Minggu, 13 Juli 2014

Hakim Yang Adil

Cerita Dari Cina 

Di sebuah pasar yang sangat ramai, seorang kuli panggul membawa sekarung beras yang dipanggul di punggungnya. Karena terburu buru, ia menyenggol sebuah gerobak dan karung yang dipanggulnya terjatuh. Sayangnya karung itu terjatuh menimpa seekor anak ayam milik seorang pedagang yang tokonya berada di dekat tempat itu. 

Si pedagang yang mengetahui anak ayam miliknya mati langsung keluar dari toko dan menghampiri si kuli panggul. Ia meminta kuli panggul itu mengganti kerugian sebesar seratus sen. 

“Tapi anak ayam ini hanya seharga dua sen saja, mengapa aku harus membayar seratus sen.” Jawab si kuli panggul itu membela diri. 

“Karena setahun lagi ayam ini akan menjadi besar dan harganya mencapai seratus sen.” 

Perdebatan antara si pedagang dan kuli panggul itu semakin seru, hingga orang-orang yang berada di pasar tersebut berdatangan ingin melihat kejadian tersebut. Untunglah diantara orang-orang itu terdapat seorang hakim yang bijaksana. Hakim itu kemudian berusaha menghentikan perdebatan antara pedagang dan kuli panggul. 

“Berapa ganti rugi yang kau minta?” tanya hakim kepada si pedagang. 

“Seratus sen tuan hakim, karena itulah harga ayam ini ketika sudah menjadi ayam jantan yang besar setahun lagi.” 

“Pedagang ini benar, jadi kau harus membayar seratus sen kepada pedagang ini wahai bapak kuli panggul.” 

Orang-orang yang ada di sekitar tempat itu mendesah kecewa dan salah seorang diantaranya berkata, “ ini tidak adil tuan hakim. Mengapa kau malah memenangkan pedagang yang serakah itu, bukannya kuli panggul yang miskin ini.” 

Sedangkan si pedagang merasa sangat senang. Ia memuji-muji tuan hakim sebagai hakim yang paling bijaksana di seluruh negeri. “Kau adalah seorang pedagang, jadi kau pasti tahu berapa jagug yang dihabiskan oleh seekor ayam untuk makan selama satu tahun.” Kata hakim itu lagi. 

“Tentu saja tuan hakim. Dalam setahun saya bisa menghabiskan satu karung jagung untuk makan anak ayam itu agar bisa tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang besar dan berharga mahal.” Pedagang itu sengaja melebihkan jumlah jagung yang diperlukan, ia berharap tuan hakim akan meminta si kuli panggul untuk menambahkan membayar dengan sekarung jagung sebagai ganti rugi. 

Namun ternyata perkiraan pedagang yang serakah itu salah. “Kalau begitu berikanlah sekarung jagung kepada bapak kuli panggul ini karena ia telah membayar ayammu yang sudah dewasa.” 

Pedagang itu diam saja. Ia tahu harga sekarung jagung adalah lebih dari seratus sen. Ia pun menyesal telah melebihkan jumlah makanan yang seharusnya dihabiskan ayam dalam satu tahun. Kini ia sendiri yang harus menanggung rugi. Orang-orang yang berada disekitar tempat itu merasa puas dengan keputusan hakim yang bijaksana tersebut. 

Pesan : Jangan menjadi orang yang serakah, apalagi terhadap orang miskin yang menderita.

0 komentar:

Posting Komentar