Sabtu, 05 Juli 2014

Ibuku Seekor Kucing

Lala dan Lili tidak pernah tahu siapa ibu mereka. Yang mereka ketahui hanyalah, selama ini keduanya selalu ditemani dan diasuh oleh seekor kucing, hingga semua orang mengenal kucing sebagai ibu Lala dan Lili. 

“Lala anak kucing…… Lili anak kucing,” begitu selalu kawan-kawan sepermainan Lala dan Lili mengolok-olok keduanya. 

Ketika Lala dan Lili masih kecil hal ini tidaklah menjadi soal, pasti keduanya menangis dan pulang kerumah. Namun ketika keduanya semakin besar, tentu saja keadaan ini membuat mereka merasa tidak nyaman. Keduanya malu mempunyai ibu seekor kucing. 

“Lihatlah Lala, wajah kita cantik,” Lili terus saja menatap wajahnya di permukaan air yang jernih. Sudah lama ia mengamati wajahnya dan sesekali mengusap-usap pipi dan juga bagian lain dari wajahnya. Lili sangat mengagumi kecantikan dirinya. 

Begitu pun Lala, juga melakukan hal yang sama, “Aku tidak percaya kalau kita adalah anak seekor kucing,” 

“Jangan-jangan kita memang bukan anak kucing. Bagaimana kalau kita mencari ibu baru?” Usul Lili ini disambut baik oleh Lala. 

“Tapi siapa yang akan kita jadikan sebagai ibu?” Tanya Lala ragu. 

Lili berpikir sejenak, tiba-tiba ia mendongak ke atas,”Coba kau lihat Lala, matahari di atas sana begitu besar. Siapa pun di muka bumi ini pasti membutuhkan matahari, aku akan bangga kalau bisa menjadi anak matahari.” 

“Kalau begitu sekarang juga kita temui matahari dan minta padanya untuk mau menjadi ibu kita.” Lala pun bersemangat ingin menjadi anak matahari. 

Kedua kakak beradik itu kemudian pergi menemui sang matahari dan memintanya menjadi ibu mereka. Namun ternyata Sang matahari menolak. 

“Aku pasti bangga menjadi ibu dari kalian berdua anak cantik, tapi kalau kalian mengira aku sangat kuat dan dibutuhkan semua orang di muka bumi ini, maka kalian berdua salah besar. 

Nanti setelah ada awan hitam yang lewat, maka aku akan tertutup oleh awan hitam dan tidak akan terlihat lagi, aku tidak bisa lagi memberikan cahayaku pada para makhluk hidup di bumi. Jadi menurutku, awan hitam lah yang cocok menjadi ibu kalian. Pergilah menemui awan hitam dan mintalah ia menjadi ibu kalian.” 

Lala dan Lili melanjutkan perjalanan mereka untuk menemui awan hitam. Keduanya meminta hal yang sama pada awan. 

”Wahai awan hitam yang besar, kau sangat perkasa karena setelah kau datang, sinar matahari tidak lagi bisa menyinari bumi. Kau pun sangat hebat karena selalu memberikan air hujan untuk semua makhluk di bumi ini. Kami berdua akan sangat bangga jika bisa menjadi anak-anakmu.” 

“Terima kasih atas pujian kalian berdua, tapi sebenarnya kalian salah kalau berkata aku hebat dan perkasa, karena sesungguhnya ada yang lebih perkasa dari pada aku.” 

Jawaban awan hitam itu tentu saja membingungkan Lala dan Lili,” siapa lagi yang lebih perkasa darimu awan hitam?” 

“Aku akan terus berjalan dan akan melebur setelah menabrak gunung yang tinggi itu. Jadi menurutku gununglah yang lebih perkasa dari pada aku dan cocok menjadi ibu kalian.” 

Lala dan Lili sedikit kecewa mendengar jawaban dari awan hitam, tapi keduanya masih punya harapan untuk bisa menjadi anak gunung. Maka ketika sudah sampai di depan sebuah gunung yang tinggi menjulang, dengan pepohonan rimbun menyelimuti seluruh permukaan tubuhnya, Lala dan Lilli pun mengutarakan maksud mereka. 

“Wahai gunung yang tinggi menjulang, kau sungguh perkasa, bahkan awan hitam pun langsung melebur ketika menabrakmu. 

Kami berdua datang kemari ingin menjadi anakmu, kami berharap kau mau menjadi ibu kami yang bisa melindungi kami, siapa pun pasti tidak akan berani lagi memperolok kami berdua.” 

Gunung itu tersenyum kepada Lala dan Lili,” anak-anak manis, aku juga akan bangga menjadi ibu kalian berdua, tapi bagaimana aku bisa menjaga kalian berdua, sedangkan aku sendiri tidak bisa menjaga diriku sendiri. 

Kau lihatlah tanah yang menjadi tubuhku ini berlubang disana sini, karena digerogoti oleh tikus untuk dijadikan rumah mereka. Jadi menurutku tikuslah yang lebih kuat dari aku dan bisa melindungi kalian berdua. Pergilah ke tempat tikus dan mintalah ia menjadi ibu kalian. 

Dengan penuh harap Lala dan Lili pergi ke tempat tikus dan meminta hal yang sama padanya yaitu agar mau menjadi ibu mereka. Namun jawaban tikus justru diluar dugaan. 

”Kalian tahu, aku ini melubangi tanah adalah untuk bersembunyi dari kucing. Hanya di sinilah, kami para tikus aman dari kejaran kucing yang akan memangsa kami, lalu bagaimana kami akan melindungi kalian kalau kami sendiri belum bisa melindungi diri kami. Jadi menurutku kucinglah yang cocok menjadi ibu kalian.” 

Jawaban tikus itu menjadikan kedua anak ini menjadi sadar bahwa apapun ibu mereka walaupun itu hanyalah seekor kucing ternyata tetap terbaik dan tidak akan pernah tergantikan oleh apapun juga. 

Pesan : Siapapun ibu kita, dan bagaimana pun pekerjaannya, beliau adalah yang melahirkan dan membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, sehingga tidak pernah akan tergantikan sampai kapan pun juga.

0 komentar:

Posting Komentar