Minggu, 06 Maret 2016

Ketabahan Sang Jungking dan Burung Dedek

(Dongeng dari Bangka Belitung) 



Pada zaman dahulu, hiduplah seorang laki-laki pencari kayu bakar. Dia tinggal di sebuah gubuk bambu beratap rumbia bersama istri dan kedua anaknya yang masih kecil. Mereka adalah keluarga yang rajin bekerja. Sang suami bernama Sang Jungking. Istri dan kedua anak Sang Jungking semuanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Mereka hidup bersama saling mengasihi satu dengan lainnya.

Di suatu siang, setelah bekerja keras membelah kayu bakar di pinggir hutan, Sang Jungking beristirahat di bawah pohon besar. Tiupan angin sepoi-sepoi membuatnya mengantuk. Tiba-tiba, dia dikejutkan oleh suara cicit burung yang terdengar menyayat hati. Rupanya itu adalah suara seekor anak burung Dedek yang terjatuh dari pohon. Anak burung itu mencicit kesakitan karena kakinya terkilir.

“Oh, kasihan sekali kau, Dedek kecil. Tenang, ya? Aku akan mengobatimu hingga kakimu sembuh,” kata Sang Jungking iba sambil memungutnya dengan hati-hati.

“Cit... ciit... ciiit...,” sahut burung Dedek mengangguk seolah menandakan kalau ia setuju.

Sang Jungking segera membawa anak burung malang itu ke rumahnya dan membuatkannya sebuah sangkar kecil. Setiap hari seluruh anggota keluarga merawat anak burung itu dengan penuh kasih sayang. Semakin hari luka di kaki burung Dedek semakin membaik dan akhirnya, sembuh.

Suatu ketika, beberapa orang pencuri masuk ke halaman rumah Sang Jungking. Mereka mengambil seluruh ayam milik Sang Jungking dan membakar kandang ayamnya. Ketika itu, angin bertiup kencang. Sayangnya, rumah Sang Jungking berdekatan letaknya dengan kandang ayam yang terbakar itu. Alhasil, api yang melalap kandang ayam tertiup angin dan menjilat rumah Sang Jungking.

Akibatnya, rumah Sang Jungking yang beratapkan rumbia dengan cepat habis terbakar. Burung Dedek yang saat itu sudah sembuh segera terbang menyelamatkan diri. Untunglah, ketika itu Sang Jungking dan keluarganya sedang tidak ada di rumah.

Namun, ketika kembali pulang, mereka sangat berduka melihat semuanya habis terbakar. Saat mereka meratapi rumah yang hangus itu, tiba-tiba burung Dedek terbang menghampiri keluarga malang itu. Sang Jungking yang melihat burung itu tampak terhibur karena ia tidak tewas di dalam kebakaran.

Setelah terbang mendekati Sang Jungking, tiba-tiba burung itu terbang menjauh. Tanpa berpikir panjang, Sang Jungking segera mengejar burung itu. “Wahai, burung Dedek, kembalilah! Jangan kau tambah rasa duka kami lagi dengan kepergianmu,” panggil Sang Jungking sambil terus berlari mengejar.

Sesampainya di tengah hutan, tiba-tiba burung itu terbang merendah. Paruhnya digerak-gerakkan seakan seperti sedang menunjukkan sesuatu. Sang Jungking menoleh ke arah yang ditunjuk burung Dedek. Dia melihat sebuah rumah kecil di tepi sungai. Di sekitar rumah itu tumbuh berbagai jenis buah-buahan.

”Tuhan Maha Besar! Terima kasih atas pertolongan yang Kau berikan kepada kami,” puji syukur Sang Jungking pada Tuhan yang telah menolongnya.

Sang Jungking segera mengambil setandan pisang dan beberapa buah rambutan untuk makanan mereka sekeluarga, sementara anak dan istrinya mandi di sungai sepuasnya. Setelah itu, mereka bersama-sama membersihkan gubuk kecil tersebut.

Hari telah berganti bulan dan bulan pun telah berganti tahun. Tak terasa sudah cukup lama Sang Jungking tinggal di daerah yang subur tersebut. Sehari-hari dia bekerja bercocok tanam dan menjual hasil panennya ke pasar. Kini kehidupan mereka serba berkecukupan. Ini semua berkat burung Dedek yang tahu membalas budi.

Pada suatu hari, burung Dedek tersebut berbicara layaknya manusia pada Sang Jungking. ”Sang Jungking yang baik hati, kini umurku sudah tua. Aku tidak mau mati sia-sia. Sembelihlah aku, lalu belah tubuhku karena ada emas di dalamnya,” kata burung Dedek tiba-tiba.

Tentu saja Sang Jungking terkejut. Bukan saja karena burung tersebut bisa bicara, melainkan juga pada permintaan aneh burung Dedek. ”Mana mungkin aku tega menyembelihmu, Dedek yang baik. Kau sudah lama menjadi bagian dari keluarga kami. Lagi pula, kau sudah banyak membantu kami. Tidak, aku tidak mau menyembelihmu,” jawab Sang Jungking hati-hati.

Setiap hari burung Dedek tetap merayu Sang Jungking dengan permintaan yang sama. “Ayolah, Sang Jungking. Kau telah menyelamatkan nyawaku dan aku merasa belum cukup memberikan sesuatu sebagai tanda terima kasihku,” kata burung Dedek.

“Dedek, apa yang kau lakukan pada kami selama ini sudah lebih dari cukup. Jadi, kau tidak perlu memberikan sesuatu yang berlebihan padaku,” jawab Sang Jungking meyakinkan burung Dedek.

Namun, tetap saja burung Dedek memaksa Sang Jungking untuk enyembelihnya. ”Kalau begitu, anggaplah dengan menyembelihku, kau akan menolongku. Karena dengan begitu, aku tidak akan merasa mati sia-sia,” pinta burung Dedek lagi.

Pada hari ketujuh akhirnya Sang Jungking dengan berat hati melaksanakan permintaan si burung Dedek. Sang Jungking terkejut ketika membelah tubuh burung Dedek. Ternyata di dalam tubuh burung Dedek ditemukan beberapa buah kepingan emas. Benarlah perkataan si burung Dedek yang ingin tetap membalas budi kepada Sang Jungking hingga akhir hayatnya.

Pesan cerita: Tidak ada manusia yang selamanya sengsara. Suatu saat kesengsaraan itu akan berujung pada kebahagiaan. Kita tidak akan pernah tahu bagaimana kebaikan yang kita berikan tanpa pamrih dibalas oleh orang lain. Jadi, teruslah berbuat baik kepada setiap makhluk ciptaan Tuhan.

0 komentar:

Posting Komentar