Minggu, 06 Maret 2016

Bermain dalam Hitungan dan Bacaan


Hingga kini masih banyak orang tua yang merasa bangga ketika anaknya yang masih balita sudah pintar membaca, menulis dan berhitung. Hal ini membuat para orang tua berlomba-lomba ingin menjadikan anaknya yang terbaik. Berbagai les akhirnya menjadi sarana untuk menjadikan si anak nomer satu. Ironisnya para orang tua tidak tahu atau bahkan tidak mau tahu kalau hal ini seringkali membuat anak tersiksa.

 Mungkin hampir semua orang tua tahu kalau kalau anak adalah titipan Tuhan. Tapi tidak semua orang tua tahu kalau anak harus dididik dan diasuh agar nantinya bisa menjadi manusia yang baik dan berguna bagi banyak orang. Untuk itu anak perlu diberi pendidikan yang terbaik agar terbentuk karakter yang baik pula. Anak seharusnya menjadi subyek yang juga harus didengar apa keinginannya.

Sayangnya kehidupan di jaman milenium ini masih banyak orang tua yang menganggap anak-anak mereka sebagai objek yang bisa diperlakukan sesuka mereka. Banyak orang tua yang menginginkan anaknya menjadi yang terbaik di bidang akademis sejak usia dini. Dengan niat ingin memberikan yang terbaik bagi putra-putrinya para orang tua akhirnya memasukkan anak-anak mereka ke berbagai les akademis seperti membaca, menulis dan berhitung (calistung) sedini mungkin.

Masa bermain yang terabaikan

Para orang tua lupa atau tidak tahu bahkan mungkin tidak mau tahu kalau masa-masa anak-anak merupakan saat bermain. Sehingga ketika mereka memasukkan anak-anak balita ke satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ataupun Taman Kanak-kanak (TK) para orang tua berharap anaknya akan diajarkan calistung bahkan dengan tambahan pelajaran lain seperti bahasa asing. 

Padahal dalam surat edaran Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah yang ditandatangani pada tanggal 23 April 2009 perihal penyelenggaraan Pendidikan Taman Kanak-kanak dan penerimaan siswa baru sekolah dasar telah menjelaskan tentang pengenalan membaca, menulis dan berhitung. Dalam surat edaran ini dijelaskan bahwa, “pengenalan membaca, menulis dan berhitung (calistung) dilakukan melalui pendekatan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak.” 

Dalam surat edaran ini juga ditegaskan bahwa, “pendidikan di TK tidak diperkenankan mengajarkan materi calistung secara langsung sebagai pembelajaran sendiri-sendiri (fragmented) kepada anak-anak. Konteks pembelajaran calistung di TK hendaknya dilakukan dalam kerangka pengembangan seluruh aspek tumbuh kembang anak, dilakukan melalui pendekatan bermain, dan disesuaikan dengan tugas perkembangan anak.

Menciptakan lingkungan yang kaya dengan keaksaraan akan lebih memacu kesiapan anak untuk memulai calistung.” Selain alasan ingin menjadikan anaknya sebagai yang terbaik, ada juga dalih para orang tua yang memaksakan anaknya belajar calistung sebagai syarat masuk sekolah dasar. Di mana masih ada sekolah dasar yang menerapkan tes calistung bagi calon siswanya. Untuk alasan yang satu ini tidak jarang anak dipaksa untuk bisa membaca, menulis dan berhitung hanya supaya bisa masuk ke sekolah favorit.

Padahal surat edaran Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah tersebut sudah disebarkan kepada seluruh Gubernur dan Bupati/Walikota di seluruh Indonesia untuk dilanjutkan ke semua sekolah yang ada di wilayahnya. Dalam surat edaran tersebut juga dijelaskan kebijakan penerimaan siswa baru Sekolah Dasar tanpa melalui tes masuk dan tetap memprioritaskan anak-anak yang berusia 7 s/d 12 tahun dari lingkungan sekitarnya tanpa diskriminasi sesuai dengan daya tampung satuan pendidikan yang bersangkutan.

Belajar Sambil Bermain

Dalam Undang-undang Republik Indonseia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 9 ayat 1 menjelaskan bahwa, “setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan ringkat kecerdasannya sesuai minat dan bakatnya.”

Dari sini jelas bahwa dalam memberikan pendidikan pada anak, para orang tua tidak boleh mengabaikan minat anak. Setiap orang tua seharusnya tahu bahwa tidak semua anak berminat di bidang akademis seperti membaca, menulis dan berhitung. Bisa saja anak berminat dalam bidang seni, olah raga atau bidang lainnya.

Jadi ketika orang tua memasukkan anaknya ke PAUD ataupun Taman Kanak-kanak (TK) seharusnya para orang tua sadar bahwa setiap anak bisa menjadi yang terbaik dibidangnya masing-masing. Disamping itu para orang tua juga seharusnya sadar bahwa masa anak-anak merupakan masa-masa bermain. Sekolah PAUD maupun TK seharusnya bisa jadi pelaksana pendidikan yang mampu menciptakan lingkungan bermain yang aman dan nyaman dalam mendukung tumbuh kembang anak. 

Pelaksanan pendidikan bagi anak-anak harus menganut prinsip “Bermain sambil belajar dan Belajar sambil Bermain.” Untuk itu harus dipertimbangkan perlunya dikembangkan berbagai permainan yang bisa digunakan untuk belajar. Pada prinsipnya yang dimaksud permainan di sini adalah suatu alat bantu yang bisa memberikan pelajaran bagi anak dengan cara yang mengasyikkan dengan proses mengeksplorasi potensi diri daripada hasil akhir. Dengan demikian anak bisa belajar tanpa kehilangan masa kanak-kanaknya yang menyenangkan.

0 komentar:

Posting Komentar