Sabtu, 12 Juli 2014

Si Dekil

Nama sebenarnya adalah April. Anak perempuan bertubuh kurus dan berpakaian lusuh. Setiap hari ia selalu membawa tas dari kain blacu yang sudah dekil ke sekolah sehingga murid-murid lain meumanggilnya dengan sebutan “Si dekil”. 

Diantara sekian banyak anak di sekolah, Vito adalah anak yang paling membenci April. ”Anak dekil itu tak pantas menjadi murid di sekolah ini.” 

“Dia anak yang baik, dulu aku pernah dibantunya mengambil gelangku yang jatuh diselokan,” Sasya membela April. 

“Ala..... mana bisa anak begitu dipercaya. Aku yakin kalau itu hanya akal-akalan dia saja. Jangan mudah percaya begitu saja.” Vito tetap saja pada pandangan buruknya terhadap April. 

“Eh.... si dekil lewat tuh,” Jonas menyenggol Vito dengan lengannya sambil berbisik. Vito tersenyum, sepertinya ia mendapat ide bagus untuk meledek April seperti biasanya. 

“Kalau aku pikir, si dekil ini hitam-hitam kereta api ya,” teriak Vito dengan harapan anak-anak yang lain mendengar. 

“Biar hitam tapi kan banyak yang menanti,” jawab Sasya membela April. 

Sedangkan April hanya tertunduk malu dan tidak menjawab apapun. 

“Ha....ha....” Vito tertawa terbahak-bahak juga Jonas dan teman-teman Vito yang lainnya. 

“Itu dulu..... tapi sekarang tidak ada yang mau menanti kereta api hitam, meskipun gratis,” tambah Jonas. 

Untunglah bel segera berbunyi sehingga April selamat dari ejekan Vito dan teman-temannya. Hal ini bukan hanya terjadi sekali dua kali tapi sudah seringkali, bahkan kadang-kadang mereka berbuat iseng pada April. 

Siang itu seperti biasa, sepulang sekolah April berjalan seorang diri melewati jalanan yang sepi. Jalan itu adalah jalan pintas untuk sampai ke rumah April, yang terletak di belakang perumahan elit. Hari ini sangat panas tapi April tidak peduli. 

Tiba-tiba terdengar bunyi yang mengagetkan April, ”Gubrak.......” 

Ternyata seorang anak laki-laki yang sedang mengendarai sepeda, jatuh di jalan setelah roda sepedanya menabrak lubang besar. Anak itu tertindih sepeda sementara tasnya terlempar dan isinya berhamburan di jalanan. 

“Vito...?” April hampir tak percaya, bahwa anak yang mengalami kecelakaan itu adalah Vito teman sekelasnya. Saat itu jalanan sepi dan tidak ada orang lain selain dirinya dan Vito. 

Segera April menghampiri Vito dan membantu mengangkat sepeda yang menimpa tubuh Vito. 

“Aduh.....” Dengan sudah payah Vito mencoba berdiri kemudian berjalan ke pinggir dan duduk di tanah berumput. 

April meminggirkan sepeda Vito kemudian memunguti satu-persatu isi tas Vito yang berserakan. Setelah memasukkan barang-barang itu kedalam tas Vito, April menghampiri Vito dan menyerahkan tas Vito. 

“Ini tas kamu.” Kata April sambil duduk di samping Vito. 

“Terima kasih ya,” Vito nampak malu. 

Hampir tak percaya rasanya April mendengar ucapan Vito, “Sama-sama.” 

“Rumah kamu di sekitar sini juga, kan? yuk aku antar pulang, bonceng sepedaku.” Vito nampak berbeda dengan Vito yang biasa kasar pada April di sekolah, kata-katanya begitu lembut. 

“Tapi kamu sakit kan?” “Ah..... aku baik-baik saja, ini sih tak seberapa berat , ayo naik.” 

Karena Vito terus memaksa, akhirnya April mau juga diantar Vito pulang. Sejak saat itu Vito dan April berteman baik. Bahkan kalau ada orang lain yang mengejek April, maka Vito lah yang pertama membela. 

Pesan : Orang yang penampilan luarnya jelek belum tentu hatinya juga jelek

0 komentar:

Posting Komentar