Selasa, 07 Oktober 2014

Legenda Danau Tondano

Cerita Rakyat Sulawesi Utara 


Pada zaman dahulu di Minahasa, Sulawesi Utara terdapat sebuah gunung yang tinggi. Daerah tersebut kemudian terbagi menjadi dua yaitu bagian utara dan bagian selatan. Masing-masing daerah dipimpin oleh seorang Tonaas. 

Tonaas di daerah utara mempunyai seorang anak perempuan bernama Marimbaouw. Sedangkan tonaas dari selatan juga mempunyai seorang anak laki-laki bernama Maharimbouw. Kedua anak ini hampir seumuran. Karena tempat tinggal mereka yang berjauhan menyebabkan keduanya tidak saling mengenal satu dengan yang lain. 

Ketika Marimbouw dan Maharimbouw beranjak dewasa, tibalah waktunya bagi masing-masing Tonaas mempersiapkan anak-anak mereka sebagai penerus, memimpin daerah masing-masing. Bagi Maharimbouw, hal ini tentu saja tudak jadi masalah karena ia adalah seorang laki-laki, ia bisa saja dengan mudah berlatih ilmu beladiri dan pergi kemanapun dengan rasa aman. 

Namun tidak demikian halnya dengan Marimbouw yang seorang perempuan. Karena wajahnya yang cantik, maka banyak pemuda desa yang datang untuk melamarnya, belum lagi kalau ia harus bepergian jauh atau berburu ke hutan, dengan penampilan dan pakaiannya sebagai perempuan, hal ini tentu saja sangat menyulitkan. Hingga akhirnya ia bersumpah pada kedua orang tuanya, Tonaas Utara. 

“Demi rakyat daerah utara maka mulai saat ini aku bersumpah untuk tidak menikah terlebih dahulu hingga aku siap untuk menggantikan orang tuaku menjadi Tonaas di daerah utara,” demikianlah sumpah Marimbouw dihadapan seluruh rakyat utara. 

Sejak saat itu pula Marimbouw merubah penampilan seperti layaknya seorang laki-laki. Selain untuk mendukung kegiatannya sehari-hari mempelajari ilmu beladiri juga untuk menjaga dirinya dari laki-laki dari daerah lain yang mungkin menyukai dirinya. 

Sayangnya manusia hanya bisa berencana dan Tuhan lah yang menentukan semuanya. Pada suatu ketika Marimbouw pergi berburu seorang diri. Rupanya ia melakukan perburuan sudah cukup jauh, namun ia belum juga menemukan satupun binatang buruan, hingga tanpa disadarinya ia telah sampai di daerah perbatasan dan memasuki wilayah selatan. 

Saat itu Maharimbouw sedang melihat-lihat keadaan didaerah perbatasan. Begitu diketahuinya ada orang asing memasuki wilayahnya, maka ia pun bersiap-siap untuk menangkap orang tersebut dan menjadikannya tawanan. 

“Apa yang kau lakukan disini anak muda,” tanya Maharimbouw pada Marimbouw. 

“Aku sedang berburu tapi aku tersesat rupanya.” Jawab Marimbouw, rupanya ia sedikit kelelahan. 

Maharimbouw menatap tajam pada Marimbouw, ia sedikit curiga,” Jangnalah kau berbohong, berterus teranglah kalau kau adalah mata-mata dari utara.” 

“Bukan.... tuduhanmu itu sama sekali tidak benar, aku benar-benar tersesat, oleh karena itu ujinkan aku kembali ke daerahku.” 

“Tentu saja aku tidak bisa mempercayai orang asing sepertimu. Sekarang aku harus menangkapmu.” Maharimbouw bersiap-siap untuk menangkap Marimbouw, namun rupanya terjadi perlawanan. Pertempuran keduanya tidak bisa dihindari lagi. 

Kondisi Marimbouw yang kelelahan membuat dirinya dengan mudah dikalahkan oleh Maharimbouw, sayangnya ketika akan ditangkap Marimbouw mengelak dan hal ini justru membuka kedoknya sebagai wanita. Tutup kepala Marimbouw terlepas dan rambutnya yang panjang terurai. 

Kejadian itu membuat Maharimbouw terpesona pada kecantikan Marimbouw. Sejak saat itu keduanya semakin sering bertemu secara diam-diam di perbatasan. Semakin lama hubungan keduanya semakin dekat. Hingga akhirnya Maharimbouw memutuskan untuk meminang Marimbouw. 

“Aku tidak bisa menikah denganmu sekarang karena aku telah bersumpah untuk tidak menikah sebelum aku siap menjadi tonaas menggantikan ayahku. Saat ini masih banyak hal yang harus aku pelajari.” Maharimbouw menolak secara halus ajakan Maharimbouw. 

Namun seiring berjalannya waktu, Marimbouw akhirnya menyerah pada bujuk rayu Maharimbouw. Keduanya menikah diam-diam. Beberapa saat setelah pernikahan itu terjadi, Gunung Tinggi tempat mereka tinggal mendadak menyemburkan lahar panas, tanah disekitarnya berguncang, batu-batuan ditebing berjatuhan. 

Daerah itu menjadi porak poranda dan parahnya lagi air bah yang entah dari mana datangnya tiba-tiba menerjang kampung. Semua ini adalah akibat dari Marimbouw yang melanggar sumpahnya. Daerah itu kemudian berubah menjadi sebuah danau besar yang sekarang dikenal dengan nama Danau Tondano.

0 komentar:

Posting Komentar