Sabtu, 12 Juli 2014

Sembilan Bersaudara

Cerita Dari Makedonia 

Raja Makedonia memerintahkan seluruh laki-laki dewasa di kerajaannya untuk ikut berperang. Ada sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ibu dan sembilan anak yang kesemuanya laki-laki. Kesembilan bersaudara itu pun meminta doa restu ibunya sebelum berangkat. Namun pada malam sebelum kepergian anak-anaknya, ibu itu telah diberikan firasat lewat mimpi. Dalam mimpinya, sibungsu tidak akan kembali karena ia menjadi tawanan naga yang besar. 

“Aku memberikan restuku pada kalian semua.” Kata ibu mereka Satu persatu anak laki-laki itu mencium tangan ibu mereka. Ketika si bungsu mencium telapak tangan ibunya, si ibu tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia pun kemudian berpesan. 

“Hati-hatilah bungsu dan kalian semua sebagai kaka-kakak bungsu, jagalah adik kalian dengan baik. Sebenarnya ia masih terlalu kecil, oleh karena itu ibu akan memberikan kuda kesayangan ibu si hitam untuk dinaiki oleh si bungsu.” 

Kedelapan kakak si bungsu mengangguk dan berjanji akan menjaga adik mereka dengan baik. Maka setelah semua perbekalan dan kuda untuk si bungsu siap, mereka semua berangkat diiringi dengan lambaian tangan ibunya. 

Beberapa hari lamanya kesembilan bersaudara itu berjalan. Hingga pada suatu hari, persediaan air minum mereka habis sementara perjalanan mereka masih panajang. Mereka kemudian memutuskan mencari mata air dan mengambil air untuk minum mereka juga sebagai persediaan selama di perjalanan nanti. 

Setelah beberapa lama mereka berusaha mencari akhirnya sampailah kesembilan bersaudara itu di sebuah sumur. “Seperinya sumur ini sangat dalam dan lubangnya sangat kecil.” Kata kakak tertua setelah memeriksa ke dalam sumur. 

“Kalau begitu kita suruh si bungsu saja yang badannya kecil untuk masuk ke dalam sambil membawa ember besar sementara kita berdelapan menariknya dengan tali tambang.” Usul kakak kedua. 

Usul itu disetujui oleh yang lainnya. Mereka semua kemudian menyiapkan ember dan tali yang diikatkan pada tubuh si bungsu. Tak lama kemudian si bungsu masuk ke dalam sumur sementara ke delapan kakak-kakaknya menariknya dengan seutas tali tambang. 

“Beri kami tanda dengan teriakan mu ya bungsu kalau kau sudah berhasil mengisi ember itu dengan air, agar kami semua bisa segera menarikmu kembali ke atas.” Pesan kakak tertua yang berada di barisan paling depan. 

“Baiklah kak.” Tak lama setelah si si bungsu di turunkan terdengar suara teriakan si bungsu dari dalam sumur. Ke delapan kakak si bungsu mengira si bungsu telah selesai megambil air, maka mereka pun segera menarik kembali tali tambang secara bersamaan. Kali ini terasa sangat berat, sehingga kedelapan bersaudara itu harus menariknya dengan sekuat tenaga. 

“Mengapa sekarang jadi berat sekali.” Kata kakak ketiga sambil terus menarik tali tambang. 

“Mungkin si bungsu berhasil mengambil air yang sangat banyak,” jawab kakak keempat yang berada dibelakangnya. 

“Tapi ember yang dibawa si bungsu hanya satu, apa mungkin bisa berisi air seberat ini.” Sambung kakak ke dua yang berada di depan kakak ketiga. 

Tak berapa lama kemudian lambaian tangan si bungsu sudah terlihat. Namun alangkah kagetnya ke delapan bersaudara itu ketika mengetahui badan si bungsu didililit oleh seekor ular naga yang sangat besar. Pantas saja kalau selama ini mereka terasa sangat berat menariknya ke atas. 

Ular naga itu menjulurkan lidahnya dan siap menyemburkan api ke arah kedelapan kakak si bungsu. Si hitam, kuda yang dinaiki oleh si bungsu, berusaha melindungi kedelapan kakak, kakak si bungsu dari semburan api si naga. Kuda itu berlari ke depan dan siap melakukan penyerangan terhadap naga. Namun malang bagi si hitam, karena akibat dari perbuatannya itu, ia harus mati terkena semburan api naga. 

“Lepaskan saja tali itu kak, biarkan aku saja yang menjadi korban naga. Kalian harus kembali kepada ibu.” Teriak si bungsu. “Tidak bungsu, kami harus melindungimu. Kami sudah berjanji pada ibu untuk selalu melindungimu” Jawab kakak tertua. 

“Sudahlah kak, naga ini sangat kuat. Kita semua tidak bisa melawannya. Cepat lepaskan tali itu. “ perintah si bungsu. 

Naga itu terlihat siap menjulurkan lidah apinya. Melihat situasi yang membahayakan, akhirnya kedelapan bersaudara itu melepaskan tali tambang yang mereka ikatkan pada tubuh si bungsu. Sekejab kemudian tubuh si bungsu serta naga itu jatuh ke dalam sumur. 

Dengan sedih ke delapan bersaudara itu pulang. Walaupun mereka kehilangan, setidaknya kedelapan kakak si bungsu sudah berusaha untuk melindungi dan menyelamatkan adik mereka. 

PESAN Kita harus hidup rukun dan saling melindungi saudara kita masing-masing

0 komentar:

Posting Komentar