Rabu, 05 November 2014

Keberuntungan Sang Piatu

Dongeng Dari Bengkulu 

Doa yang diucapkan dari lubuk hati yang paling dalam dan penuh keyakinan pasti akan terkabul. 

Di pinggir sebuah sungai hiduplah seorang nenek dan seorang cucunya yang bernama Sang Piatu. Hidup mereka sangat sederhana. Keduanya tinggal disebuah gubuk bambu yang sudah reyot. Setiap hari nenek dan Piatu mencari makanan serta kayu bakar di dalam hutan. Kegiatan mencuci dan mandi, mereka lakukan di sungai yang tak jauh dari gubuk mereka. 

Di seberang sungai terdapat perkampungan yang ramai yang dipimpin oleh Sang Raja. Karena ditempatnya tinggal tidak ada teman untuk diajak bermain maka pada suatu hari Sang Piatu meminta ijin pada neneknya, “Nek aku ingin pergi ke seberang, aku lihat setiap hari anak-anak di sana belajar mengaji pada Sang Raja.” 

Namun Nenek merasa keberatan dengan permintaan cucunya , “ Kita ini orang miskin, mana mungkin anak-anak di sana mau menerima kamu dengan pakaian yang lusuh begitu.” 

“Sang Raja pastilah seorang yang bijaksana, Nek, dan ia akan mengijinkan aku mengaji di sana,” kata Sang Piatu memohon. 

“Bagaimana kalau ternyata engkau ditolak untuk menjadi murid Sang Raja, nenek tak ibgin cucu nenk sakit hati.” Si nenek rupanya sangat mencemaskan cucu semata wayangnya ini. 

Sang Piatu yang sudah bertekat bulat berusaha meyakinkan neneknya,” Jangan khawatirkan aku , Nek. Bukankah mengaji itu sebuah perbuatan yang baik, dan kebaikan pasti selalu mengalahkan kejahatan. Jadi kalau ada orang yang menghalangiku untuk mengaji itu berarti dia adalah seorang yang jahat. Pasti suatu saat ia akan bisa aku kalahkan.” 

Akhirnya Nenek memberi ijin juga pada cucu kesayangannya itu. Dengan hati yang teramat senang, Sang Piatu pergi ke surau di seberang sungai. Ternyata benar perkataan Nenek, Sang Raja tidak mengijinkannya masuk. 

“Maafkan aku Sang Piatu, bukannya aku tak mengijinkanmu mengikuti pelajaran mengaji, tapi dengan pakainmu yang lusuh dan bau itu, pasti anak-anak lain yang mengaji disini akan terganggu. Berpakainlah dulu yang sedikit bagus baru kau akan ku terima mengaji disini. “ Kata Sang Raja menolak permintaan Sang Piatu dengan halus. 

“Tapi nenekku sangat miskin, hanya baju inilah satu-satunya yang aku punya, jadi dari mana aku bisa mendapatkan baju. Kalau Sang Raja tidak mengijinkan aku mengikuti pengajian didalam, maka ijinkan aku mengikutinya dari luar.” Sang Piatu memohon sambil bersimpuh dihadapan Sang Raja. 

“Baiklah kalau begitu, tapi ingat jangan sampai engkau mengganggu murid-murid yang lain. Kalau sampai itu terjadi, maka aku tak akan segan-segan mengusirmu dari surauku.” Jawab Sang Raj menegaskan. 

Akhirnya Sang Piatu hanya di perbolehkan menunggu di luar surau. Dengan sabar dan tidak patah semangat Sang Piatu tetap mengikuti pelajaran mengaji dengan cara mengintip dari jendela. Hal ini dilakukan Sang Piatu setiap hari, meskipun begitu ia selalu mengatakan pada neneknya bahwa ia diterima dengan baik oleh Sang Raja. 

Pada suatu hari Sang Raja meminta semua muridnya membawa makanan untuk acara syukuran. Keesokan harinya Sang Piatu ditemani oleh Nenek pergi ke hutan untuk mencari buah-buahan. Sesampainya dihutan keduanya hanya menemukan sebuah nangka kecil yang sudah matang. Dibawanya nangka tersebut pulang, ternyata setelah dibuka isinya hanya 10 biji. Sang Piatu membawa semua nangka tersebut kepada Sang Raja. 

“Hanya ini yang bisa saya berikan Sang Raja, sepuluh biji nangka.” 

Sang Raja menghitung nangka tersebut,”Katamu sepuluh, ternyata ini hanya sembilan.” 

Sang Piatu heran, ia yakin sekali kalau nangkanya ada 10 biji, kenapa sekarang tinggal 9 biji. Kemana nangka yang satu lagi. Ia merasa tidak enak pada Sang Raja seolah ia sudah berbohong. 

 “Sudahlah Sang Piatu, sekarang mendekatlah, aku akan memberimu kajian.” 

Akhirnya Sang Raja mau mengajari Sang Piatu mengaji. Hatinya sangat senang.”Amalkan kata-kata ini dalam setiap doamu,”Nangka sepuluh hilang satu tinggal sembilan nangka.” 

Sang Piatu yang lugu dengan senang hati menerima kajian tersebut. Diucapkannya sepanjang jalan sambil mulutnya komat-kamit hingga ia kelelahan dan beristirahat sambil tiduran pada sebongkah batu dibawah pohon yang rindang. 

Kajian tersebut masih terus diucapkannya sambil berdoa, “ Nangka sepuluh hilang satu tinggal sembilan nangka, jadilah batu ini menjadi emas.” 

Dengan kuasa Tuhan maka jadilah batu tersebut menjadi emas. Sang Piatu kemudian menjual emas tersebut ke kota. Ia pun kemudian menjadi seorang yang kaya raya .Selang beberapa hari kemudian ia kembali ke desa menjemput nenek untuk diajak tinggal bersamanya di kota.

0 komentar:

Posting Komentar