Rabu, 02 Juli 2014

Celengan Ayam

Minggu pagi yang indah tapi wajah Bela dan adiknya, Aldo terlihat tidak bahagia. Keduanya nampak bosan, duduk-duduk dan menonton TV, sambil sesekali menggonta-ganti saluran TV. 

“Seharusnya hari minggu kita pergi berlibur.” Kata Aldo dengan wajah cemberut. 

“Iya, seharusnya kita tidak di rumah seperti ini. Coba kita bisa pergi berenang di water boom,” Bela juga ikut mengeluh seperti adiknya. 

“Makanya kalau mau pergi berenang kalian harus menabung. Ini ibu belikan celengan ayam untuk kalian.” Sahut ibu ketika masuk ke dalam rumah, sepertinya ia sudah tahu sebelumnya apa yang diinginkan oleh kedua anaknya itu. 

Bela dan Aldo menghampiri ibunya dan berebut ingin membantu membawakan tas belanjaan ibu. Ketiganya berjalan menuju dapur. Setelah menaruh belanjaan, ibu memberikan celengan ayam pada Bela dan Aldo. 

“Celengan ayam jago buat Aldo dan ayam betina untuk Bela. Mulai sekarang kalian harus rajin menabung kalau ingin ke water boom liburan yang akan datang.” Pesan ibu ketika memberikan celengan. 

Ayah juga berkata,”Siapa yang paling pintar menabung, ayah akan memberikan tambahan uang sebesar tabungan kalian. Jadi kalau misalnya Bela dapat seratus ribu, nanti ayah akan memberi tambahan seratus ribu lagi.” 

Sejak hari itu Bela dan Aldo berlomba-lomba mengisi celengan ayam masing-masing. Keduanya sangat berhemat dan membelanjakan uang jajan mereka hanya untuk hal-hal yang sangat penting. 

Pada suatu hari mbok Yana, pembantu mereka menangis di dapur. 

“Sepertinya mbok Yana sedang ada masalah,” tanya Bela. 

“Iya, anak mbok di kampung sedang sakit dan minta kiriman uang lagi.” 

“Kenapa tidak minta sama ibu saja mbok?” “Mbok malu, gaji mbok yang bulan depan saja sudah mbok minta dan mbok kirim ke kampung seminggu yang lalu. Ternyata biaya rumah sakitnya sangat mahal, jadi uang yang mbok kirim kemarin kurang.” 

Melihat orang tua yang sudah mengurusnya selama bertahun-tahun itu,Bela menjadi sangat sedih, ”Sebentar ya mbok.” 

Bela berdiri dan masuk ke dalam kamar. Ia mengambil celengan ayam, dengan hati-hati ia mencongkel lubang tempat memasukkan uang, hingga sebagian celengan itu terbuka dan membentuk lubang. Dari lubang yang ada, Bela mengambil satu persatu uang kertas dan uang logam di dalam celengan. Sesekali ia mengguncangkan celengan memastikan di dalamnya sudah kosong. 

Aldo yang melihat tingkah laku kakaknya, bertanya keheranan,” kakak mengambil uang tabungan kan?” 

“Iya, ada seseorang yang sedang membutuhkan uang ini.” Jawab Bela sambil mengambil uang-uang yang ada di meja. Setelah menghitung uang, ia segera berdiri dan keluar tanpa mempedulikan Aldo yang masih berdiri di depan pintu kamar Bela. 

Bela menyerahkan uangnya pada mbok yana, ”Mbok, bisa mengirim uang ini ke kampung. Mungkin ini tidak cukup, tapi aku harap bisa membantu anak mbok.” 

“Ya ampun. Ini uang siapa, ini sangat banyak. Mbok takut nanti ibu marah sama mbok.” “Sebenarnya ini uang tabungan Bela di celengan. Jadi mbok nggak perlu takut.” 

“Terima kasih.” Mbok Yana menangis bahagia menerima uang dari Bela. 

Aldo mengikuti Bela dan mengawasi apa yang dilakukan kakaknya dengan uang dari celengan ayam miliknya. Karena penasaran Aldo mencegat dan menanyai Bela ketika kakaknya itu datang. 

“Kakak ini bodoh atau apa. Aku tidak mengerti apa yang kakak lakukan. Mengumpulkan uang itu susah. Apa kakak tidak pergi ke water boom?” 

“Ya. Aku ingin pergi. Aku bisa mulai ngumpulin uang lagi. Celengan ayamku masih bisa di lem, jadi setiap hari aku masih bisa menabung lagi.” 

Menjelang liburan tiba ayah dan ibu meminta Bela juga Aldo membawa celengannya masing-masing dan membukanya. Bisa dipastikan celengan Aldo lah yang paling banyak jumlahnya. Aldo berhasil mengumpulkan dua ratus lima puluh ribu rupiah sedangkan Bela hanya mendapatkan lima puluh lima ribu rupiah. 

“Berarti Aldo yang menang,” teriak Aldo kegirangan, ”Ayah janji kan mau nambahin uang Aldo sebanyak isi celengan ayam ini.” 

“Dulu ayah kan bilangnya siapa yang paling pintar menabung, yang akan ayah beri tambahan uang, bukan berarti yang paling banyak,” kata ayah yang membuat Aldo dan Bela bingung. 

“Maksud ayah.......” Tanya Bela ingin tahu. “Ayah tahu kalau Bela sudah membongkar celengannya dan memberikan uang itu pada mbok Yana, benarkan Bela?” 

“Iya ayah,” Bela takut kalau-kalau ayah akan marah dengan tindakannya itu. 

“Ayah benar-benar bangga dengan apa yang dilakukan Bela. Ia tahu kalau mbok Yana lebih membutuhkan uang itu.” 

“Jadi kak Bela yang menang.” Aldo jadi sedih. 

“Dua-duanya menang, karena kedua anak ayah pintar menabung, jadi ayah akan memberikan tambahan masing-masing dua ratus lima puluh ribu.” 

“Tapi janji ya, nanti kalian harus membayar tiket dan jajan dengan uang kalian sendiri,” kata ibu. 

Pesan : Menabung itu baik, tapi akan sangat baik kalau kita juga tahu bagaimana menggunakan uang tabungan itu .

0 komentar:

Posting Komentar