Senin, 07 Juli 2014

Taro Dan Sebatang Jerami

Cerita Dari Jepang 

Taro adalah pemuda yang sangat miskin. Sebenarnya ia sudah bekerja keras, namun tetap saja uang dari hasil pekerjaannya tidak mencukupi untuk menghidupi dirinya sendiri sehari-hari. Taro juga seorang yang rajin beribadah. Setiap pagi ia selalu pergi ke kuil untuk memohon agar diberikan kemudahan dan keselamatan dalam bekerja, pada sore harinya Taro pergi juga ke kuil untuk berterima kasih atas rejeki yang telah ia terima hari itu. 

Pada suatu sore Taro berdoa dengan sungguh-sungguh, “Ya Tuhan, terima kasih atas rejeki yang telah Kau berikan untukku hari ini. Namun jika aku boleh meminta lebih ya Tuhan, berikanlah aku rejeki yang sangat banyak karena aku telah bekerja keras setiap hari.” 

Begitu seriusnya Taro berdoa hingga ia mendengar sebuah suara, “Ambillah apapun yang ada dalam genggamanmu besok pagi, karena itulah yang akan mengantarkanmu pada rejeki yang sangat banyak pada hari-hari berikutnya.” 

Taro sendiri juga tidak melihat siapa yang bersuara. Tapi ia percaya itu adalah petunjuk yang baik untuknya. Ketika pada keesokan harinya Taro keluar dari pintu rumahnya dan terjatuh di tanah, tanpa sengaja tangannya menggenggam jerami yang banyak berserakan di sana. 

“Mungkin jerami inilah yang akan mengantarkanku pada rejeki yang sangat banyak.” Pikir Taro. 

Taro kemudian pergi pekerja seperti biasanya. Pada siang harinya, ketika ia makan siang di bawah sebatang pohon, seekor lalat mendekati makanannya. Taro menangkap lalat itu dan mengikatnya dengan jerami. Jerami tadi ia ikatkan pada dahan pohon di atasnya sehingga ketika ada angin bertiup, lalat itu terbang bagaikan kincir angin. 

Ketika sebuah kereta mewah lewat, anak kecil yang berada didalamnya mengira lalat itu adalah mainan. Anak itu merengek kepada ibunya untuk bisa memiliki mainan tersebut. Si ibu kemudian turun dari kereta serta meminta lalat yang diikat jerami itu pada Taro. Sebagai gantinya, si ibu memberikan lima butir jeruk kepada Taro. 

Dengan senang hati Taro membawa pulang jeruk yang diterimanya. Dalam perjalanan pulang, ia bertemu dengan seorang nenek yang kehausan. Taro kemudian memberikan jeruk yang dibawanya kepada nenek tersebut. Sebagai rasa terima kasihnya, nenek itu menukar jeruk yang diberikan Taro dengan selendang sutra miliknya. 

Sebelum pulang ke rumah, seperti biasanya Taro terlebih dahulu pergi ke kuil. Namun di dekat kuil Taro melihat ada seekor kuda yang kakinya terluka. Si pemilik kuda tersebut terburu-buru akan melanjutkan perjalanan, maka ia menawarkan Taro agar mau membeli kudanya yang sedang sakit itu. 

“Tapi aku tidak punya uang, yang aku punya hanyalah sehelai selendang sutra ini.” Jawab Taro. 

Tanpa diduga ternyata si pemilik kuda menyetujui kudanya ditukar dengan sehelai selendang sutra. Taro kemudian merawat kuda tersebut dengan sabar hingga kuda itu sehat kembali. Pada suatu hari ada seseorang datang dan berniat membeli kuda Taro untuk mengangkut barang ke luar kot karena orang tersebut berniat akan pindah rumah. 

“Bolehkah aku membayar kudamu dengan sawah yang aku punya?” tanya orang yang ingin membeli kuda. 

Tentu saja Taro mau menukar kudanya dengan sebidang tanah sawah. Sejak saat itu Taro menjadi seorang petani yang rajin hingga kehidupannya berubah menjadi seorang yang kaya raya. 

Pesan : Hargailah sesuatu yang kecil jika kita menginginkan sesuatu yang besar, karena yang besar itu asalnya dari yang kecil.

0 komentar:

Posting Komentar