Sabtu, 12 Juli 2014

Karena Warisan

Cerita Dari India 

Seorang laki-laki tua yang kaya raya sedang sakit keras. Ia merasa umurnya tidak akan lama lagi. “Aku harus segera membagikan harta warisanku kepada keempat anakku dengan adil agar mereka tidak saling berebut harta dikemudian hari.” Pikir laki-laki tua itu. 

Dengan bantuan seorang teman baiknya, laki-laki tua itu kemudian membagikan seluruh harta warisan yang ia miliki kepada keempat putranya yang sudah besar-besar. Namun anehnya, setelah seluruh harta itu dibagikan, semakin lama kodisinya menjadi semakin membaik dan akhirnya laki-laki tua itu menjadi sehat. Sayangnya keempat anaknya setelah menerima harta warisan itu tidak ada satu pun yang merawat dirinya. 

“Kini aku tahu, anak-anakku itu hanya mau pada hartaku saja,” kata-laki-laki tua kepada teman baiknya yang dulu ikut membantu membagikan harta warisannya. 

Teman baiknya itu berpikir sejenak, bagaimanapun juga anak-anak itu harus menyayangi ayahnya, bukan hanya hartanya saja yang mereka sayangi. 

“Aku punya akal,” kata teman laki-laki tua itu dengan senyuman lebar. 

“Nanti sore aku akan datang ke rumahmu.” 

“Untuk apa?” tanya laki-laki tua itu, ia masih belum mengerti. 

“Aku akan datang dengan berpura-pura membayar hutang padamu. Nanti aku akan membawa empat karung yang penuh batu.” 

“Lalu apa yang harus aku lakukan?” laki-laki tua ini masih belum mengerti apa yang akan dilakukan temannya. 

“Kau harus memastikan keempat anakmu semuanya berada di rumah.” 

“Baiklah kalau begitu aku akan menunggumu nanti sore.” 

Maka laki-laki tua itu kemudian pulang ke rumahnya. Pada sore hari seperti yang telah dijanjikan, teman laki-laki tua itu datang dengan membawa empat karung yang terisi penuh. Keempat anak laki-laki tua itu memang sedang ada di rumah dan diam-diam mereka mengintip tamu yang datang itu dari dalam. Mereka mencuri dengar pembicaraan ayah mereka dengan tamunya. 

Laki-laki tua dan temannya itu sebenarnya tahu kalau anak-anak mereka sedang mengintip, tapi hal inilah justru yang diharapkan. 

“Apa kabar teman, lama tidak bertemu denganmu,” laki-laki tua itu pura-pura menyapa temannya. 

“Kabar baik, bahkan sangat baik. Aku ke sini untuk mengucapkan terima kasih atas pinjaman emas dan permata yang kau berikan padaku beberapa tahun yang lalu. Sekarang toko yang aku miliki sudah maju dan aku ke sini untuk membayar hutang berikut keuntungan yang aku bagi untukmu juga.” 

Setelah temannya itu pulang, laki-laki tua itu memanggil keempat anaknya. “Dalam karung itu berisi emas permata. Harta ini adalah milik kalian juga nantinya, tapi aku baru akan memberikan harta ini nanti setelah aku mati. Dan aku tidak akan membagi rata seperti kemaren, melainkan akan memberikan harta terbanyak kepada anak yang sangat baik merawatku. ” 

Sejak saat itu keempat anak laki-laki tua tersebut berlomba-lomba memberikan perlakuan terbaik bagi ayahnya. Hingga akhirnya laki-laki tua itu kemudian mati dengan bahagia. Keempat anak laki-laki tua itu dengan tidak sabar segera membuka keempat karung segera. NAmun alangkah terkejutnya mereka ketika melihat isi karung tersebut ternyata hanyalah batu dan kerikil. 

Pesan : Sudah sepantasnya sebagai anak, kita harus berbakti kepada orang tua dengan tulus ikhlas, bukan hanya karena harta atau alasan apa pun.

0 komentar:

Posting Komentar