Rabu, 23 Juli 2014

Kisah Cinderela (2)

Dengan diantar tikus putih menaiki kereta labu, Cinderela pergi menuju istana. Di sana sudah sangat ramai dan banyak orang ketika Cinderela datang. NAmun kecantikan dan penampilan Cinderela yang mewah membuat semua mata tertuju padanya, begitu juga pangeran. Hingga PAngeran langsung memilih Cinderela untuk berdansa dengannya tanpa mempedulikan sekian banyak gadis-gadis yang datang dan ingin berdansa dengannya. 

Keduanya nampak bahagia hingga tanpa terasa jam dinding istana berdentang dua belas kali. Cinderela panic dan langsung berlari meniggalkan pangeran tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal. KArena terburu-buru, Cinderela sempat jatuh ketika menuruni tangga istana hingga sebuah sepatunya terlepas dan tertinggal. Pangeran segera mengambil sepatu itu dan menyimpannya. 

Sementara itu tikus putih yang menjadi kuda berlari sekuat tenaga mebawa Cinderela dalam kereta. Tepat ketika mereka sampai di depan rumah, semuanya berubah seperti semula. Cinderela nampak lega dan bahagia. Lain halnya dengan kakak tiri dan ibu tiri yang terlihat kecewa ketika sampai di rumah. 

Keesokan harinya, pangeran nampak menungganngi kuda berkeliling ke semua desa dengan diikuti oleh pengawal istana yang membawa sebuah sepatu untuk dicobakan pada semua gadis. Sayangnya hingga menjelang sore pageran belum menemukan gadis yang kakinya cocok dengan sepatu itu. KAlau tidak kekecilan, pastilah kebesaran. KAkak tiri Cinderela juga ikut mencoba. 

Sayangnya Ibu tiri melarang Cinderela untuk keluar dan mencoba sepatu itu. TApi berkat pertolongan ibu Peri, Cinderela berhasil keluar mencoba sepatu. 

Betapa bahagia hati PAngeran ketika menemukan gadis yang semalam berdansa dengannya. Walaupun saat itu Cinderela berpakaian kumal namun kecantikannya tetap terpancar. Pangeran kemudian memintanya menjadi permaisuri dan membawanya ke istana. Cindereal yang baik, tidak dendam atas perlakuan ibu dan kakak tirinya. Ia pun mengajak mereka untuk ikut serta ke istana. 

PESANMembalas perlakuan buruk dengan perlakuan baik sangatlah mulia, hal ini akan menjauhkan rasa dendam yang justru bisa menyiksa diri kita sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar