Sabtu, 05 Maret 2016

Kisah Gadis Ranti

(Dongeng dari Sumatra Barat)



Sutan Andiko mempunyai dua anak. Anak sulungnya adalah seorang gadis yang cantik jelita bernama Gadis Ranti. Anak bungsunya adalah seorang pemuda tampan bernama Bujang Paman. Kedua kakak-beradik itu hidup rukun dan saling menyayangi.

Bujang Paman adalah adik yang bertanggung jawab dan selalu menjaga kakaknya. Ke mana saja mereka selalu pergi berdua. Kecantikan Gadis Ranti sangat terkenal hingga ke seluruh pelosok negeri. Banyak laki-laki yang jatuh hati padanya, termasuk Angku Garang.

Angku Garang adalah laki-laki setengah baya yang kaya-raya dan memiliki banyak istri. Suatu hari, Angku Garang mengirimkan utusan untuk melamar Gadis Ranti. Rombongan tersebut membawa beberapa hadiah sebagai tanda pinangan untuk anak gadis Sutan Andiko itu.

“Wahai, Sutan Andiko. Terimalah hadiah Tuanku Angku Garang sebagai lamaran atas putri Sutan Andiko, Gadis Ranti,” kata salah seorang dari utusan tersebut.

Sutan Andiko pun menjawab setelah berpikir cukup lama, “Maaf, beribu maaf utusan Angku Garang. Kami tidak bermaksud menolak hadiah ini atau bersikap kurang sopan. Akan tetapi, tidak pantas rasanya kami menerima hadiah dari seseorang yang belum kami kenal. Apalagi langsung menerima pinangannya.”

“Baiklah, Sutan Andiko. Kami pamit untuk pulang.” Utusan Angku Garang meninggalkan kediaman Sutan Andiko dengan membawa serta hadiah yang mereka bawa.

Ketika utusan tersebut tiba di rumah Angku Garang, mereka menceritakan apa yang terjadi. Betapa marahnya Angku Garang setelah mendengar penjelasan mereka.

“Kurang ajar Sutan Andiko! Apa dia belum kenal siapa Angku Garang? Berani-beraninya dia menghinaku seperti ini! Biar aku sendiri yang pergi ke sana untuk melamar Gadis Ranti!” Angku Garang berkata dengan murka.

Keesokan harinya, rombongan Angku Garang kembali ke rumah Sutan Andiko. Kali ini, rombongan itu dipimpin sendiri oleh Angku Garang.

 ”Berilah kami maaf jika kedatangan kami tidak berkenan di hati Sutan Andiko. Sekarang kami datang membawa serta Tuanku Angku Garang agar Tuanku Sutan Andiko bisa mengenalnya lebih dekat,” kata salah seorang utusan Angku Garang.

Sutan Andiko pun menemui Gadis Ranti untuk menanyakan kesediaannya menerima pinangan Angku Garang. “Putriku, bukan tanggung jawab Ayah untuk menjawab pinangan Angku Garang karena engkaulah yang akan menjalani pernikahan ini. Berilah jawaban yang sesuai dengan kata hatimu. Jika menyukai Angku Garang, kau boleh menerima pinangannya. Jika sebaliknya, kau jangan takut untuk menolak,” nasihat Sutan Andiko pada Gadis Ranti.

Tentu saja Gadis Ranti menolak lamaran tersebut. Saat bertemu Angku Garang, berkatalah Gadis Ranti, “Terima kasih atas semua perhatian Tuanku Angku Garang yang telah bersusah-payah jauh-jauh datang ke tempat ini hanya untuk meminang hamba. Akan tetapi, maafkan hamba yang menolak pinangan Tuanku karena hamba tidak mencintai Tuanku.”

Angku Garang sangat marah atas penolakan Gadis Ranti. Tidak terima atas penolakan itu, Angku Garang menyusun siasat jahat untuk membalas rasa malunya. Diperintahlah dua orang pengawalnya untuk mencuri pakaian Bujang Paman dan Gadis Ranti ketika keduanya sedang mandi di sungai. Setelah itu, dikaranglah sebuah cerita bohong tentang kakak beradik tersebut. ”

Sutan Andiko, Bujang Paman dan Gadis Ranti berbuat yang tidak senonoh di tepi hutan. Ini pakaian mereka sebagai buktinya. Saat ini, mereka sama-sama tidak berpakaian,” kata utusan Angku Garang yang menyamar datang menemui Sutan Andiko.

Mendengar hal tersebut, Sutan Andiko murka. Tak lama kemudian, benarlah kedua anaknya datang dengan hanya memakai kain basah. Tanpa berpikir panjang, diusirnya kedua anak tersebut dengan kasar. “Apa yang telah kalian lakukan? Membuat malu orang tua saja! Pergi kalian dari rumah ini! Jangan kembali lagi!” teriak Sutan Andiko kepada kedua anaknya.

Gadis Ranti dan Bujang Paman tidak mengerti mengapa ayahnya begitu marah. Gadis Ranti mencoba menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada Sang Ayah. ”Baju kami hilang di sungai ketika kami berdua sedang mandi, Ayah. Jangan usir kami Ayah dan Ibu. Ke mana lagi kami akan tinggal?” ujar Gadis Ranti memelas.

Namun, Sutan Andiko tetap pada pendiriannya. Dengan bercucuran air mata, Gadis Ranti dan Bujang Paman melangkah pergi meninggalkan rumah. Sebelum pergi, Gadis Ranti berpesan, ”Kalau memang Ayah marah pada kami maka kami berdua akan menerimanya. Tapi sampai kapan pun, kami tetaplah anak Ayah dan Ibu. Kalau nanti Ayah dan Ibu rindu pada kami, berilah makan ayam sebagai ganti kami. Jika masih ada ayam yang memakan makanan pemberian Ayah dan Ibu, itu berarti kami masih hidup. Jika tidak, berarti kami sudah mati.”

Ibu mereka sebenarnya tidak tega melihat kedua anaknya pergi meninggalkan rumah. Namun, dirinya juga tidak mampu berbuat apa-apa. Di kemudian hari, barulah diketahui bahwa semua yang terjadi adalah fitnah yang dibuat Angku Garang karena lamarannya ditolak. Sutan Andiko sangat menyesal.

Namun, semuanya sudah terlambat. Penyesalan itu tidak berguna. Kedua anaknya telah pergi. Sutan Andiko dan istrinya hanya bisa melepaskan rindu pada kedua anaknya dengan memberi makan ayam-ayam peliharaan mereka.

Pesan cerita:
Jangan terburu-buru menghakimi seseorang sebelum kita menanyakan kebenarannya dari orang yang bersangkutan. Siapa tahu itu hanyalah fitnah.

0 komentar:

Posting Komentar