sangat besar untuk kau jual ke pasar.” 

“Terima kasih burung besar, kalau boleh aku bertanya, siapa namamu?” 

“Namaku Kaha.” Burung besar itu kemudian pergi meninggalkan si nelayan tua. 

Pagi harinya si nelayan tua sudah menunggu di karang tempatnya biasa memancing. Seperti yang telah djanjikan kemaren, tak lama kemudian burung kaha nampak terbang di kejauhan. Ketika sudah dekat, burung kaha menjatuhkan seekor ikan yang sangat besar. Si nelayan tua sangat bahagia dan membawa ikan tersebut ke pasar ikan. Di sana pedagang ikan membelinya dengan harga yang tinggi. 

Setiap hari burung kaha melakukan hal yang sama. Uang hasil penjualan ikan itu masih banyak tersisa setelah digunakan untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari si nelayan tua. Semakin hari uang sisa penjualan ikan yang dikumpulkan nelayan tua semakin banyak. Nelayan tua itu hidup berkecukupan. Rumahnya telah menjadi bagus dan tanahnya sangat luas. Burung kaha masih tetap mengirimkan ikan besar untuknya. 

Pada suatu hari pengawal istana berkeliling menyampaikan pengumuman. 

SAAT INI TUANKU RAJA SEDANG SAKIT DAN HANYA BISA DIOBATI DENGAN DARAH BURUNG KAHA. BAGI SIAPA SAJA YANG BISA MENANGKAP BURUNG KAHA DAN MENYERAHKANNYA KE KERAJAAN, MAKA IA AKAN DIBERI HADIAH BERUPA SEPAROH DARI KERAJAAN INI. 

Si nelayan tua sangat gembira, “aku pasti bisa mendapatkan separoh kerajaan ini. Burung kaha setiap hari mendatangiku hingga dengan mudah aku bisa menangkapnya.” 

Maka si nelayan tua itu segera menemui pengawal istana dan berkata, ”tuan pengawal, aku tahu tentang keberadaan burung kaha. NAmun untuk menangkap burung besar itu aku perlu bantuan orang banyak. Burung itu sangat besar sehigga tidak mungkin aku bisa menangkapnya sendiri.” 

Para pengawal istana itu menyanggupi untuk membantu si nelayan tua menangkap burung kaha. Keesokan harinya, seperti biasa si nelayan tua pergi ke karang tempatnya biasa bertemu dengan burung kaha. NAmun kali ini ia tidak sendiri. Sepasukan pengawal istana menyertainya dengan bersembunyi dibalik semak-semak yang berada di dekat sana. 

Tak perlu lama menunggu, burung kaha sudah terbang dari kejauhan. Para pengawal istana sudah bersiap-siap untuk menangkap. Ketika burung kaha mendarat, dan memberikan ikan, nelayan tua itu segera memegang kakinya. Tanpa dikomando para pengawal istana berhamburan dan ikut memegang kaki burung kaha. 

Betapapun banyaknya dan kuatnya para pengawal istana itu memegangi kaki burung kaha, namun burung ajaib itu sangatlah kuat. Saat burung itu terbang, mau tidak mau para pengawal istana menyerah dan melapaskan pegangannya. Sayangnya si nelayan tua yang serakah itu tetap saja memegangi kaki burung kaha, hingga akhirnya ia dibawa terbang oleh burung kaha entah ke mana dan tidak pernah kembali lagi. 

PESAN 
 Berkhianat adalah tindakan yang tidak boleh ditiru, apalagi berkhianat kepada orang yang telah menolong kita. Jika kita telah ditolong, maka seharusnya kita berterima kasih.

Tiara Putri Kajal

Cerita Dari India 

Perhiasan Putri Kajal yang terbuat dari tiara sangat indah dan mewah. Putri Kajal akan terlihat anggun dan mempesona jika menggunakan tiara tersebut. Oleh karena itu setiap Putri Kajal pergi ke suatu acara resmi ia tidak lupa memakai tiaranya. 

