Jumat, 07 November 2014

Legenda Jaka Tarub -Cerita Rakyat Jawa Tengah

Suatu kebohongan cepat atau lambat pasti akan terbongkar juga. 

Jaka Tarub adalah seorang pemuda desa yang sehari-harinya pergi ke hutan atau berburu mencari binatang liar untuk ia makan bersama dengan ibunya. Ia tinggal di sebuah desa terpencil di pinggir hutan. Sejak kecil Jaka Tarub di asuh oleh Mbok Rondo Tarub yang amat menyayangi anak angkatnya ini. Sebenarnya Jaka Tarub adalah anak dari seorang putri Bupati Tuban yang diasingkan. 

Pada suatu hari Jaka Tarub beristirahat di bawah sebuah pohon rindang ditengah hutan karena kelelahan. Tiba-tiba ia mendengar suara riuh wanita yang riang gembira di sela-sela kecipak dan gemericik air. Dengan rasa penasaran dicarinya suara tersebut yang ternyata berasal dari air terjun yang tak jauh dari tempatnya duduk. 

Jaka Tarub terkagum-kagum pada pemandangan dihadapannya, ”Ini pasti bidadari dari kahyangan, semuanya cantik-cantik.” Tanpa disengaja matanya tertuju pada seonggok kain yang tergeletak di atas batu. Dengan rasa penasaran ditambah dengan keisengannya maka diambilnya salah satu dari onggokan kain tersebut. 

Tak berapa lama, matahari sudah berada di ufuk barat, para bidadari telah bersiap-siap hendak kembali ke kahyangan. Tinggal satu bidadari yang tidak menemukan pakaiannya yaitu Dewi Nawang Wulan. Ia menangis tersedu ketika keenam saudaranya terbang menuju langit dan menghilang di balik awan. Jaka Tarub tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Didekatinya Dewi Nawangwulan dan diajaknya tinggal di rumahnya. 

Dewi Nawangwulan akhirnya diperistri oleh Jaka Tarub. Meskipun demikian ia mencoba untuk menjalani kehidupan di bumi dengan hati bahagia apalagi tak lama kemudian Dewi Nawangwulan melahirkan bayi perempuan yang diberi nama Dewi Nawangsih. 

Kini Jaka TArub tidak lagi mengandalkan berburu atau mencari kayu bakar untuk kehidupan keluarga mereka. Seiring dengan bertambahnya orang yang harus diberinya makan, maka Jaka TArub mulai berladang dengan menanam padi. Anehnya meskipun hasil padi dari ladangnya tidak begitu banyak tapi persediaan padi di lumbung tidak pernah habis bahkan semakin bertambah banyak, seolah-olah padi tersebut tidak pernah digunakan. 

Pada suatu hari Dewi nawangwulan hendak pergi ke sungai dan berpesan pada suaminya,Jaka Tarub,”Kakang aku sedang menanak nasi, jangan kau buka tutup kukusannya sebelum aku kembali.” 

Dengan rasa penasaran Jaka Tarub melanggar pesan istrinya. Diam-diam ia membuka tutup kukusan. Betapa terkejutnya Jaka Tarub ternyata kukusan tersebut hanya berisi setangkai padi. Pantaslah kalau selama ini padi yang ada di lumbung tidak pernah habis, malahan semakin bertambah. Perbuatan Jaka Tarub ini tentu saja diketahui istrinya ketika ia pulang melihat padi yang dimasaknya tidak berubah. Hilang sudah kesaktiannya kini. 

Mulai saat itu Nawangwulan harus bekerja keras menumbuk padi dan menanak nasi. Semakin hari persediaan padi di lumbung mulai menipis hingga lantai lumbung pun mulai terlihat. Pada suatu hari ketika Nawangwulan hendak mengambil padi dilumbung, ia dukejutkan oleh seonggok kain yang bersinar dilantai lumbung. Diambilnya kain tersebt yang ternyata adalah pakaian bidadari miliknya yang dulu hilang. 

Dengan rasa kecewa yang mendalam Nawang wulan menghampiri suaminya dengan pakaian bidadari,”Ternyata kau yang selama ini menyembunyikan pakaianku hingga aku tidak bisa kembali ke kahyangan.Namun sekarang aku harus pergi. Aku titipkan Nawangsih padamu.” Setelah menyerahkan bayinya Dewi Nawangwulan terbang kembali ke kahyangan. Jaka Tarub terus meratap memohon ampunan istrinya. 

Setiap malam Dewi Nawangwulan masih tetap datang untuk menyusui anaknya disebuah pondok yang sengaja dibuat oleh Jaka Tarub. Namun demikian Jaka Tarub hanya bisa memandangi istrinya dari kejauhan. Karena sudah bersuamikan manusia maka Dewi Nawangwulan tidak lagi diterima di kahyangan. 

Ia dikembalikan ke bumi dan menjadi penguasa laut selatan yang kemudian dikenal dengan nama Nyi Roro Kidul. Dewi Nawangsih setelah dewasa dipristri oleh Lembu Peteng, putra Raja Brawijaya dari Kerajaan Majapahit.

0 komentar:

Posting Komentar