Minggu, 06 Maret 2016

Dongeng Sang Piatu dan Sang Raja

(Dongeng dari Bengkulu) 


Di tepi sebuah sungai hiduplah seorang nenek tua dan seorang cucunya yang bernama Sang Piatu. Mereka hidup sangat sederhana. Nenek dan Sang Piatu tinggal di sebuah gubuk bambu yang reyot. Setiap hari mereka mencari makanan dan kayu bakar di dalam hutan. Mereka biasa mandi dan mencuci pakaian di sungai yang terletak tak jauh dari gubuk.

Di seberang sungai, terdapat perkampungan ramai yang dipimpin oleh Sang Raja. Karena di sekitar tempat tinggalnya tidak ada teman untuk diajak bermain, pada suatu hari Sang Piatu meminta izin pada neneknya. “Nek, aku ingin pergi ke kampung seberang. Aku lihat anak-anak di sana belajar mengaji pada Sang Raja setiap hari,” pinta Sang Piatu pada neneknya.

Namun, Sang Nenek merasa keberatan dengan permintaan cucu semata wayangnya itu. “Kita ini orang miskin, Piatu. Mana mungkin anak-anak di sana mau menerimamu dengan pakaian yang lusuh begitu?” kata Nenek.

“Sang Raja pastilah seorang yang bijaksana, Nek. Sepertinya dia akan mengizinkanku mengaji di sana,” kata Sang Piatu memohon.

“Bagaimana jika ternyata engkau ditolak menjadi murid Sang Raja? Nenek tak ingin kamu sakit hati,” jawab Nenek.

Sang Piatu yang sudah bertekad bulat untuk belajar mengaji terus berusaha meyakinkan neneknya. ”Jangan khawatirkan aku, Nek. Bukankah mengaji itu sebuah perbuatan baik dan kebaikan pasti selalu mengalahkan kejahatan? Jadi, jika ada orang yang menghalangiku untuk mengaji itu berarti dia adalah seorang yang jahat. Suatu saat, dia pasti akan bisa kukalahkan,” kata Sang Piatu mantap.

Lama-kelamaan hati nenek luluh juga. Akhirnya, dia mengizinkan cucu kesayangannya mengaji di kampung seberang. Dengan hati riang, Sang Piatu berangkat pergi ke surau di seberang sungai. Sesampainya di sana, terkejutlah Sang Piatu. Ternyata, benar perkataan neneknya. Sang Raja tidak mengizinkannya masuk ke surau.

“Maafkan aku, Sang Piatu. Bukannya aku tak mengizinkanmu untuk mengikuti pelajaran mengaji di sini. Tapi, dengan pakaianmu yang lusuh itu, anak-anak lain yang sedang mengaji pasti akan terganggu. Pulanglah dulu dan berpakaianlah yang bagus. Barulah kau akan kuterima mengaji di sini,“ kata Sang Raja menolak permintaan Sang Piatu dengan halus.

“Wahai Sang Raja, nenekku sangat miskin. Hanya baju inilah satu-satunya yang kumiliki. Dari mana aku bisa mendapatkan baju baru? Kalau Sang Raja tidak mengizinkan aku mengikuti pengajian di dalam surau, izinkan aku mengikutinya dari luar saja,” pinta Sang Piatu memohon sambil bersimpuh di hadapan Sang Raja.

“Baiklah, kalau itu maumu. Tapi, ingat! Jangan sampai engkau mengganggu murid-murid yang lain. Kalau sampai terjadi, aku tak akan segan-segan mengusirmu dari surauku,” jawab Sang Raja menegaskan.

Akhirnya, Sang Piatu diperbolehkan duduk di luar surau. Dengan sabar dan bersemangat Sang Piatu tetap mengikuti pelajaran mengaji dengan cara mengintip dari jendela. Hal ini dilakukan Sang Piatu setiap hari. Walaupun demikian, dia selalu mengatakan pada neneknya bahwa dia diterima dengan baik oleh Sang Raja.

Pada suatu hari, Sang Raja meminta semua muridnya membawa makanan untuk acara syukuran. Untuk memenuhi permintaan Sang Raja, keesokan harinya Sang Piatu ditemani nenek pergi ke hutan untuk mencari buah-buahan. Sesampainya di hutan, keduanya hanya menemukan sebuah nangka kecil yang sudah matang. Nangka tersebut pun dibawa pulang. Setelah dibelah, ternyata isinya hanya sepuluh biji nangka. Sang Piatu membawa semua nangka tersebut dan memberikannya pada Sang Raja.

“Hanya ini yang bisa saya berikan untuk Sang Raja, yaitu sepuluh biji nangka,” kata Sang Piatu dengan takzim.

Sang Raja menghitung biji-biji nangka pemberian Sang Piatu. ”Katamu biji nangka ini ada sepuluh, mengapa hanya ada sembilan?” tanya Sang Raja heran.

Sang Piatu pun ikut heran. Dia yakin sekali kalau nangka yang dimilikinya ada sepuluh. Dia merasa malu pada Sang Raja seolah-olah sudah berbohong. Hal ini tampak dari raut mukanya yang sedikit pucat dan kebingungan.

“Sudahlah, Piatu. Tak usah kau pikirkan lagi masalah itu. Sekarang mendekatlah padaku. Aku akan memberimu kajian,” hibur Sang Raja. ”Amalkan kata-kata ini dalam setiap doamu. Nangka sepuluh, hilang satu, tinggal sembilan,” kata Sang Raja.

Sang Piatu yang lugu dengan senang hati menerima kajian dari Sang Raja. Kata-kata itu terus diucapkan Sang Piatu selama perjalanannya pulang ke rumah. Mulutnya tampak komat-kamit hingga merasa kelelahan. Kemudian, Sang Piatu beristirahat sambil tiduran di atas batu di bawah pohon rindang. Kajian tersebut masih terus diucapkannya. “Nangka sepuluh, hilang satu, tinggal sembilan, jadilah batu ini menjadi emas,” begitulah mulut Sang Piatu berkomat-kamit dan tidak sengaja terucapkan kata-kata terakhir.

Tiba-tiba, dengan kuasa Tuhan, serta-merta batu tersebut berubah menjadi emas, walaupun si Piatu tidak sengaja terselip lidah! Sang Piatu terkejut dan bersyukur kepada-Nya atas anugerah ini. Kemudian, dia pergi menjual emas tersebut. Dia pun menjadi kaya. Beberapa hari kemudian, dia kembali ke desa menjemput neneknya untuk diajak tinggal bersamanya di kota.

Pesan cerita: Kesungguhan hati dan keyakinan dalam melakukan sesuatu dapat membuat apa yang diharapkan dan didoakan bisa tercapai.

0 komentar:

Posting Komentar