Kamis, 06 November 2014

Asal Mula Belalai Gajah

Konon dahulu kala, gajah tidak mempunyai belalai. Hidungnya biasa saja. Pendek dan kecil, tidak sebanding dengan tubuhnya yang besar. 

Setiap kali gajah berjalan mengitari tempat tinggalnya, selalu saja ada yang mengolok-oloknya. “Gajaaah jeleeek! Gajah bauuu!!” sorak mereka yang dilewatinya. 

Ada yang langsung menutup hidungnya, bahkan ada yang memalingkan wajahnya ketika gajah melewati mereka. Pada mulanya gajah masih bisa menahan diri dan memaklumi kenapa teman-temannya selalu mengejeknya, tapi lama kelamaan ia menjadi tidak betah juga. 

“Kau jorok sekali gajah, tidak pernah mau mandi. Tubuhmu bau sekali, lihat banyak kotoran menempel di tubuh besarmu,” olok teman-teman gajah setiap kali bertemu dengannya. Gajah menjadi sangat sedih. Ia menangis sampai berhari-hari. Air matanya mengucur begitu deras membasahi mata dan hidungnya. Gajah sudah tidak perduli lagi, ia terus menangis sejadi-jadinya. 

Ketika menangis, hidungnya terasa tersumbat karena basah. Ia pun seringkali menarik hidungnya, agar ia bisa bernafas dengan lega. Karena terlalu sering ditarik, tanpa ia sadari lama kelamaan hidungnya menjadi panjang. Hidung itulah yang kemudian disebut dengan belalai. 

Gajah terkesimak melihat hidungnya yang memanjang. Dengan hidung barunya itu ia bisa menghisap dan menyemprotkan air ke tubuhnya dengan begitu mudahnya. Sejak saat itu tubuh gajah selalu bersih. Binatang lainnya pun dengan senang hati menjadi temannya.

0 komentar:

Posting Komentar