Minggu, 06 Juli 2014

Angsa Keberuntungan

Cerita Dari Skotlandia 

Seorang ibu muda yang tinggal di sebuah desa mempunyai seorang anak laki-laki kecil yang sudah lama sakit dan tidak bisa bangun dari tempat tidurnya. Mereka hidup berdua di sebuah rumah sederhana. Kehidupan keduanya sangat miskin higga si ibu harus bekerja setiap hari dan juga mengurus anaknya yang sakit. Namun si ibu tidak pernah mengeluh dan selalu bekerja dengan rajin serta merawat anaknya dengan penuh kasih sayang. 

Pada suatu hari hujan turun sangat deras. Namun si ibu harus segera pulang agar bisa segera merawat anaknya dan memberinya makan. Maka ia pun menerobos hujan deras itu dengan berjalan sangat cepat. Di tengah jalan yang sepi saat itu, ia melihat seekor angsa yang basah kuyup dengan sayap yang terluka dan tubuh bersimbah darah. 

Si ibu kemudian memeriksa angsa tersebut. “Sepertinya ia masih hidup, kasihan angsa yang lemah ini.” 

Si ibu kemudian menggendong angsa dan menutupi tubuh angsa dengan jaket lusuhnya agar angsa itu tidak terkena air hujan dan merasa sedikit hangat. 

Setibanya di rumah, si ibu tidak langsung ke kamar anaknya seperti yang biasa ia lakukan. Kali ini ia terlebih dahulu meletakkan angsa tersebut di dekat perapian agar angsa merasa hangat. 

“Bu….. kau kah itu?” panggil anaknya dari dalam kamar. Ia mendengar suara pintu depan terbuka dan itu adalah pertanda bahwa ibunya telah kembali pulang ke rumah. 

“Iya nak, ini ibu…… Sebentar ya sayang, ibu akan menolong angsa yang terluka ini dahulu. Setelah selesai ibu akan langsung menemuimu.” Jawab si ibu dengan lembut. 

Ibu itu kemudian mengeringkan tubuh angsa dengan handuk kering miliknya dan membersihkan luka-luka yang ada di sayap serta tubuh angsa. Dengan penuh kelembutan, si ibu membalut luka tersebut. Angsa masih tetap belum sadarkan diri, namun denyut nadinya masih ada, ini pertanda bahwa ia masih hidup. 

Setelah semua luka dibalut dengan perban, si ibu membaringkan angsa di dekat perapian dan membiarkannya di sana. Ia kemudian menyiapkan makanan dan pergi ke kamar anak laki-lakinya. 

Di dalam kamar kedua ibu dan anak itu nampak sangat akrab. Si ibu menyuapi anaknya sambil bercerita tentang bagaimana ia tadi menemukan angsa yang terluka. 

“Aku ingin melihat angsa itu bu,” kata si anak. 

“Nanti kalau angsa itu sudah siuman, ibu akan bawa angsa itu kemari, agar bisa menemanimu saat ibu pergi bekerja nanti.” 

Si anak sangat gembira dan berharap angsa itu segera siuman. Selama ini ia merasa kesepian setiap kali ditinggal ibunya bekerja. Tidak ada teman yang ia kenal dan ia pun tidak bisa bermain keluar karena kakinya tidak bisa digerakkan untuk berjalan. 

Keesokan harinya ketika bangun tidur si ibu langsung memeriksa keadaan angsa. Ia sangat gembira melihat angsa sudah bisa membuka matanya, walaupun badannya masih terlihat sangat lemah dan belum bisa digerakkan. Si ibu kemudian mengambil air dan menyuapkannya ke dalam mulut angsa sedikit demi sedikit. Kemudian ia ke kamar anak laki-lakinya terlebih dahulu sebelum kemudian pergi ke tempatnya bekerja. 

“Ibu pergi sekarang ya sayang,” kata si ibu sambil membelai kening putranya. 

“Bagaimana dengan angsa itu bu, bukankah ibu berjanji akan membawanya kemari untuk menemaniku saat ibu pergi.” 

“ Angsa itu sudah siuman nak, tapi ibu belum bisa membawanya kemari, ia masih ibu biarkan terbaring di dekat perapian karena tubuhnya masih terasa dingin dan kondisinya masih sangat lemah.” 

Ketika si ibu sudah kembali dari bekerja, ia pun segera melihat kondisi angsa. Si ibu nampak senang melihat paruh angsa yang digerak-gerakkan. “Kau pasti lapar angsa. Tunggu sebentar ya, aku akan membuatkan makanan untukmu.” 

Si ibu kemudian pergi ke dapur mengambilkan sedikit bubur kentang. Perlahan-lahan ia menyuapi angsa yang makan dengan lahapnya. Kelihatannnya ia sangat lapar. Setelah itu si ibu masuk ke dalam kamar anaknya, ia juga menggendong angsa dan membawanya mendekati tempat tidur putranya itu. 

“Inikah angsa yang ibu ceritakan kemaren itu?” tanya anak itu dengan raut muka bahagia. 

Anak itu sangat senang mendapat teman baru walau pun itu hanyalah seekor angsa. Sejak saat itu si Ibu selalu merawat anak dan angsanya. Bukan hanya memberinya makan, namun si Ibu juga dengan sabar merawat luka angsa. Semakin hari keadaan angsa semakin membaik. Anehnya keadaan putra si ibu yang sudah sakit sekian lama itu juga semakin membaik. Setiap hari putranya itu selalu bermain-main dengan angsa. 

Hingga pada suatu hari, si ibu dikejutkan oleh sebuah keajaiban. Si angsa sudah bisa mengepakkan sayapnya, dan putranya juga sudah bisa berjalan. 

“Kau sudah sembuh angsa?” Angsa itu mengepakkan sayapnya sebagai pertanda bahwa ia mengiyakan perkataan si ibu. 

“Aku bahagia kau sudah sembuh dan aku juga bahagia kau telah menemani putraku selama ini hingga sekarang ia juga bisa berjalan kembali seperti dirimu. Tapi aku tidak akan menahanmu di sini angsa. Aku tahu tempatmu adalah di alam bebas. 

Jadi kalau memang kau menginginkan untuk pergi maka janganlah ragu, aku mengijinkanmu.” Kata si ibu sambil membelai-belai tubuh angsa. 

Akhirnya si Ibu membukakan pintu rumahnya lebar-lebar agar angsa bisa terbang ke angkasa kembali ke rumahnya yaitu di alam terbuka. 

PESAN Kalau kita berbuat baik pada sesama dengan penuh keikhlasan hati, maka suatu ketika kita akan mendapat balasan yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

0 komentar:

Posting Komentar