Kamis, 03 Juli 2014

Tari Guel

Cerita Rakyat Aceh 


Tari Guel merupakan salah satu tarian yang biasa ditarikan oleh masyarakat di dataran tinggi Gayo, Aceh. Guel artinya membunyikan. Jadi tari Guel ini ditarikan bersama dengan bunyi-bunyian seperti gendang. 

Dahulu kala ada dua anak perempuan Puteri Raja Johor yang bernama Muria dan Sangede. Setiap hari keduanya bertugas menggembala itik. Sayangnya keduanya seringkali bermain-main dan lalai dalam menjaga itik. 

Hingga pada suatu hari ketika keduanya sedang bermain layangan, ada angin bertiup kencang. Layangan itu putus dan kedua kakak beradik itu sibuk mengejarnya. Di saat itulah itik-itik yang mereka gembalakan pergi entah kemana. 

Tentu saja hal ini membuat ayahnya marah. Kedua anak ini pun disuruh pergi mencari itik-itik yang hilang. Dalam pencarian itik itu, kakak beradik Muria dan Sagede tertidur di sebuah Langgar karena kelelahan. Orang-orang kampung yang menemukan kedua anak ini kemudian menyerahkannya pada Raja Serule.  

Ternyata Raja Serule judtru mengangkat Muria dan Sangede menjadi anak angkatnya. Sejak adanya kedua kakak beradik itu, kerajaan Serule bertambah makmur. Hal ini membuat Raja Linge iri hati. Diam-diam ia menculik Muria dan menguburnya di Samarkilang Aceh Tenggara. 

Pada suatu hari Semua raja-raja kecil di Aceh menghadap Sultan di Kota Raja untuk memberikan upeti. Di sana hadir Raja Serule juga Raja Linge. Sangide ikut serta bersama ayah angkatnya itu ke Kota Raja. 

Di saat ayahnya menghadap Sultan, Sangede bermain bersama Puteri Sultan. Di saat itulah Sangede menggambar seekor binatang yang menyerupai gajah berwarna putih. Puteri Sultan sangat senang dengan gambar Sangede. Ia pun meminta ayahnya mencari gaah putih dan mendatangkan untuk temannya bermain di istana. 

Sultan memerintahkan raja-raja yang hadir untuk mencari Gajah Putih. Padahal mereka belum pernah melihat seperti apakah bentuk binatang itu sebelumnya. Begitu juga dengan Raja Serule. 

Pada suatu malam Sangede bermimpi bertemu dnegan saudaranya, Muria. Dalam mimpi itu Muria berkata, “gajah putih itu adalah penjelmaanku. Pergilah ke Samarkilang tempat aku dikubur. Di sana kau akan menemukanku.” 

Maka Sangede bersama dengan ayah angkatnya, Raja Serule pergi ke Samarkilang. Benar saja, di sana mereka bertemu dengan seekor gajah putih yang sangat penurut. Sayangnya gajah itu tidak mau diajak berjalan untuk dituntun menuju kota raja. 

Hingga akhirnya Sangede membujuknya dengan berdendang sambil meliuk-liukkan tubuhnya seperti sedang menari. Ternyata Gajah putih itu mau mengikuti Sangede. Maka Sangede pun menari hingga mereka sampai di istana kota raja. Sejak saat itu tarian Sangede dikenal dengan nama Tari Guel. 

Hikmah Cerita : Kita tidak perlu memaksakan kehendak untuk membuat seseorang menuruti keinginan kita. Dengan cara yang lemah lembut orang lain akan lebih suka menuruti apa yang kita mau.

0 komentar:

Posting Komentar