Tentu saja tiara Putri Kajal itu harganya sangat mahal dan hanya Putri Kajal lah satu-satunya orang di negeri ini yang mempunyai tiara seperti itu. Tiara itu adalah hadiah dari raja pada hari ulang tahun Putri Kajal setahun yang lalu. Raja ingin putrid kesayangannya mempunyai perhiasan terindah dan termahal di negerinya. 

Putri kajal mempunyai tiga orang pengasuh yang sangat setia dan menyayanginya. Pengasuh inilah yang selalu melayani kebutuhan Putri Kajal setiap hari, dari mulai pakaian, makanan dan lainnya. Selain itu mereka juga ditugaskan untuk menjaga Putri Kajal. 

Suatu ketika, Putri KAjal telah bersiap untuk menghadiri sebuah acara yang tempatnya berada di luar kota raja. Ini adalah acara resmi yang dihadiri oleh orang-orang pilihan dari negerinya, sehingga Putri Kajal harus berpenampilan sempurna.Tentu saja ia juga akan memakai tiaranya. NAmun betapa terkejutnya Putri Kajal ketika di dalam kotak perhiasan miliknya, tiara itu tidak ada.

 “Ada yang mencuri tiaraku.” Teriak Putri Kajal. 
Seluruh isi istanan gempar. Semua pengawal diperintahkan mencari tiara milik Putri Kajal. NAmun setelah lebih dari satu jam semua bagian istana di sisir, ternyata tiara itu tetap tidak ada. Raja kemudian memerintahkan patih untuk menyelidiki dan menemukan kembali tiara Putri KAjal yang hilang. 

PAtih memanggil ketiga pengasuh Putri Kajal dan menanyainya. Ketiga pengasuh ini diperiksa karena merekalah yang paling dekat dengan tiara Putri Kajal. Para pengasuh inilah yang setiap hari menyiapkan pakaian serta perhiasan untuk Putri Kajal. Patih meminta satu persatu dari pengasuh itu untuk masuk ke dalam ruangannya untuk ditanyai. Pengasuh tertua diminta menghadap untuk pertama kalinya 

“Apakah kau melihat tiara Putri KAjal sebelum hilang?” tanya patih 

“Hamba selalu meletakkan kembali tiara itu setelah dipakai oleh tuan putri dan hanya berani mengambilnya kembali hanya dengan perintah tuan putri, jadi hamba hanya tahu tiara itu ada dalam kotak perhiasan.” Jawab pengasuh tertua. 

Patih kemudian menyuruh pengasuh tertua keluar ruangan dan meminta pengasuh tengah untuk masuk. IA pun mengajukan ertanyaan yang sama kepada pengasuh tengah. 

“Hamba tidak berani menyentuh tiara itu tanpa seijin Putri KAjal, tuanku.” Jawab pengasuh tengah. “BAiklah kalau begitu, keluarlah sekarang dan panggillah pengasuh termuda untuk masuk.” Perintah Patih. Pengasuh tengah keluar ruangan bergantian dengan pengasuh termuda yang memasuki ruangan. PAtih masih menanyakan hal yang sama. 

“Hamba selalu mengambil dan meletakkan tiara itu hanya jika diperintahkan oleh Putri KAjal. Terakhir kali saya diperintahkan oleh tuan putri untuk meletakkan kembali tiara itu dalam kotak perhiasan.” 

Mendengar jawaban pengasuh termuda PAtih kemudian memerintahkan pengawal istana untuk memanggil pengasuh tertua, pengasuh tengah dan juga Putri KAjal. Mereka semua berkumpul diruangan PAtih. 

Tak lama kemudian Patih memutuskan,”“Aku sudah mendengar jawaban semua pengasuh. Semua mengatakan hanya melaksanakan sesuatu hal termasuk mengambil dan menyimpan tiara hanya dengan seijin Putri KAjal. Oleh karena itu aku memutuskan bahwa ini adalah kesalahan dari Putri KAjal yang lalai dalam memberikan perintah. Oleh karena itu aku akan memberikan hukuman kepada Putri Kajal untuk dipenjara dalam kamar selama satu bulan penuh.” 

