Selasa, 22 Juli 2014

Kisah Cinderela (1)

Cerita Dari Prancis

Cinderela yang cantik namun malang. Kecantikannya terlihat bukan saja pada wajahnya, tapi juga hatinya. Ia tetap periang dan lembut kepada siapapun walau pun setiap hari ibu tiri dan dua kakak tirinya selalu membentak dan memperlakukannya dengan kasar. Cinderela dengan baju kotornya setiap hari membersihkan rumah, mencuci dan menyetrika baju, juga ke pasar dan memasaka untuk ibu tiri dan ke dua kakak tirinya. Sementara itu kakak-kakak tiri Cinderela kerjanya hanya bermalas-malasan dan bermain. 

“Cinderela!” teriak salah satu kakak tiri Cinderela. Suaranya menggelegar dan memekakkan telinga bagi siapa saja yang berada di dekatnya saat itu. Untunglah Cinderela sedang berada di dapur yang jaraknya cukup jauh, namun ia kemudian harus berlari agar suara itu segera berhenti. 

Ketika Cinderela sampai dikamar kakak tirinya itu ia melihat tikus putih sahabatnya berada di sana seolah sedang mengejek kakak tiri Cinderela yang nampak ketakutan. 

“Kau usir tikus jelek ini dari kamarku,” bentak kakak tirinya. 

Dengan lembut Cinderela memanggil tikus putih dan mengajaknya ke dapur. Tikus itu berlari cepat keluar kamar diikuti Cinderela menuju dapur. Keduanya kemudian bercanda dan tertawa gembira hingga terdengar suara keras dari jalan. Cinderela melongok dari jendela dapur ingin melihat apa yang terjadi. 

“Pengumuman! Bagi semua gadis diundang dalam pesta dansa pangeran besok malam. HArap datang dengan pakaian terbaik kalian karena Pangeran ingin memilih calon istri.” Ternyata itu adalah pengumuman yang dibacakan oleh pengawal istana yang berkeliling desa. 

“Kau harus ikut Cinderela,” kata tikus putih dengan senyum manisnya 

“MAna mungkin, ibu tiri pastilah tidak mengijinkanku,” jawab Cinderela sedih. 

Benar saja, ibu tiri memang tidak mengijinkan Cinderela untuk datang ke pesta PAngeran bahkan ia mengejek Cinderela, “Kau lihat dirimu di kaca Cinderela. KAu ini gadis jelek, dan kau juga tidak punya pakaian yang pantas untuk pergi ke pesta itu. NAnti kau hanya akan mempermalukan ibu saja kalau datang dengan pakaian kumalmu itu.” 

Cinderela sangat sedih dengan kata-kata ibunya, dan bertambah sedih ketika melihat kedua kakak tirinya pergi dengan gaun yang indah dengan tawa riang gembira. Kini tinggalah Cinderela sendirian di rumah yang sepi, duduk termenung di dapur. 

Untunglah tikus putih segera datang menghibur,” tenanglah Cinderela cantik, ibu peri pasti mau untuk menolongmu.” 

“Bagaimana mungkin, sekarang sudah malam dan pesta sebentar lagi pasti akan dimulai sedangkan aku……. Kau lihat sendiri, masih nampak kumal dan jelek.” Suara Cinderela sangat lirih pertanda ia sudah tidak punya harapan lagi untuk datang ke pesta. 

“Mana ada yang tidak mungkin bagi ibu peri Cinderela cantik.” Tiba-tiba ibu peri datang di hadapan Cinderela. Seketika itu juga wajh Cinderela nampak gembira. Ada seberkas harapan untuk bisa datang ke pesta dansa Pangeran. 

Dengan tongkat ajaibnya ibu Peri kemudian membantu Cinderela. “Sekarang lihatlah penampilan barumu Cinderela. ” 

 “Kau cantik sekali Cinderela,” teriak tikus putih penuh kekaguman. 

“Terima kasih Ibu Peri,” Kata Cinderela bahagia,” tapi bagaimana mungkin aku bisa pergi sekarang ke pesta pangeran? 

Dengan berjalan kaki pastilah lewat tengah malam nanti aku baru sampai ke istana, dan saat itu pastilah pesta sudah usai.” 

“Tenanglah Cinderela, aku akan mempersiapkan Kereta kuda untukmu.” Ibu Peri melihat ke sekeliling dapur hingga matanya tertuju pada sebuah labu besar. Dengan tongkat ajaibnya ibu Peri menyihir labu itu menjadi kereta yang indah. 

Sesaat kemudian ibu Peri melirik pada tikus putih,”kereta ini belum ada kudanya, jadi aku minta pertolonganmu tikus putih,” 

Belum sempat tikus putih menjawab sepatah kata pun, Ibu Peri telah menyihirnya menjadi seekor kuda dan siap menarik kereta labu Cinderela. 

“Ingat Cinderela, kau tidak boleh lupa waktu ya. Ini semua hanyalah sihir dan pada jam 12 malam nanti semua sihir ini akan hilang dan kembali seperti semula. Jadi kau harus segera pulang sebelum tengah malam ya.” Pesan ibu Peri

0 komentar:

Posting Komentar