Kamis, 17 Juli 2014

Pemanah Yang Sombong

Cerita Dari Turki 

Ada seorang pemuda yang sangat pandai memanah. Ia seringkali memamerkan kemampuannya memanah di pasar. Pemanah itu sangat senang ketika banyak orang bertepuk tangan dan mengagumi dirinya. 

“Kau memang pemanah yang terhebat di kota ini.” Puji salah satu penonton yang melihat permainan panahnya. 

Saat itu si pemanah berhasil memanah sebuah bola yang dilempar. Setelah itu ia memanah anak panah yang masih tertancap pada bola itu hingga terbelah menjadi dua. 

“Menurutku bukan hanya di kota ini saja, bahkan di seluruh negeri ini tidak ada yang bisa mengalahkan kemampuanku memanah.” Jawab si pemanah dengan sombongnya. 

Kebetulan di sana ada seorang tua yang juga ikut menonton. Mendengar kesombongan si pemuda pemanah, orang tua itu mendatanganinya. 

“Aku menantangmu anak muda.” Kata orang tua itu dengan suara keras. 

“Baiklah aku menerima tantanganmu Pak Tua, di mana kita akan berlomba?” Pemuda pemanah itu menjawab dengan sombong. 

“Di jembatan antara dua sisi jurang di luar kota ini. Besok pagi akan aku tunggu kau di sana.” Orang tua itu kemudian meninggalkan si pemuda pemanah. 

Pada keesokan harinya orang tua itu sudah menunggu, ketika si pemuda pemanah datang. Sebagian orang-orang yang kemaren menyaksikan di pasar hadir juga di sana. Orang tua itu berjalan ke tengah jembatan, yang hanya terbuat dari sebatang kayu kecil tanpa ada pegangan di kiri kanannya. Sehingga untuk bisa berjalan di atasnya diperlukan kemampuan menjaga keseimbangan yang tinggi. 

Ketika sampai di tengah jembatan, orang tua itu langsung melesatkan anak panahnya ke sebuah ranting pohon yang ada di seberang jembatan. Sebelum ranting itu jatuh ke bawah ia telah melesatkan satu lagi anak panah yang berhasil membuat anak panah yang menancap pada ranting terbelah dua. Tepuk tangan dan sorak sorai penonton ramai terdengar. 

Kemudian orang tua itu kembali ke sisi jurang tempat para penonton dan pemanah muda berdiri. “Sekarang giliranmu anak muda. Kau juga harus melakukan hal yang sama dengan yang aku lakukan tadi.” 

Pemuda pemanah dengan sombongnya berjalan ke arah jembatan. Baru saja kakinya menginjak jembatan, ia sudah kewalahan menjaga keseimbangan. Ia kemudian berjalan dengan sangat pelan dan matanya sesekali melihat ke bawah. Tiba-tiba ia merasa takut hingga kakinya hampir saja terpeleset. 

Saat itu ia sudah mencapai tengah jembatan. Namun ia tidak sanggup untuk menjaga keseimbangan badannya dan berdiri di sana. Sorakan penonton dari seberang membuatnya semakin panik. 

Hingga akhirnya tidak ada pilihan lain, pemuda pemanah yang sombong itu menyerah. Jangankan untuk memanah, untuk berdiri tegak di atas jembatan itu saja ia tidak mampu. Maka pemuda pemanah itu berjalan merangkak sambil memeluk batang kayu jembatan agar bisa sampai di tepi jurang kembali. 

Ia sudah tidak peduli lagi terhadap sorakan penonton yang mengejek dirinya. Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah keinginan untuk meminta maaf atas kesombongan dirinya kemaren. 

Pesan : Jangan pernah merasa bahwa diri kita paling hebat, itu adalah sifat anak yang sombong, karena sesungguhnya selalu ada yang lebih hebat dari yang terhebat sekalipun di dunia ini yaitu Tuhan.

0 komentar:

Posting Komentar