Selasa, 29 Juli 2014

Bibi Greenleaf (2)

Namun berita buruk tentang rusa putih jelmaan bibi Greenleaf sudah terlanjur menyebar dan sebagian besar orang-orang desa telah mempercayainya. Orang-orang desa itu juga percaya bahwa penyakit yang menyerang anak-anak mereka itu adalah sihir yang disebarkan oleh bibi Greenleaf yang menjelma menjadi rusa putih. 

Semakin hari cuaca semakin buruk dan semakin banyak anak-anak bahkan orang tua yang terkena penyakit flu. Hal ini tentu saja membuat penduduk desa yang sudah termakan isu tentang sihir bibi Greenleaf menjadi cemas. Hingga akhirnya beberapa orang-orang desa berkumpul dan membicarakan cara untuk menghindarkan desa mereka dari sihir jahat bibi Greenleaf. 

“Kita harus mengusir perempuan itu dari desa ini,” usul salah seorang yang duduk paling depan. 

“Tapi bagaimana caranya, sedangkan kita sendiri belum pernah melihat wajah wanita penyihir itu, lagi pula apakah kita semua mampu melawan sihirnya,” sahut yang lain. 

Diantara sekian banyak orang yang berada di sana, ada seorang pemuda yang menyampaikan sebuah pertimbangan, “apakah kita semua yakin bahwa sihir bibi Greenleaf yang membuat banyak penduudk kita sakit. Bukankah dokter sudah mengatakan bahwa ini adalah penyakit flu, dan kita semua tahu cuaca memang sangat buruk. Lagi pula tidak ada satu pun bukti yang menunjukkan adanya keterlibatan bibi Greenleaf di sini.” 

Sesaat ruangan menjadi sunyi. Masing-masing yang hadir di sana memmpertimbangkan ucapan pemuda tadi. Hingga salah seorang berseru. “Apakah munculnya rusa putih itu bukan merupakan sebuah bukti yang kuat. Sampai sekarang pun masih sering rusa itu berkeliaran di desa dan banyak diantara kita yang melihatnya.” 

“Kalau begitu bagaimana kalau kita tangkap saja rusa putih itu untuk mengetahui apakah rusa itu merupakan jelmaan bibi Greenleaf atau bukan.” Usul seseorang yang hadir di sana dan di setujui oleh semua yang hadir saat itu. 

Keesokan harinya para laki-laki di desa bersiap-siap dengan senapan yang diisi dengan peluru perak yang diyakini bisa mengalahkan sihir. Masing-masing sudah bersembunyi ditempat yang berlainan untuk mengawasi datangnya rusa putih. Angin dingin dan hujan salju tidak mereka hiraukan. 

Setelah menunggu beberap lama, salah satu dari penduduk desa melihat bayanga rusa putih, ia pun segera mengarahkan senapannya dan memberikan tembakan ke arah rusa putih. Walaupun tidak mengenai rusa putih, namun tembakan itu menjadi tanda bagi yang lain bahwa rusa putih sudah muncul. Mereka kemudian bersiap-siap dan sebagian berusaha mengejar rusa putih yang berlari ke arah hutan. 

Ketika pengejaran mereka hamper mendekati rumah bibi Greenleaf, muncul seorang perempuan muda yang berjalan cepat ke arah desa. Melihat banyak orang yang menuju ke arahnya, perempuan muda itu pun berkata,”bisakah kalian menolongku memanggilkan dokter. Bibiku sedang sakit keras di rumahnya.” 

Orang-orang desa yang tidak mengenal perempuan itu saling berpandangan. “Siapa kamu dan siapa bibimu? Kami belum pernah melihatmu sebelumnya di sini.” Tanya salah seorang penduduk desa. 

“Aku adalah keponakan bibi Greenleaf yang tinggal dipondokan di ujung jalan itu. Kemarin aku membawa bibiku menengok rumahnya yang sudah lama ia tinggalkan, tapi cuaca di sini sangat buruk hingga bibiku ekarang jatuh sakit. 

Penduduk desa yang berada di situ saling berpandangan. Mereka merasa malu bahwa sangkaan mereka selama ini tentang bibi Greenleaf seorang penyihir adalah tidak benar. Selama ini bibi Greenleaf yang sudah tua itu tinggal bersama keponakannya sehingga rumahnya sudah lama sekali ia tinggalkan hingga nampak kotor. Sebagai ungkapan maaf atas prasangka buruk mereka, maka segeralah dipanggilkan dokter untuk mengobati bibi Greenleaf yang juga terserang flu. 

Penduduk desa mnjadi percaya bahwa penyakit yang menimpa banyak penduduk desa adalah karena cuaca buruk, bukan karena sihir. 

PESAN 
Jangan pernah berprasangka buruk terhadap seseorang apalagi menuduh seseorang tanpa bukti yang jelas, karena itu akan menjadi fitnah yang bisa membuat orang yang dituduh menjadi menderita padahal ia belum tentu bersalah.

0 komentar:

Posting Komentar