Semua yang hadir di sana terkejut mendengar keputusan Patih. Para pengasuh yang sangat mencintai Putri KAjal sangat kasihan padanya. Hingga akhirnya pengasuh tertua bersujud dihadapan Patih. 

“Maafkan hamba tuanku. Sebenarnya hambalah yang bersalah. HAmba telah menyembunyikan tiara itu.” Ucapan pengasuh tertua ini membuat semua yang hadir di sana terkejut. 

“Untuk apa kau curi tiara itu?” tanya Patih. Ia tidak mau memutuskan sebuah hukuman tanpa tahu alasan pengasuh tertua melakukan tindakannya itu. “Hamba mendengar berita dari putra hamba bahwa akan ada perampokan di tempat berlangsungnya acara yang akan dihadiri Putri Kajal hari ini. Perampok itu mengincar tiara milik tuan putri. Oleh karena itu hamba menyembunyikannya agar Putri Kajal tidak memakainya.” 

“Mengapa tidak kau katakan hal ini pada Putri Kajal atau pun kami,” kata Patih lagi. 

“Hamba tahu, Putri Kajal tidak akan menuruti larangan untuk tidak memakai tiara itu, sehingga hamba pikir lebih baik menyembunyikannya saja agar tuan putri tidak bisa memakainya.” Jelas pengasuh tertua. 

Mendengar penjelasan pengasuh tertua, Putri KAjal menyesal karena ia memang tidak pernah mau dilarang, apalagi oleh pengasuhnya. Padahal yang dilakukan oleh pengasuhnya itu adalah untuk kebaikannya juga. 

Patih kemudian meminta semuanya untuk kembali. Putri Kajal tetap pergi ke acara di luar kota raja dengan segala persiapan untuk menghadapi perampok. Kali ini putri Kajal tetap memakai tiaranya. Hal ini disengaja untuk memancing perampok . 

Ketika pearampokan itu terjadi, pasukan istana telah dipersiapkan oleh Patih, sehingga semua pearampok bisa ditangkap dan menadapat hukuman yang setimpal. 

PESAN 

 Jika orng tua kita melarang anak-anaknya berbuat sesuatu, bukan berarti mereka tidak sayang, melainkan itu karena mereka tidak ingin terjadi hal-hal buruk yang menimpa anak-anak mereka. Ini berarti untuk kebaikan si anak juga.

Kamis, 24 Juli 2014

Putri Salju

Cerita Dari Rusia 

Di sebuah desa di pinggir hutan tinggallah sepasang suami istri yang sudah tua. Kakek dan nenek ini sudah lama sekali menikah namun belum juga dikarunia anak. Setiap saat keduanya berharap dengan terus berdoa pada Tuhan. Walaupun sudah lebih dari lima puluh tahun keduanya meminta, namun kakek dan nenek itu tidak pernah putus asa. Mereka sangat percaya bahwa Tuhan pasti akan mengabulkan doa-doa umatnya. 

Setiap musim dingin tiba anak-anak di desa tempatnya tinggal selalu bermain salju. KAkek dan nenek itu selalu memandangi merek dengan perasaan gembira dan berharap keduanya suatu saat nanti bisa mempunyai anak yang manis dan lucu. Anak-anak itu bermain seluncur, saling melempar bola salju dan juga membuat boneka salju. 

Suatu ketika salju turun sangat lebat dan tumpukan salju sangat banyak di depan rumah kakek dan nenek itu. Ketika hujan salju reda, anak-anak kembali bermain. Kali ini si nenek tertarik pada boneka salju buatan anak-anak itu. Ia pun kemudian mengajak suaminya untuk membuat boneka salju. “Aku akan memakaikan syal merah ini pada lehernya,” nenek nampak sangat gembira mendandani boneka salju buatannya dan suaminya itu. 

Kedua kakek dan nenek itu sangat bersemangat membuat boneka salju itu secantik mungkin. Mereka merasa seolah-olah boneka salju itu adalah anak mereka sendiri.

