Sabtu, 27 Februari 2016

Raja Api

(Dongeng dari Bengkulu)


Pada zaman dahulu, di suatu negeri berdiri sebuah istana yang megah. Istana itu dihuni oleh Raja Api beserta para pengawalnya. Anehnya, di negeri tersebut hanya terdapat sedikit sekali perempuan. Di istana raja hanya terdapat Permaisuri dan beberapa orang dayang. 

Suatu ketika, Raja Api akan pergi berkunjung ke wilayah kerajaan yang jauh letaknya dari kota. Perjalanan pulang-pergi ke wilayah itu memakan waktu berbulan-bulan lamanya. 

Saat itu, Permaisuri sedang mengandung. Sebelum berangkat, Raja Api berpesan kepada Permaisuri, “Jika anak kita yang lahir nanti adalah laki-laki maka peliharalah dia dengan baik. Namun, jika yang lahir adalah anak perempuan, jangan biarkan dia hidup,“ demikian pesan Raja Api. 

Permaisuri sangat sedih mendengar pesan itu, terlebih jika anaknya yang nanti lahir adalah perempuan.  Beberapa hari setelah kepergian Raja Api dan rombongan, Permaisuri melahirkan. Celakanya, anak yang dilahirkan adalah seorang bayi perempuan yang cantik jelita. Permaisuri menamai bayi mungil itu dengan nama “Putri Sulita”. 

“Mengapa Permaisuri tampak begitu sedih? Bukankah seharusnya ini adalah saat yang membahagiakan?“ tanya salah seorang dayang yang membantu persalinan Permaisuri. 

“Tidakkah kau ingat dengan pesan Raja Api, Dayang? Bayi perempuan ini harus dibunuh,” jawab Permaisuri sambil menangis. Dia tak mampu lagi menahan kesedihannya. 

Karena tidak tega untuk membunuh darah dagingnya sendiri maka Permaisuri menyusun sebuah rencana. Seorang dayang secara diam-diam diperintahkan untuk membawa pergi bayi tersebut ke tengah hutan pada malam hari. Sebelumnya, Permaisuri telah membekali dayang itu dengan uang dan bahan makanan yang cukup. 

“Aku percaya kepadamu, Dayang. Kau pasti akan mendidik dan memelihara Putri Sulita dengan baik,” demikian pesan Permaisuri. 

Permaisuri pun melepas kepergian bayi yang baru saja dilahirkannya dengan deraian air mata yang tiada henti. Untuk mengelabui pengawal Raja Api, seorang dayang dengan diantar oleh beberapa pengawal membawa bungkusan berupa gedebung pisang yang dipotong dan ditutupi kain hingga menyerupai bayi. Bungkusan itu diletakkan di dalam sebuah keranjang besar dan dihanyutkan ke sungai. 

Karena gelap, para pengawal Raja Api tidak melihat dengan jelas apa isi bungkusan dalam keranjang itu. Mereka yakin kalau bungkusan tersebut adalah bayi perempuan Permaisuri yang sudah meninggal dan mayatnya dibuang di sungai. 

Ketika Raja Api tiba kembali di istana, Permaisuri bercerita tentang anak mereka yang baru lahir. ”Ampun, Tuanku Raja Api. Anak kita yang lahir adalah perempuan dan aku telah membunuhnya serta menyuruh para dayang dan pengawal membuangnya ke sungai,” lapor Permaisuri. 

“Apa benar demikian, Pengawal?” tanya Raja Api seolah ragu dengan keterangan istrinya. 

“Benar, Baginda Raja Api. Hamba sendiri telah menyaksikan jasad bayi itu dibuang ke sungai oleh para dayang,” jawab pengawal tegas. 

“Tak usah terlalu dipikirkan, Permaisuriku. Suatu saat nanti kita pasti akan mempunyai anak lagi. Aku yakin anak itu pastilah laki-laki sehingga nanti dia bisa meneruskan tahta Kerajaan Api,” ujar Raja Api menenangkan hati Permaisurinya. 

Tahun-tahun telah berlalu. Tanpa terasa sudah lima belas tahun setelah peristiwa tersebut terjadi. Saat ini, Raja Api sedang jatuh sakit. Baginda telah sakit selama beberapa bulan. Tak satu pun dari sekian banyak tabib di negeri itu yang mampu menyembuhkan Raja Api. Hingga pada suatu hari, datanglah seorang perempuan setengah baya dan seorang gadis jelita ke istana Raja Api. 

“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya pengawal ketika keduanya berada di depan pintu gerbang istana. 

“Kami akan mengobati penyakit Raja Api jika diizinkan masuk,” jawab perempuan setengah baya tersebut. 

Keduanya diizinkan masuk dan mengobati Raja Api. Penyakit Raja Api pun perlahan sembuh. Dengan suka-cita, Permaisuri mengucapkan terima kasih pada tabib tersebut yang ternyata adalah Putri Sulita, darah daging mereka yang dibuang belasan tahun yang lalu. Permaisuri sangat bahagia melihat kehadiran Putrinya itu. 

Tanpa ragu, Permaisuri menceritakan hal yang sebenarnya kepada Raja Api. Mendengar itu, Raja Api sangat menyesal atas perbuatan dan sifatnya yang kejam di masa lalu. Raja Api akhirnya menerima Putri Sulita sebagai putri kandungnya. Mereka pun berkumpul kembali menjadi satu keluarga.

Putri Sulita mendapatkan apa yang sudah seharusnya menjadi haknya. Di kemudian hari, Putri Sulita menjadi Ratu di Kerajaan Api.

Pesan cerita:
Jika sudah menjadi hak seseorang, cepat atau lambat apa pun bisa dimiliki.

0 komentar:

Posting Komentar