Rabu, 30 Juli 2014

Pemburu Dan Burung Snipe

Cerita Dari Norwegia 

Seorang pemburu setiap hari pergi ke hutan. Ia berburu bianatang apapun yang ditemui di hutan untuk kemudian dagingnya dijual ke pasar. Pemburu itu sangat pintar membidikkan senapannya hingga tak ada seekor binatang pun yang bisa lepas kalau sudah dalam incarannya. 

Pada suatu hari ketika si pemburuberjalan menuju hutan, di tengah perjalanan ada seekr burung Snipe yang sudah menunggunya. Pemburu itu segera menyiapkan senapannya untuk dibidikkan kea rah burung snipe yang sekarang berdiri tepat dihadapannya. 

“Apakah kau mau membidikku dengan senapanmu itu tuan pemburu?” tanya burung snipe sambil menatap si pemburu. 

“Tentu saja aku tidak akan melewatkan buruanku.” 

“Tapi aku bukan buruanmu tuan pemburu. Aku sengaja berdiri di sini untuk menunggu kedatanganmu sejak tadi.” 

Si pemburu heran dan menurunkan senapannya, “berani sekali kau ini burung snipe, tidakkah kau takut aku akan menembakmu.” 

Aku lebih takut jika kau menembak anak-anakku.” Jawab burung snipe. 

“Mana aku tahu anak-anakmu diantara sekian banyak burung snipe yang akan aku tembak.” 

“Jika kau lihat burung-burung snipe yang cantik-cantik, maka itulah anak-anakku tuan pemburu.” 

“Baiklah aku tidak akan menembak anak-anakmu dan juga menembakmu. Aku kagum pada keberanian serta kasih sayang mu terhadap anak-anakmu.” 

Si pemburu kemudian melanjutkan perjalanannya menuju ke dalam hutan. Hari itu terasa sangat sepi. Hari sudah siang namun pemburu belum juga mendapatkan seekor pun binatang buruan. 

“Ke mana semua perginya binatang-binatang dalam hutan ini,” pikir si pemburu kesal.

Si pemburu kemudian beristirahat sebentar di bawah sebuah pohon rindang di pinggir danau di dalam hutan. Angin yang bertiup sepoi-sepoi hampir saja menidurkan si pemburu. Namun kemudian ia terbangun mendengar suara riuh. Ternyata suara itu datangnya dari bagian lain di pinggir danau tak jauh dari tempat si pemburu beristirahat. Segerombolan burung sedang bermain dan bercanda di sana. 

“Dasar burung-burung jelek. Mengganggu tidurku saja,” NAmun kemudian mata si pemburu menjadi terbuka lebar dan menyadari bahwa segerombolan burung yang sedang bermain di pinggir danau itu adalah rejekinya hari ini. 

Si pemburu menyiapkan senapannya dan siap membidik. Dengan tembakan yang beruntun segerombolan buruung itu mati dan terkapar di atas rumput. Pemburu itu kemudian mengambil burung itu satu bersatu dan mengumpulkannya menjadi satu agar mudah di bawa. 

“Memang nasib baik. Lumayan pendapatanku hari ini. Sekarang aku bisa pulang.” Si pemburu berjalan pulang dengan menenteng lebih dari sepuluh ekor burung . Di tengah jalan ia kembali bertemu dengan burung snipe. Kali ini ia terlihat sedih dan menangis. 

“Kau tidak menepati janjimu tuan pemburu.” 

“Janji yang mana burung snipe. Aku tidak menembak anak-anakmu hari ini.” 

“Tuan pemburu, burung-burung yang ada tentenganmu itu semua adalah anak-anakku.” Jelas burung snipe sedih. 

“Bagaimana mungkin burung snipe, kau tadi bilang bahwa anak-anakmu adalah burung-burung snipe yang cantik. ” 

“Yang kau tenteng itu adalah burung-burung snipe tuan pemburu.” Tegas burung snipe 

“Iya, tapi ini adalah burung snipe jelek, bukan yang cantik,” sanggah si pemburu. 

“Bagiku itu adalah burung-burung snipe tercantik tuan pemburu karena itu adalah anak-anakku.” 

Namun apa boleh buat, semuanya sudah terlanjur. Anak-anak burung snipe sudah mati ditembak pemburu karena salah pengertian pemburu atas apa yang dikatakan oleh burung snipe. 

PESAN 
Sampaikan pesanmu sejelas mungkin agar orang lain tidak salah menafsirkan sendiri hingga akhirnya nanti bisa merugikan diri kita sendiri atau pun orang lain.

0 komentar:

Posting Komentar