Kamis, 06 November 2014

Dongeng Anak Burung Elang

Saat pagi menjelang, seperti biasa ayam mengitari hutan untuk mencari makan. Ia mencari biji-bijian atau bahkan cacing untuk dimakan. Kakinya sibuk menyingkirkan dedaunan kering yang jatuh dari pepohonan, berharap menemukan makanannya di sana. 

Namun, tanpa sengaja ayam menemukan sebuah telur. Telur yang masih utuh. Namun telur tersebut bentuknya beda dengan telur yang biasa dieraminya. Meski demikian, ayam tidak ambil pusing. Ia membawa telur itu dan diletakkannya di dalam sarangnya. 

Hari demi hari berlalu, ayam terus mengerami telur tersebut. Ia berharap suatu saat dari dalam telur lahirlah seorang anak. Anak yang akan disayangnya, seperti anaknya sendiri. Dan harapan itu terkabul. Cangkang telur pecah dan keluarlah seekor bayi. 

Namun bayi tersebut tidak seperti ayam. Ayam pun menyadari bahwa bayi tersebut adalah bayi burung elang. Suatu saat burung elang tersebut akan terbang dan pergi meninggalkannya. Meskipun ada rasa sedih, namun ayam tetap memelihara elang dengan baik. 

Elang sangat menyayangi ibunya. Ibu yang merawatnya sejak dalam cangkang telur sampai menjadi seorang anak. 

“Ibu… lihat aku punya sayap dan sayapku bisa mengepak. Apakah aku bisa terbang?” tanya elang suatu hari. Ayam terkesimak. Saat-saat seperti ini yang membuatnya selalu takut, takut kalau elang akan pergi meninggalkannya. Elang pasti akan mencari ibu dan bapak aslinya. 

“Iya sayang, kau bisa terbang dengan sayapmu itu. Kau itu anak burung elang. Pergilah, carilah teman-temanmu bangsa elang, jika kau ingin,” ucap ayam sedih. Ia pun menangis. Saat-saat seperti inilah yang selalu dikhawatirkannya. 

Elang mendekat dan memeluk ibunya. “Jangan menangis ibu, aku tidak akan pergi kemana-mana. Aku kan anakmu juga. Aku sayang ibu,” isak elang. 

Ayam sangat bahagia dan terharu mendengar perkataan elang. Anak enak rela tidak terbang demi membalas budi kepada ayam.*

0 komentar:

Posting Komentar