“Cantik sekali boneka ini,” puji si Kakek 

Nenek tak henti-hentinya memandangi boneka salju itu hingga tanpa ia sadari ia berkata,”Seandainya saja boneka salju ini benar-benar menjadi anak kita.” 

Tapi mereka berdua ketahui, rupanya tak jauh dari tempat nenek dan kakek berdiri, ada Peri Salju yang mengawasi anak-anak yang sedang bermain. Peri Salju menjadi terharu melihat kakek dan nenek. Ia pun menyihir dirinya sendiri agar bisa terlihat dan mendekati kedua suami istri itu. 

“Aku akan membantu kalian,” kata Peri Salju dengan lembut. Tentu saja kakek dan nenek itu sangat kaget dengan kedatangan Peri Salju yang tiba-tiba itu. 

“Siapa anda?” Tanya nenek 

“Aku Peri Salju dan aku akan menyihir boneka salju batan kalian agar bisa menjadi anak seperti yang kalian minta. Tapi kalian harus ingat, anak ini asalnya dari salju, jadi ia tidak bisa terkena sinar matahari. Kalau sampai hal itu terjadi, kalian harus rela kehilangan anak ini.” 

Tak lama setelah menyampaikan pesannya Peri Salju mengilang. HAri pun sudah semakin malam dan kakek serta nenek masuk ke dalam rumah untuk istirahat setelah lelah seharian membuat boneka salju. 

Keesokan harinya mereka berdua seperti biasanya membuka tirai dan memandang ke luar rumah dari jendela. Betapa terkejutnya mereka berdua karena boneka salju yang mereka buat kemaren, kini telah berubah menjadi seorang anak perempuan yang cantik. Kakek juga nenek nampak sangat gembira dan keduanya segera berlari ke luar rumah. 

“Anak ini pasti boneka salju yang telah di sihir oleh Peri Salju menjadi manusia,” nenek itu nampak takjub dengan anak perempuan yang kini berada di hadapannya. Ia masih tidak bisa percaya dengan apa yang sedang dialaminya. Dipeluknya anak itu dan diajaknya masuk ke dalam rumah. 

“Kita beri nama anak ini Putri Salju,” usul kakek. 

“Ya, aku setuju. Kulitmu lembut seperti salju nak.” Nenek tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya. 

Kakek dan nenek sangat menyayangi Putri Salju. Mereka juga selalu mengingat pesan Peri Salju, sehingga Putri Salju selalu berada di dalam rumah dan hanya bisa keluar rumah pada musim dingin. Keadaan ini tentu saja sangat menyiksa Putri Salju. Ia sangat ingin bermain-main dengan teman-temannya tidak hanya pada saat musim dingin saja. 

“Ijinkan aku bermain laying-layang diluar sana ibu,” pinta Putri Salju pada suatu hari. 

Dengan lembut nenek itu menolak permintaan putrinya,”Putri Salju yang lembut, tubuhmu selembut salju, ini adalah musim panas dan matahari di luar sana tidak baik untukmu, bisa-bisa nanti tubuhmu rusak terbakar sinarnya.” 

“Tapi aku bosan ibu berada di dalam rumah terus.” 

“Kau bisa melihat teman-temanmu bermain dari jendela, kan?” bujuk si nenek 

Putri Salju adalah anak yang baik sehingga ia menuruti perintah ibunya. Sebenarnya nenek itu juga kasihan melihat anaknya terkurung di dalam rumah tidak bisa bermain sebebas teman-teman lainnya. 

Di luar sana, anak-anak ramai bermain layang-layang. Sementara itu Putri Salju memandang dari balik jendela kamarnya yang berada di lantai atas. Ia pun ikut tertawa gembira hingga sebuah layang-layang tiba-tiba terbang di hadapannya. Dengan spontan Putri Salju ingin menangkapnya. 

