Kamis, 24 Juli 2014

Si KIkir

Cerita Dari Cina 

Dahulu ada seorang laki-laki yang sangat kaya. Sayangnya ia sangat pelit. Tidak pernah sedikit pun ia mengeluarkan sedekah bagi orang miskin. Makannya setiap hari hanyalah bubur nasi dengan sayur. Ia juga tidak pernah membeli baju-baju bagus, baik itu untuk dirinya sendiri atau pun untuk anak-anaknya. Tapi untunglah ketiga anak-anaknya tidak ada satu pun yang kikir seperti ayahnya. 

Hingga akhirnya ketika usianya sudah sangat tua, laki-laki itu jatuh sakit. Sedangkan harta yang ia kumpulkan sudah sangat banyak. Laki-laki itu ingin membagikan warisan miliknya kepada ketiga anak-anaknya. Namun tetap saja ia harus memastikan bahwa anaknya nanti bisa kikir seperti dirinya, agar harta tersebut tidak terbuang dengan percuma. 

Maka ketika ketiga anaknya berkumpul, laki-laki kikir itu berkata kepada anaknya yang tertua, “jika aku mati nanti, apa yang akan kau lakukan pada hartaku.” 

“Aku akan memberikan sebagian harta ayah untuk sedekah kepada orang miskin, karena selama hidup, ayah tidak pernah melakukannya.” Jawab si anak tertua. 

Jelas saja laki-laki kikir itu menjadi marah, “bodoh sekali kau ini. Aku mengumpulkan harta itu dengan susah payah tapi kau malah akan membagikannya kepada orang lain. Kalau begitu aku tidak akan memberikan sedikit pun hartaku kepadamu.” 

Laki-laki kikir itu juga memberikan pertanyaan yang sama kepada anak kedua. Sebagai anak yang baik, anak kedua menjawab, “aku akan memanggil beberapa orang pendeta untuk mendoakan ayah agar dosa-dosa ayah diampuni, karena selama hidup ayah belum pernah melakukan perbuatan baik.” 

Kembali laki-laki kikir itu marah dengan jawaban anak keduanya, “kau ini sama saja dengan kakakmu. Meminta doa dari satu pendeta saja kita harus mengeluarkan uang banyak, apalagi kau akan meminta beberapa pendeta. Kau juga hanya akan membuang-buang uangku saja, maka aku tidak akan memberikan harta warisanku kepadamu.” 

Anak yang ketiga sangat membenci sifat kikir ayahnya, maka ketika ayahnya menanyakan hal yang sama dengan yang ditanyakan pada kedua kakaknya, ia pun menjawab dengan jujur, “aku sangat tidak suka pada sifat kikir ayah dan aku tidak mau orang lain mengingat ayah. Oleh karena itu aku akan menjual tubuh ayah ke rumah sakit di propinsi utara. Di sana setiap organ tubuh ayah akan dihargai mahal.” 

Ternyata laki-laki kikir itu sangat menyukai jawaban anaknya yang ketiga ini, “kau memang anak yang bisa diandalkan. Aku suka kalau kau bisa membuat tubuhku yang sudah mati nanti masih bisa menghasilkan uang. Tapi pesanku janganlah kau menjual ke propinsi utara karena di sana orang-orangnya sangat terkenal senang berhutang. Jualah ke propinsi selatan saja, di sana kau pasti akan mendapatkan harga terbaik.” 

Namun setelah ayahnya mati, ketiga anak laki-laki kikir itu memberikan sebagian harta ayahnya kepada orang-orang miskin dan meminta maaf kepada orang-orang yang pernah merasa dirugikan oleh ayahnya. Setelah itu mereka membagi sisanya secara adil. Untunglah laki-laki kikir itu mempunyai anak-anak yang baik. 

Pesan 
Tidak ada gunanya menjadi orang yang kikir karena harta itu tidak dibawa mati. Jika kau punya uang lebih, jangan lupa bersedekah kepada orang miskin yang membutuhkan bantuan

0 komentar:

Posting Komentar