Sabtu, 05 Maret 2016

Dongeng Bujang Katak

(Dongeng dari Sumatra Selatan)


Jika memohon dengan sepenuh hati kepada Tuhan, segala permohonan kita akan terkabul, asalkan dilandasi dengan keyakinan yang kuat. Seperti permohonan yang dilakukan seorang perempuan tua yang tinggal di sebuah bukit. Sudah lama perempuan tua itu tinggal seorang diri di sebuah dusun di kaki bukit. Sehari-hari dia bekerja di ladang.

Suatu ketika, muncul keinginan dalam dirinya untuk mempunyai seorang anak agar bisa membantunya bekerja di ladang. Jadi, dia pun berdoa pada Tuhan. ”Ya Tuhan, berilah hamba-Mu ini seorang anak agar dapat membantuku bekerja di ladang. Tubuhku semakin hari semakin lemah untuk bekerja seorang diri. Seperti apa pun pemberianmu akan hamba terima, wahai Tuhan. Jangankan dalam bentuk manusia. Dalam bentuk seekor katak pun akan hamba terima dengan senang hati.“

Tak berapa lama kemudian, wanita tua itu mulai merasakan ada yang aneh di dalam perutnya. Semakin hari perutnya semakin membesar layaknya perempuan hamil. Hingga akhirnya, dia merasakan sakit perut yang teramat sangat. Seluruh warga kampung pun datang menolong. Namun, mereka justru dikejutkan oleh sebuah keajaiban!

Perempuan tua itu melahirkan seekor katak sebesar bayi manusia! Wanita tua itu merasa sangat bahagia karena doanya telah dikabulkan Tuhan. Dibesarkannya bayi katak tersebut dengan penuh kasih sayang. Setelah dewasa, katak itu diberinya nama Bujang Katak. Sebagai balas budi, Bujang Katak selalu membantu ibunya bekerja di ladang.

Pada suatu hari, Bujang Katak mengajukan sebuah permintaan aneh pada ibunya. ”Bu, pinangkan Putri Raja untukku,” pinta Si Bujang Katak.

Tentu saja perempuan tua itu kaget dengan permintaan anaknya yang tidak masuk akal. “Apa ibu tidak salah dengar, Anakku? Mana mungkin Raja akan menerima pinangan seorang yang miskin seperti kita ini?” jawab ibunya sedih.

“Ayolah, Bu. Kita coba dulu,“ rayu Bujang Katak pada ibunya.

“Aku hanya tak mau nantinya kau sakit hati. Jangankan Raja, orang-orang saja banyak yang akan mencemoohmu,” jawab ibunya khawatir.

“Jangan khawatir pada diriku, Bu. Apa pun jawaban dari Sang Raja nanti, aku akan menerimanya dengan senang hati,“ kata Bujang Katak berusaha meyakinkan ibunya.

Karena rasa sayang yang besar pada anaknya, akhirnya perempuan tua itu pun mengajak Bujang Katak pergi menghadap Raja di keesokan hari. Hasilnya sudah bisa ditebak. Sang Raja beserta ketujuh orang Putrinya menolak lamaran Si Bujang Katak.

“Aku akui, kau adalah seorang yang pemberani karena berani melamar seorang Putri Raja, Bujang Katak. Tapi, tidakkah kau bercermin dahulu sebelum datang kemari?” kata Sang Raja pada Bujang Katak setengah mengejek.

Tanpa rasa sakit hati karena dirinya dicemooh, Bujang Katak menjawab, ”Ampun, Baginda Raja. Apakah salah kalau hamba yang hina ini ingin mempersunting salah satu dari ketujuh Putri Paduka?”

“Kalau begitu, aku harus menanyakan dulu perihal ini pada ketujuh Putriku.” Jawaban Sang Raja kali ini sebenarnya adalah sebuah penolakan secara halus atas permintaan Bujang Katak.

Seperti yang telah diduga oleh Sang Raja, ternyata keenam Putrinya menolak. Hanya Putri Bungsu yang mau menerima pinangan itu dengan ikhlas karena melihat ketulusan hati Bujang Katak. Kenyataan ini membuat Sang Raja marah. Dengan harapan pernikahan tersebut batal, Sang Raja pun mengajukan sebuah syarat yang tidak masuk akal kepada Bujang Katak.

”Baiklah, kalau memang itu kehendak Putri Bungsu. Tapi, kau harus berjalan melalui jembatan emas yang kau buat sendiri, dimulai dari rumahmu menuju istana ini. Kau kuberi waktu selama enam hari. Apakah kau sanggup?” tantang Sang Raja pada Bujang Katak.

“Baiklah, Baginda Raja. Hamba menyanggupinya,” jawab Bujang Katak. Hati Bujang Katak bahagia karena lamarannya telah diterima. Bujang Katak pun segera bertapa di atas bukit memohon pada Tuhan.

Pada hari keenam, tiba-tiba terdapat sebuah sinar terang yang menyelimuti tubuh Bujang Katak. Seketika itu juga seluruh kulit Bujang Katak meluruh ke tanah. Kini, wujud Bujang Katak telah berubah menjadi seorang laki-laki yang gagah perkasa. Kemudian, kulit katak yang meluruh di tanah semuanya berubah menjadi tumpukan batangan emas.

Bujang Katak pun menyusun batangan emas tersebut menjadi jembatan dalam waktu semalam. Keesokan harinya, istana digemparkan oleh adanya seorang pemuda gagah didampingi oleh ibunya yang sudah tua berjalan meniti jembatan emas. Putri Bungsu yang tidak mengira hal itu sebelumnya sangatlah bahagia.

Namun, tidak demikian halnya dengan kakak-kakaknya. Mereka iri melihat Putri Bungsu yang kini bersanding bahagia dengan Bujang Katak.

Pesan cerita:Melihat kesungguhan hati seseorang dan menerimanya dengan tulus membuat Putri Bungsu mendapat sesuatu yang indah pada akhirnya.

0 komentar:

Posting Komentar