Layang-layang itu tersangkut di dahan pohon tepat di depan jendela kamarnya. TAnpa ia sadari kakinya sudah melangkah keluar jendela dan tangannya mencoba meraih layang-layang. Karena tidak bisa menjaga keseimbangan, akhirnya tubuh Putri Salju jatuh ke bawah. “Bummmmm……………” 

Mendengar suara gedebum orang jatuh, kakek dan nenek segera keluar rumah ingin melihat apa yang terjadi. Betapa terkejutnya mereka melihat yang jatuh adalah Putri Salju, dan mereka lebih terkejut lagi ketika tubuh Putri Salju menguap dengan begitu cepat ketika sinar matahari langsung mengenai tubuhnya. 

Bagaimanapun juga kakek dan nenek harus merelakan kepergian Putri Salju. Mereka masih tetap bersyukur karena telah diberi kesempatan menjadi orang tua walaupun hanya sebentar saja. 

PESAN 
Sikap kakek dan nenek patut ditiru, mereka tidak pernah berhenti berdoa dan berharap. Ketika apa yang mereka miliki diambil kembali oleh Tuhan keduanya bisa menerima dengan ikhlas

Si Kerudung Merah

Cerita Dari Jerman 

Nama sebenarnya bukan “Si Kerudung Merah,” tapi orang lain juga tidak pernah tahu siapa nama sebenarnya. Yang orang-orang tahu, anak kecil yang manis dan lucu itu sangat senang memakai kerudung merah dan sudah dipanggil dengan sebutan “Si kerudung merah sejak ia masih kecil. Si kerudung merah tinggal di sebuah desa di tepi hutan bersama dengan ibunya. 

Anak ini sangat rajin, namun sayangnya seringkali ia tidak menuruti nasehat ibunya. “Ibu tertalu bawel,” begitu selalu Si Kerudung Merah menggerutu kalau ibunya menasehati. Padahal nasehat ibunya adalah untuk kebaikan Si Kerudung Merah. Ibunya tahu kalau Si Kerudung Merah tidak pernah berhati-hati dalam segala hal. Makanya setiap saat ibu Si Kerudung Merah selalu member nasehat. Sayangnya nasehat itu terlalu banyak dan terlalu sering sehingga Si Kerudung Merah lama-lama menjadi bosan. 

Pada suatu hari ada orang yang datang mengabarkan bahwa nenek Si Kerudung Merah yang tinggal di desa seberang hutan sedang sakit dan hanya bisa berbaring saja di tempat tidur. Tentu saja Ibu Si Kerudung Merah merasa cemas, ia pun meminta Si Kerudung Merah mengantarkan makanan untuk neneknya. “Kerudung Merah, anak yang baik, tolong ibu antarkan makanan ini ke rumah nenekmu ya,” 

Dengan senyum riang Kerudung Merah mendekati ibunya, ”dengan senang hati, ibuku yang cantik. Aku sudah lama tidak kerumah nenek, jadi aku sangat rindu padanya.” 

“Tapi saat ini nenekmu sedang sakit Kerudung Merah, jadi kau harus menemaninya beberapa saat dan menemaninya makan dan minum obat yang ibu bawakan untuk nenekmu.” Kata Ibu Kerudung Merah sambil menata makanan dan juga obat serta bebberapa botol minuman hangat serta memasukkannya ke dalam keranjang kecil. 

“Tenang saja, ibu tidak perlu khawatir, aku pasti melakukan tugas ini dengan baik.” 

“Tapi perjalanan ke rumah nenekmu melalui hutan, di sana banyak serigala jahat dan licik. Pesan ibu berhati-hatilah kau pad orang yang tidak dikenal, karena serigala hutan akan dengan mudah mengelabui anak kecil sepertimu.” 

Seperti biasa, kerudung merah tidak menghiaraukan pesan ibunya. Ia langsung mengambil keranjang berisi makanan untuk neneknya dan pergi menyususri jalan setapak di depan rumahnya. Anak kecil yang periang ini bernyanyi-nyanyi di sepanjang jalan dengan gembira hingga tidak mengetahui bahwa ada sepasang mata yang terus mengawasinya. 

