Rabu, 03 Desember 2014

Legenda Putri Tadampalik

Cerita rakyat dari SULAWESI SELATAN 

Hikmah Cerita : Buah ketabahan dan kesabaran adalah kebahagiaan 

Putri TAdampalik adalah seorang putri raja Luwu yang sangat cantik dan baik hati. Selain itu ia juga sangat dekat dengan rakyat kecil. Ketika menginjak dewasa, datanga pinangan dari kerajaan Bone. Raja Luwu amat tersanjung dengan lamaran tersebut karena Bone adalah sebuah kerajaan besar dan lamaran itu diterimanya. NAmun demikian menurut adat Luwu, seorang gadis tidak diperkenankan untuk menikah dengan laki-laki di luar Luwu. 

Maka tak lama berselang setelah utusan Bone kembali ke negerinya, Putri TAdampalik jatuh sakit. Tubuhnya berbau amis hingga tak seorangpun mau mendekat. BErbagai tabib didatangkan dari Luwu maupun dari luar kerajaan Luwu, namun penyakit sang Putri tidak juga dapat diobati. BAhkana beberapa orang tabib mengatakan kalau penyakit Putri TAdampalik ini bisa menular. 

Raja juga permaisuri tak tega melihat keadaan putrinya. IA juga tidak ingin penyakit kulit yang diderita oleh putrinya menular dan membawa bencana pada rakyat di negerinya . MAka raja pun memutuskan,” Putri TAdampalik harus pergi keluar dari Luwu. Aku akan menyediakan sebuah rakit besar dan juga bahan makanan yang cukup untuk beberapa bulan higga ia nanti bisa menemukan tempat tinggal yang tepat. Akan aku perintahkan beberpa dayang-dayang pengasuhnya untuk menjaga sang Putri.” 

Dengan berat hati permaisuri menyetujui keputusan raja Luwu demi kebaikan seluruh negeri Luwu dan juga Putri TAdampalik. Sang putrid pun menerima keputusan ayahandanya dengan ikhlas. IA pun tidak ingin orang lain menderita seperti dirinya. 

Berhari- hari lamanya ia beserta dayang-dayang yang setia mengikutinya melakukan melintasi sungai dengan rakit hingga akhirnya mereka menemukan sebuah daerah yang subur ditepi sungai. Daerah tersebut banyak ditumbuhi pohon buah Wajo. HIngga sekarang daerah itu dikenal dengan nama Wajo. 

Rombongan tersebuit menetap disana. Mereka mebangun rumah untuk Putri Tadampalik dan juga untuk masing-masing dayang-dayang. Setiap hari mereka hidup dari berciocok tanam palawija dan mencari ikan disungai. Tak ketinggalan Putri TAdampalik ikut juga bekerja diladang. 

PAda suatu hari ada seekor kerbau berwarna putih datang ke lading mereka. Putri TAdampalik yang takut kerbau itu menganggu tanamannya segera mengusirnya. NAmun kerbau itu malah menendangnya hingga sang putrid jatuh pingsan. Si kerbau mengira sang putrid tertidur, maka ia mendekati dan menjilati tubuh Putri TAdampalik dengan maksud membangunkannya. 

Ketika siuman Putri Tadampalik terkejut menemukan dirinya dijilati oleh kerbau yang tadi menyerangnya. “Apa yang kau lakukan kerbau, hei………. Sakit kulitku sudah sembuh. KAu kah yang menyembuhkanku kerbau. Terima kasih ya, aku berjanji seluruh keturunanku dan juga semua keturuna yang tinggal di wajo ini tidak akan pernah menyembelih kdirimu maupun keturunanmu.”Sejak saat itu putrid TAdampalik kembali menjadi cantik, bahkan lebih cantik. 

Pada sutu hari datang seorang pangeran di desa Wajo. Rupanya pangeran itu tersesat ketika berburu. Setelah berkenalan, tahulah Putri Tadampalik kalau tamunya adalah PAngeran kerjaaan Bone yang dulu pernah melamar dirinya. Keduanya kemudian sepakat untuk menikah, tentu saja setelah meminta restu dari raja Luwu maupun raja Bone. Sebagai tanda bahwa dirinya setuju, Putri Tadampalik memberikan keris pusaka kerajaan Luwu yang dulu pernah diberikan oleh ayahandanya. 

Mendengar berita dari rombingan kerajaan Bone yang datang kembali untuk memberikan keris pusaka kerajaan Luwu sebagai tanda Putri TAdampalik telah setuju untuk dinikahkan dengan pangeran Bone. Raja dan permaisuri Luwu menjadi terharu, hal ini disebabkan karena rombongan tersebut juga membawa berita kalau Putri Tadampalik telah sembuh dari penyakitnya. Tak lama kemudian Putri Tadampalik menikah dengan Pangeran kerajaan Luwu. Keduanya hidup bahagia sampai akhir hayatnya.

0 komentar:

Posting Komentar