Minggu, 06 Juli 2014

Angsa Bertelur Emas

Cerita Dari Yunani 

Seorang petani mempunyai seekor angsa yang sudah lama ia pelihara sejak masih sangat kecil. Angsa itu ia beri makan dan terkadang menjadi temannya bicara saat ia sedang kesepian. Pokoknya angsa ini telah menjadi binatang kesayangannnya. 

“Kau tahu angsa, hanya kaulah satu-satunya yang mau berteman dengn laki-laki miskin seperti aku ini.” Angsa itu mengusap-usapkan paruhnya pada telapak tangan si petani sebagai tand persahabatan. 

“Tidak ada satu orang pun yang mau berteman denganku. Mungkin keadaannya akan lain jika aku ini adalah seorang yang kaya raya.” Ucap si petani sedih. 

Kali ini angsa mengepak-ngepakkan sayapnya hingga membuat si petani tersenyum, “terima kasih angsa, kau memang sahabat terbaik. Kau selalu ada untukku kapanpun aku membutuhkanmu dank au juga sealu menghiburku ketika aku sedih.” 

Angsa itu mendekatkan tubuhnya pada si petani yang kemudiaan mengusap-usapkan tangannya pada tubuh angsa. 

Keesokan harinya ketika si petani akan pergi ke sawah untuk bekerja, tiba-tiba angsa datang mendekatinya. Di depan si petani angsa itu mengeluarkan sebutir telur. Ini adalah telur pertama angsa yang diberikan untuknya. Telur itu tidak seperti telur-telur angsa kebanyakan yang berwarna putih. Telur itu berwarna kuning keemasan dan sangat keras. Si petani untuk sementara waktu sangat takjub melihat telur angsa. 

“Apakah ini telur emas yang kau berikan untukku angsa?” tanya si petani. 

Angsa itu mengepak-ngepakkan sayapnya sebagai tanda mengiyakan. 

Si petani kemudian mengambil telur emas tersebut dan membawanya ke pasar. Sesampainya di sana ia segera menemui tukang emas dan memperlihatkan sebutir telur emas yang ada dalam genggaman tangannya. 

“Aku akan menjual telur ini,” kata si petani sambil menyodorkan sebutir telur emas kepada si tukang emas. 

Tukang emas itu melihatnya dengan seksama dan memeriksa telur emas yang diberikan oleh si petani tadi. “Ini emas murni, aku akan membelinya dengan harga tinggi.” Kata si tukang emas. Kemudian ia memberikan sejumlah uang yang sangat banyak sebagai hasil penjualan telur tersebut. 

Si petani sangat gembira. Seumur hidupnya ia belum pernah memegang uang sebanyak ini. Ia pun kemudian segera pulang karena tak sabar ingin bertemu dengan angsa. “Terima kasih angsa, kau telah memeberikan telur emas padaku. Sekarang aku memiliki uang yang sangat banyak. Aku tahu kau pasti ingin menolongku menjadi orang kaya raya seperti keinginan yang aku ceritan padamu kemarin.” 

Angsa sangat senang melihat si petani bahagia. Ia pun mengepak-ngepakkan sayapnya dan mendekatkan tubuhnya pada petani seperti biasanya. 

Pada keesokan hari, ketika si petani akan pergi ke sawah, ia melihat ada sebutir telur emas lagi sudah berada di depan pintu rumahnya. “Angsa pasti mengeluarkan telurnya lagi,” pikir si petani. Kali ini ia kembali menjual telur emas itu pada si tukang emas. 

“MAsih ada berapa banyak lagi telur emas yang kau simpan?” tanya si tukang emas. “Apakah kau mau membeli semuanya?” 

“Tentu saja. Aku adalah tukang emas. Berapapun banyaknya emas yang kau miliki aku pasti akan membelinya. Telur yang kau punya adalah jenis emas dengan kualitas terbaik, mana mungkin aku menyia-nyiakannya. KAlau kau memang punya banyak lebih baik kau jual saja semuanya sekarang, maka kau akan menjadi orang terkaya di desa ini. Untuk apa kau menyimpan telur-telur itu” bujuk si tukang emas. 

Ucapan si tukang emas membuat si petani berpikir,”Sepertinya angsa yang kumiliki adalah angsa ajaib yang bertelur emas. Setiap hari ia hanya bertelur sebutir. Tapi aku yakin, sebetulnya di dalam tubuh angsa pasti masih banyak telur-telur emas yang lain. Dari pada telur-telur itu disimpan didalam tubuh angsa, akan lebih baik kalau telur itu dikeluarkan semuanya sehingga aku akan cepat menjadi orang kaya.” 

Petani itu sudah tidak sabar lagi hingga ia berjalan cepat menuju rumahnya. Sesampainya di rumah angsa datang mendekatinya. Seperti biasa, angsa itu mengepak-ngepakkan sayap dan mendekatkan diri ke tubuh si petani. Di saat itulah si petani menangkap angsa kemudian memotongnya. Ia kemudian membelah perut angsa ingin mengambil telur emas. 

NAmun alangkah kaget si petani karena tidak ada satupun telur ada di dalam perut angsa. Yang ada hanyalah calon telur yang masih sangat lunak tapi belum menjadi emas. Petani sangat menyesal karena sekarang ia tidak lagi punya sahabat setia seperti angsa. 

PESAN Janganlah menjadi anak yang serakah karena keserakahan akan membawa kita pada bencana juga merugikan diri kita sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar