Rabu, 23 Juli 2014

Anak Yang Diculik

Cerita Dari Arab Saudi 

Seorang anak sedang bermain di halaman rumahnya. Ia adalah anak dari pedagang yang kaya di kota itu. Pada suatu hari datang seorang pria yang tidak pernah dikenalnya. 

“Ayahmu memintaku untuk menjemputmu, ikutlah dengan ku sekarang, ia akan membelikan sepatu untukmu jadi kau harus mencobanya sendiri di toko nanti.” Kata laki-laki tak dikenal tersebut. 

Anak itu sangat senang karena akan dibelikan sepatu oleh ayahnya. Tanpa pikir panjang ia pun mengikuti laki-laki yang tidak dikenalnya pergi. 

Sebelum mereka pergi, penculik itu telah meninggalkan sepucuk surat di rumah pedagang kaya itu. 

ANAKMU AKU CULIK, JIKA KAU INGIN ANAKMU KEMBALI MAKA KAU HARUS MEMBERIKAN UANG TEBUSAN KEPADAKU. 

Orang tua anak yang diculik itu ternyata bukanlah seorang yang bodoh. Ia kemudian menyuruh seorang budaknya untuk memberikan pengumuman keseluruh penjuru kota. Pengumuman itu mengatakan bahwa si pedagang kaya akan menebus anaknya dengan sekantong uang emas jika penculik itu memberikan anaknya hari ini. 

Si penculik mendengar pengumuman tersebut dan berpikir, “jika hari ini saja pedagang itu akan memberiku sekantong uang emas, maka ia akan melipat gandakan pemberiannya jika anaknya sekarang tetap di sini . 

Namun ternyata perkiraan penculik itu salah. Pada hari berikutnya budak pedagang itu kembali mengumumkan tebusan untuk anak si pedagang. Ternyata jumlahnya malah berkurang menjadi setengah kantong uang emas. Penculik itu jadi ragu-ragu, karena terlalu lama berpikir ia pun tidak melepaskan anak yang di culiknya pada hari itu. 

Pada hari ketiga, si pedagang kembali menyebarkan pengumuman bahwa uang tebusan yang akan diberikan kepada si penculik kali ini hanya sebanyak seperempat kantong uang emas. Tentu saja penculik itu kaget sekali, karena penasaran ia pun keluar dari persembunyiannya dan bertanya kepada budak yang membacakan pengumuman. 

“Mengapa semakin hari uang tebusan untuk anak pedagang itu semakin turun. Apakah ia tidak menyayangi anaknya.” Tanya si penculik. 

“Tuan pedagang membayar paling mahal pada hari pertama anaknya diculik karena ia yakin anaknya pasti tidak mau makan makanan yang diberikan oleh penculik. Pada hari kedua anaknya pasti mau menerima minuman namun belum mau makan, maka tuan pedagang mengurangi tebusannya. 

Pada hari ketiga anaknya pasti sudah mau menerima makan dan minum dari si penculik, tuan pedagang menganggap anaknya sudah tidak punya harga diri lagi namun ia masih maklum, maka ia mengurangi jumlah tebusannya. Pada hari keempat harga diri anaknya sudah tidak ada lagi, maka ia tidak akan memberikan uang tebusan satu sen pun.” Jawab budak si pedagang. 

Penculik itu berpikir sejenak dan buru-buru kembali ke tempat persembunyiannya. Namun ia sudah tidak lagi melihat anak kecil yang ia culik. Rupanya budak suruhan pedagang itu curiga pada penculik ketika ia bertanya tadi. Sehingga budak temannya langsung menyelidiki di mana penculik itu tinggal dan berusaha melepaskan anak pedagang yang diculik. 

Pesan : Hati-hatilah terhadap orang yang tidak dikenal, jangan mudah terpengaruh oleh ajakannya.

0 komentar:

Posting Komentar