Ketika sudah sampai di tengah hutan, ada sebuah suara yang menyapa Si Kerudung Merah,”gembira sekali kau kelihatannya hari ini, mau kemana anak manis?” *Kerudung merah yang ramah menjawab sapaan orang tersebut, ”ke rumah nenek ku di seberang hutan, ia sedang sakit, jadi aku harus mengantarkan makanan ini untuknya.” 

Karena berjalan sambil bernyanyi, kerudung merah tidak mengetahui bahwa suara yang menyapanya tadi adalah milik serigala jahat yang mengincarkan untuk dijadikan mangsa hari ini. 

“Oh, ini adalah hari keberuntunganku. Anak kecil ini dagingnya pasti lezat cocok untuk dijadikan makan siangku. Dia bilang neneknya sedang sakit? Ini akan memudahkan aku memangsanya. 

Rumah neneknya adalah tempat yang tepat untuk menikmati makan siangku ini, kalau aku memangsanya di hutan ini, pastilah teman-temanku akan datang dan meminta bagian, mana mungkin aku kenyang.Lebih baik aku menikmati mangsaku ini sendiri di rumah neneknya. Sampai bertemu di rumah nenekmu manis,” kata serigala jahat dalam hati kemudian berlari menuju rumah nenek Si Kerudung Merah. 

Tidak sulit bagi serigala untuk menemukan rumah nenek Si Kerudung Merah karena di sebrang hutan hanya ada sedikit rumah dan serigala itu sudah hapal betul para penghuninya. Ia pun segera memasuki rumah nenek kerudung merah. Di dalam rumah nenek Si Keruddung merah sedang terbaring sakit di tempat tidur. Melihat kedtangan serigala, tentu saja si nenek kaget dan akhirnya pingsan. 

“Hi…hi…,” serigala tertawa gembira,” ternyata semuanya berjalan dengan mudahnya.” Serigala kemudian memindahkan nenek si kerudung merah ke dalam gudang. Ia kemudian menggantikan posisi nenek dengan berpura-pura sakit dan berbaring di tempat tidur menantikan kerudung merah datang. 

Tak lama kemudian terdengar suara mungil yang ditunggu-tunggu serigala,” nenek…….. nenek ada di mana? Ini aku Si Kerudung Merah datang membawa makanan untuk nenek.” 

“Nenek di kamar Kerudung Merah yang cantik, mendekatlah ke sini anak baik.” 

Si Kerudung Merah memasuki kamar dan melihat neneknya sedang terbaring dengan ditutupi selimut tebal. Ia tidak curiga sama sekali bahwa yang berda di sana adalah serigala jahat. Dengan lembut di belainya tubuh neneknya,”lama ya nek, kita tidak bertemu. Tapi mengapa sekarang tangan nenek berbulu?” 

“Ini supaya kau bisa merasa hangat berada dalam pelukan nenek.” 

Si Kerudung merah kemudian mendekat dan memeluk neneknya, tanpa sengaja tangannya menyentuh kuping serigala, kenapa kuping nenek sekarang menjadi panjang?” 

“Nenek kan sudah tua, pendengaran nenek sudah berkurang, jadi kuping nenek yang panjang ini akan membantu nenek mendengar suaramu yang merdu.” 

Si kerudung merah nampak senang dan tersenyum, ia memandang neneknya yang juga ikut tersenyum,”tapi kenapa sekarang gigi nenek bertaring?” 

“Ini untuk memangsa…….” Belum sempat serigala jahat menyelesaikan ucapannya, datanglah nenek si kerudung merah membawa sebuah batang kayu besar dan langsung memukulkannya pada tubuh serigala. 

Si kerudung merah kaget dan memeluk neneknya begitu tahu bahwa yang sedari tadi diajaknya bicara adalah serigala jahat. Ia menyesal telah mengabaikan pesan ibunya. Sejak saat itu Si Kerudung Merah selalu menuruti semua nasehat ibunya. 

PESAN 
 Semua yang di nasehatkan oleh orang tua pastilah untuk kebaikan anak-anaknya, karena semua orang tua pastilah sangat menyayangi anak-anaknya. Jadi jangan pernah mengabaikan nasehat orang tua ya.