Kamis, 24 Juli 2014

Putri Salju

Cerita Dari Rusia 

Di sebuah desa di pinggir hutan tinggallah sepasang suami istri yang sudah tua. Kakek dan nenek ini sudah lama sekali menikah namun belum juga dikarunia anak. Setiap saat keduanya berharap dengan terus berdoa pada Tuhan. Walaupun sudah lebih dari lima puluh tahun keduanya meminta, namun kakek dan nenek itu tidak pernah putus asa. Mereka sangat percaya bahwa Tuhan pasti akan mengabulkan doa-doa umatnya. 

Setiap musim dingin tiba anak-anak di desa tempatnya tinggal selalu bermain salju. KAkek dan nenek itu selalu memandangi merek dengan perasaan gembira dan berharap keduanya suatu saat nanti bisa mempunyai anak yang manis dan lucu. Anak-anak itu bermain seluncur, saling melempar bola salju dan juga membuat boneka salju. 

Suatu ketika salju turun sangat lebat dan tumpukan salju sangat banyak di depan rumah kakek dan nenek itu. Ketika hujan salju reda, anak-anak kembali bermain. Kali ini si nenek tertarik pada boneka salju buatan anak-anak itu. Ia pun kemudian mengajak suaminya untuk membuat boneka salju. “Aku akan memakaikan syal merah ini pada lehernya,” nenek nampak sangat gembira mendandani boneka salju buatannya dan suaminya itu. 

Kedua kakek dan nenek itu sangat bersemangat membuat boneka salju itu secantik mungkin. Mereka merasa seolah-olah boneka salju itu adalah anak mereka sendiri.

“Cantik sekali boneka ini,” puji si Kakek 

Nenek tak henti-hentinya memandangi boneka salju itu hingga tanpa ia sadari ia berkata,”Seandainya saja boneka salju ini benar-benar menjadi anak kita.” 

Tapi mereka berdua ketahui, rupanya tak jauh dari tempat nenek dan kakek berdiri, ada Peri Salju yang mengawasi anak-anak yang sedang bermain. Peri Salju menjadi terharu melihat kakek dan nenek. Ia pun menyihir dirinya sendiri agar bisa terlihat dan mendekati kedua suami istri itu. 

“Aku akan membantu kalian,” kata Peri Salju dengan lembut. Tentu saja kakek dan nenek itu sangat kaget dengan kedatangan Peri Salju yang tiba-tiba itu. 

“Siapa anda?” Tanya nenek 

“Aku Peri Salju dan aku akan menyihir boneka salju batan kalian agar bisa menjadi anak seperti yang kalian minta. Tapi kalian harus ingat, anak ini asalnya dari salju, jadi ia tidak bisa terkena sinar matahari. Kalau sampai hal itu terjadi, kalian harus rela kehilangan anak ini.” 

Tak lama setelah menyampaikan pesannya Peri Salju mengilang. HAri pun sudah semakin malam dan kakek serta nenek masuk ke dalam rumah untuk istirahat setelah lelah seharian membuat boneka salju. 

Keesokan harinya mereka berdua seperti biasanya membuka tirai dan memandang ke luar rumah dari jendela. Betapa terkejutnya mereka berdua karena boneka salju yang mereka buat kemaren, kini telah berubah menjadi seorang anak perempuan yang cantik. Kakek juga nenek nampak sangat gembira dan keduanya segera berlari ke luar rumah. 

“Anak ini pasti boneka salju yang telah di sihir oleh Peri Salju menjadi manusia,” nenek itu nampak takjub dengan anak perempuan yang kini berada di hadapannya. Ia masih tidak bisa percaya dengan apa yang sedang dialaminya. Dipeluknya anak itu dan diajaknya masuk ke dalam rumah. 

“Kita beri nama anak ini Putri Salju,” usul kakek. 

“Ya, aku setuju. Kulitmu lembut seperti salju nak.” Nenek tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya. 

Kakek dan nenek sangat menyayangi Putri Salju. Mereka juga selalu mengingat pesan Peri Salju, sehingga Putri Salju selalu berada di dalam rumah dan hanya bisa keluar rumah pada musim dingin. Keadaan ini tentu saja sangat menyiksa Putri Salju. Ia sangat ingin bermain-main dengan teman-temannya tidak hanya pada saat musim dingin saja. 

“Ijinkan aku bermain laying-layang diluar sana ibu,” pinta Putri Salju pada suatu hari. 

Dengan lembut nenek itu menolak permintaan putrinya,”Putri Salju yang lembut, tubuhmu selembut salju, ini adalah musim panas dan matahari di luar sana tidak baik untukmu, bisa-bisa nanti tubuhmu rusak terbakar sinarnya.” 

“Tapi aku bosan ibu berada di dalam rumah terus.” 

“Kau bisa melihat teman-temanmu bermain dari jendela, kan?” bujuk si nenek 

Putri Salju adalah anak yang baik sehingga ia menuruti perintah ibunya. Sebenarnya nenek itu juga kasihan melihat anaknya terkurung di dalam rumah tidak bisa bermain sebebas teman-teman lainnya. 

Di luar sana, anak-anak ramai bermain layang-layang. Sementara itu Putri Salju memandang dari balik jendela kamarnya yang berada di lantai atas. Ia pun ikut tertawa gembira hingga sebuah layang-layang tiba-tiba terbang di hadapannya. Dengan spontan Putri Salju ingin menangkapnya. 

Layang-layang itu tersangkut di dahan pohon tepat di depan jendela kamarnya. TAnpa ia sadari kakinya sudah melangkah keluar jendela dan tangannya mencoba meraih layang-layang. Karena tidak bisa menjaga keseimbangan, akhirnya tubuh Putri Salju jatuh ke bawah. “Bummmmm……………” 

Mendengar suara gedebum orang jatuh, kakek dan nenek segera keluar rumah ingin melihat apa yang terjadi. Betapa terkejutnya mereka melihat yang jatuh adalah Putri Salju, dan mereka lebih terkejut lagi ketika tubuh Putri Salju menguap dengan begitu cepat ketika sinar matahari langsung mengenai tubuhnya. 

Bagaimanapun juga kakek dan nenek harus merelakan kepergian Putri Salju. Mereka masih tetap bersyukur karena telah diberi kesempatan menjadi orang tua walaupun hanya sebentar saja. 

PESAN 
Sikap kakek dan nenek patut ditiru, mereka tidak pernah berhenti berdoa dan berharap. Ketika apa yang mereka miliki diambil kembali oleh Tuhan keduanya bisa menerima dengan ikhlas

0 komentar:

Posting Komentar