Jumat, 04 Juli 2014

Sepotong Lidi

Dulu ada sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan tujuh orang anak. Semua anak-anak itu adalah laki-laki. Setiap hari mereka selalu bertengkar, ada saja hal-hal yang menyebabkan mereka bertengkar. 

Kakak yang paling besar tidak mau mengalah, sedangkan adik-adiknya juga tidak mau diatur oleh kakak-kakaknya. Mereka selalu merasa iri antara yang satu dengan yang lainnya. Waktu mereka akhirnya habis untuk bertengkar, tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk membantu pekerjaan orang tuanya. 

Pada suatu hari terjadi sebuah pertengkaran. Si Ayah kemudian memanggil semua anak-anaknya. Ketujuh anak laki-laki itu kemudian berkumpul membuat lingkaran. Dihadapan mereka ada sebuah sapu lidi yang berukuran besar, disampingnya ada juga sekantong uang perak. 

“Ayah akan membuat sayembara.” Kata si Ayah dengan lantang. 

"Siapa saja yang bisa mematahkan sapu lidi ini, akan aku beri hadiah sekantong uang perak.” Kata si ayah lagi. 

Pertama kali si sulung yang mencoba. Sebagai anak paling tua ia akan malu pada adik-adiknya jika tidak bisa memenangkan sayembara ini. Walaupun si sulung sudah mengeluarkan seluruh tenaganya, tetap saja sapu lidi itu tidak dapat patah. 

Setelah si sulung menyerah, anak kedua maju. Ia mempunyai badan yang sangat besar karena setiap hari kerjanya hanya makan dan bermalas-malasan saja. Tapi anak kedua ini juga mengalami nasib yang sama dengan kakaknya. Sapu lidi itu tidak bisa ia patahkan. 

Sampai dengan anak ketujuh tetap saja sapu lidi itu tidak bisa mereka patahkan. Akhirnya setelah ketujuh anak itu menyerah, si ayah membuka ikatan sapu lidi tersebut. Sekarang sapu lidi itu menjadi lidi-lidi yang berserakan di tanah. 

Si Ayah mengambil satu buah lidi dan mematahkannya. Ia melakukan hal yang sama pada semua lidi yang ada. 

“Kalau cara ayah mematahkannya seperti itu, kami juga bisa.” Kata si sulung. 

“Ya benar. Ini seperti kalian yang sering bertengkar dan suka semaunya sendiri. Orang lain akan dengan mudah mematahkan kalian.” Jawab ayah. 

"Aku tidak mengerti maksud ayah.” Tanya si bungsu. 

“Jika kalian setiap hari bertengkar, orang lain akan dengan mudah menghasut kalian semua. Dalam waktu singkat kalian semua akan patah atau hancur seperti lidi-lidi ini. Tapi kalau kalian bersatu seperti sapu tadi, maka kalian akan menjadi kuat, dan orang lain tidak akan mudah menghancurkan kalian semua.” 

Anak-anak itu menjadi sadar, bahwa persatuan sesama saudara sangatlah penting. Pertengkaran yang mereka lakukan, selama ini hanyalah membuang waktu dan tenaga saja. Sejak saat itu ketujuh anak laki-laki itu selalu bekerjasama membantu kedua orang tua mereka. 

Pesan : Jagalah selalu rasa persatuan diantara saudara, teman juga bangsa

0 komentar:

Posting Komentar