Minggu, 05 Oktober 2014

Legenda Telaga Warna

Salah satu obyek wisata yang terkenal di Jawa Barat adalah telaga warna, tepatnya didaerah puncak. Disebut dengan telaga warna karena air ditelaga ini jernih dan berwarna-warni. 

Sebenarnya ini disebabkan karena di dalam telaga tersebut banyak ditumbuhi oleh berbagai jenis ganggang yang berwarna warni,sehingga ketika cahaya matahari ataupun cahaya bulan purnama jatuh diair akan memantulkan warna-warni ganggang sehingga terkesan air ditelaga itu bagaikan warna pelangi. Namun menurut masyarakat setempat ada sebuah kisah lain yang terjadi pada zaman dahulu kala tentang terjadinya telaga warna tersebut. 

Pada zaman dahulu tempat tersebut adalah sebuah kerajaan yang kaya raya bernama Kutatanggeuhan. Raja yang memerintah dengan arif bijaksana membawa rakyat di kerajaan tersebut hidup dalam kemakmuran. Tidaklah mengherankan kalau akhirnya semua rakyat dari seluruh pelosok negeri menyayangi serta mencintai raja dan keluarganya. Sayangnya sudah bertahun-tahun raja dan permaisuri belum juga dikaruniai seorang anak. 

Berbagai nasehat dari petinggi kerajaan agar raja serta permaisuri memungut anak ditolak raja dengan jawaban bijaksana. Hingga akhirnya pada suatu ketika raja dan permaisuri memutuskan untuk sementara waktu pergi bertapa memohon pada Tuhan agar dikaruniai seorang anak. Keduanya bertapa tiada henti hingga datang sebuah petunjuk bahwa permohonan mereka berdua akan dikabulkan. 

Beberapa minggu setelah keduanya kembali ke istana, permaisuri menunjukkan tanda-tanda hamil. Berita ini disambut gembira oleh seluruh rakyat Katetenggeuhan. Mereka membuat upacara selamatan sebagai rasa syukur. Begitu pula halnya ketika permaisuri melahirkan seorang bayi perempuan. Putri Katetenggeuhan yang cantik jelita dan diberi nama Putri Gilang Rinukmi. 

Sebagai putri tunggal raja yang sangat dinanti kehadirannya setelah sekian lama, tidaklah mengherankan kalau akhirnya Putri Gilang Rinukmi tumbuh menjadi seorang putri yang manja. Ia hidup dengan limpahan kasih sayang. Bukan hanya dari ayah dan bundanya tapi juga dari seluruh rakyat Katetenggeuhan. 

Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Putri Gilang Rinukmi sudah menjadi gadis remaja yang cantik jelita. Di usianya yang ke tujuh belas tahun, raja membuat sebuah pesta. Seluruh rakyat diikutsertakan. Sebagai tanda cintanya pada sang Putri mereka memberikan emas permata sebagai hadiah. Oleh raja Katetenggeuhan emas permata tersebut dibawa ke pengrajin perhiasan kerajaan agar dibuat sebuah perhiasan terindah yang ada dibumi ini sebagai hadiah istimewa bagi Putri Gilang Rinukmi. 

Menjelang hari ulang tahunnya perhiasan yang dipesan itu sudah jadi. Sebuah kalung emas yang dihiasi dengan batu permata yang keindahannya tiada tandingannya. Raja dan permaisuri sangat senang dan mengaguminya,”Pasti Putriku akan sangat senang menerima hadiah yang sangat indah ini.” 

Hari yang dinanti-nanti tiba. Putri Gilang Rinukmi terlihat sangat cantik. Disebuah panggung yang dibuat didepan istana dengan disaksikan oleh seluruh rakyat Katetenggeuhan, raja menyerahkan kalung permata.

“Terimalah kalung ini sebagai tanda cinta seluruh kerajaan Katetenggeuhan untukmu ,” kata raja dengan penuh rasa haru. 

“Kalung seperti ini kalian bilang bagus,” dengan kasar dibuangnya kalung permata tersebut hingga hancur berantakan dilantai panggung. Tentu saja hal ini menyedihkan hati, bukan saja raja dan permaisuri akan tetapi juga seluruh rakyat Katetenggeuhan. 

“teganya kau berbuat seperti itu putriku, rupanya selama ini kami salah terlalu memanjakanmu sehingga kau tidak punya rasa terima kasih.” Permaisuri sangat sedih dengan perilaku putrinya. Saking sedihnya ia terus saja meneteskan air mata. 

Melihat hal tersebut semua orang yang ada ditempat itu ikut menangis kecuali Putri Gilang Rinukmi. Begitu banyaknya air mata bercucuran yang tiada hentinya selama berhari-hari hingga akhirnya menenggelamkan kerajaan Katetenggeuhan yang kemudian berubah menjadi sebuah telaga. Sedangkan permata yang berwarna-warni yang tersebar dilantai menyebabkan air ditelaga tersebut berwarna hingga akhirnya dikenal orang sebagai telaga warna.

0 komentar:

Posting Komentar