Minggu, 17 Januari 2016

Promosi Buku Gak Harus Narsis


Mumpung lagi keluar buku terbaruku, jadi kali ini mau ngomongin soal promosi buku. Tapi kali ini buku terbarunya bukan buku anak lho ya. Melainkan buku ketrampilan. Judulnya "Menjahit Untuk Pemula." Buku ini memang diperuntukkan bagi siapapun yang ingin belajar menjahit. Di sini ada cara mengukur badan, membuat pola dasar, merancang bahan yang akan dijadikan baju, sampai cara menjahitnya. Harganya murah meriah kok yaitu Rp 40.000 (empat puluh ribu rupiah).

Sebenarnya ini bukan buku baru-baru banget. Ini adalah buku lama yang judulnya adalah "Pintar Menjahit Untuk Pemula." Buku ini sudah dicetak sejak tahun 2005 dan hingga tahun 2014 buku tersebut sudah mengalami cetakan sebanyak 22 kali dengan jumlah @ 3000 eksemplar untuk sekali cetak. Sedangkan cetakan pertama adalah 5.000 eksemplar.

Itu belum termasuk untuk penjualan proyek lho ya. Jumlah penjualan buku "pintar Menjahit Untuk Pemula" untuk keperluan proyek memang tidak pasti. Tapi pernah dulu dicetak sampai 7.500 eksemplar. Memang untuk penjualan proyek ini harganya lain dari harga penjualan biasa. Royaltinya pun hanya separoh dari penjualan biasa alias 5% saja. Tapi kalau jumlahnya banyak lumayan juga bukan?

Kembali lagi soal promosi buku. Jadi kenapa bisa buku "Pintar Menjahit untuk Pemula" ini dicetak berulang-ulang, bahkan sampai direvisi dan dicetak lagi? Padahal saya gak pernah melakukan promosi apapun. Saat itu tahun 2005 saya masih gaptek habis. Gak ngerti yang namanya branding, apalagi promosi buku  dengan cuap-cuap di sosmed.

Lagi pula saya juga bukan orang yang suka narsis. Lagi pula menurut saya promosi buku dengan cara narsis itu gak akan mendongkrak banyak penjualan. Karena pada dasarnya orang membeli buku karena :

  1. Membutuhkan isi buku tertentu
  2. Suka pada buku tertentu sehingga bisa mendapatkan kesenangan dengan memmbacanya 
Jadi kalau ada orang yang membeli buku karena alasan pertemanana, atau faktor gak enak karena ada di komunitas tertentu yang sudah menerbitkan buku tersebut, maka yang ada orang tersebut akan kecewa ketika ternyata buku yang dibelinya tidak bermanfaat atau tidak bisa memberikan kesenangan. Bagi penulis sejatinya akan sangat sedih jika bukunya tidak bsia bermanfaat bagi pembacanya, karena itu artinya membohongi pembaca. 


Jadi begini sebenarnya. Tahun 2016 ini ada beberapa buku yang sudah saya tulis di tahun 2005 - 2010 lalu dan penjualan bagus, kemudian phak penerbit meminta saya untuk merevisinya kembali. Jadi buku revisian ini akan diterbitkan lagi menjadi buku baru. Dalam merevisi ini saya hanya perlu menambah atau mengurangi isinya. Untuk buku jahit ini saya menambahkan kreasi bajunya. Sehingga ada beberapa model baju baru yang menjadi contohnya. Sementara untuk buku yang lain saya justru diminta untuk mengurangi isinya.

Kembali lagi soal promosi buku ya. Pasti masih pada penasaran kenapa buku-buku saya bisa dicetak berulang-ulang tanpa ada promosi yang berarti dari saya. Berikut ini adalah langkah-langkah saya dalam menulis buku sehingga saya gak perlu narsis untuk promosi buku tap penjualan bisa maksimal.

  1. Membuat konsep buku berdasarkan kebutuhan calon pembaca. Jadi saya harus tahu buku ini nantinya untuk siapa dan berapa banyak orang yang membutuhkannya. Ini penting karena semakin banyak orang membutuhkan buku yang kita tulis, maka akan semakin tinggi tingkat penjualannya. 
  2. Membuat buku yang bisa berguna dalam jangka waktu lama. Seperti misalnya buku jahit yang saya buat ini akan digunakan sampai kapanpun, karena ilmunya ya tidak akan berubah, hanya saja konsepnya memang perlu dikembangkan sesuai dengan kebutuhan jaman. 
  3. Membut konsep penjualan sejak awal. Memang penjualan adalah tugas dari marketing si penerbit. Tapi tidak ada salahnya kita membantu mempermudah tugas si marketing. Ini bisa kita lakukan dengan melakukan riset pasar buku. Dari hasil riset itu kita akan tahu seberapa besar penjualan buku yang bisa dicapai dan apa kelemahan serta kelebihan dari setiap buku yang sudah ada. Dengan demikian kita akan bisa membuat konsep buku yang penjualannya bisa bagus di toko buku ataupun di toko buku online. 
  4. Membuat buku yang bisa dicetak untuk proyek. Biasanya pemerintah akan mencetak buku-buku pengayaan yang akan didistribusaikan ke perpustakaan, lembaga kursus dll. Nah para penulis buku bisa memanfaatkan peluang ini. Kita bisa melakukan riset dari kurikulum sekolah dan mendapatkan peluang ide di sana. 
Itulah yang saya lakukan selama ini. Memang nama saya gak akan begitu dikenal di sosisal media. Tapi yang penting bukankah penjualan buku bisa tinggi dan royalti bisa banyak? Pilih mana hayo terkenal di mana-mana tapi bukunya akan banyak yang di obral karena gak laku karena hanya mengandalkan penjualan toko buku dan gak berumur panjang keterbacaannya., atau gak begitu terkenal tapi royalti tinggi ? Jadi dari apa yang sudah saya alami terbukti bukan kalau proosi buku itu gak harus narsis. 





0 komentar:

Posting Komentar