Senin, 07 Maret 2016

Kisah Mambang Linau Dan Bujang enok

(Dongeng dari Riau) 


Di sebuah kampung yang bernama Petalangan, tinggallah seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pemuda itu bernama Bujang Enok. Kedua orang tuanya sudah meninggal dunia. Karena itu, Bujang Enok sudah terbiasa bekerja keras seorang diri. Pekerjaannya setiap hari adalah mencari kayu bakar untuk dijual ke pasar. Dari hasil menjual kayu bakar inilah Bujang Enok dapat membiayai hidupnya.

Suatu hari, ketika sedang beristirahat di hutan, tiba-tiba Bujang Enok dikejutkan oleh seekor ular raksasa yang telah berada di hadapannya. Ular itu bersiap untuk mematuk dirinya. Dengan sigap, diambilnya sebatang kayu besar dan secepat kilat dihantamkan ke kepala sang ular. Seketika itu juga ular besar tersebut mati. Entah dari mana asalnya, Bujang Enok mendengar suara riuh-rendah beberapa perempuan.

Salah satunya berkata, ”Sekarang kita sudah aman. Ular itu tidak akan mengganggu kita lagi.”

Bujang Enok tidak memedulikan suara itu. Dia kembali bekerja mencari kayu bakar hingga sore hari. Ketika matahari hampir terbenam, dia pulang ke rumah. Diletakkannya kayu-kayu bakar hasil kerjanya di belakang rumah. Kemudian, dia berniat untuk mandi agar tubuhnya lebih segar. Betapa terkejutnya Bujang Enok ketika memasuki rumah.

Rupanya di meja makan telah tersedia berbagai macam makanan lezat. Karena lapar, dia pun segera makan dengan lahap. Namun, hatinya tetap bertanya-tanya siapa yang telah menyiapkan semua makanan ini. Esok harinya Bujang Enok berangkat bekerja seperti biasa.

Namun, dia penasaran dengan siapa yang telah menyiapkan makanannya kemarin. Bujang Enok pun mendapat ide. Ketika sudah sampai di ujung jalan, dia kembali ke rumah dengan mengendap-endap. Dari kejauhan, terdengar suara gaduh dari dalam rumah.

“Ada siapa, ya?” gumamnya penasaran.

Diam-diam, Bujang Enok mengintip dari balik jendela samping. “Oh, Tuhan!” katanya dalam hati.

Betapa kagetnya Bujang Enok karena di sana terdapat tujuh gadis cantik berpakaian indah dengan selendang warna-warni. Kini Bujang Enok mengetahui siapa yang telah menyajikan makanan untuknya. Dia terus mengamati dan akhirnya mengikuti ketujuh gadis tersebut yang keluar dari rumahnya dan berjalan menuju sungai. Rupanya ketujuh gadis itu bercanda sambil bermain air di sungai.

"Sungguh elok gadis yang berselendang pelangi itu,” gumam Bujang Enok.

Bujang enok pun diam-diam mengambil selendang gadis itu dari tepi sungai ketika mereka sedang bermain air. Bujang Enok masih terus mengamati ketujuh gadis itu hingga mereka keluar dari sungai. Satu per satu gadis cantik itu mengenakan selendangnya dan bersiap-siap untuk terbang menuju kahyangan.

Namun, gadis pemilik selendang pelangi kebingungan karena tidak menemukan selendangnya. Teman-temannya yang lain pun meninggalkan dirinya. Tinggallah gadis itu seorang diri sambil menangis. Diam-diam, keluarlah Bujang Enok dari tempat persembunyiannya.

“Kau mencari selendangmu, wahai gadis cantik?” sapa Bujang Enok pada gadis itu.

Gadis yang telah mengenal Bujang Enok tersebut kaget dengan kemunculannya yang tiba-tiba. “Tuan tahu di mana selendangku? Tolong aku, Tuan. Aku harus kembali ke kahyangan menyusul saudaraku yang lain,” pinta gadis itu.

“Aku akan memberikan selendangmu asalkan kau mau menjadi istriku,” tawar Bujang Enok.

“Begini, Tuan. Kalau kau berikan selendang itu maka aku akan menyiapkan makanan untukmu setiap hari seperti yang kulakukan kemarin. Walau yang kemarin kami lakukan adalah ungkapan terima kasih karena kau telah membunuh ular yang suka mengganggu aku dan saudara-saudaraku yang lain,“ kata si gadis.

“Siapa namamu, wahai gadis cantik?” tanya Bujang Enok.

“Namaku Mambang Linau, Tuan,” jawab si gadis.

“Mambang Linau, maukah kau menjadi istriku, Bujang Enok, jika selendang ini kukembalikan?” sahut Bujang Enok setelah mendengar permohonan gadis itu terus-menerus.

Akhirnya, setelah tawar-menawar yang alot dan panjang, Mambang Linau bersedia menjadi istri Bujang Enok dengan syarat Bujang Enok tidak akan menyuruh Mambang Linau menari, walaupun dalam keadaan terpaksa. Bujang Enok setuju dengan syarat tersebut. Tak lama kemudian, pesta pernikahan mereka pun dilangsungkan.

Tahun-tahun telah berlalu. Oleh Raja, Bujang Enok diangkat menjadi Kepala Kampung di desanya. Suatu ketika, Raja mengundang semua pejabat istana dan Kepala Kampung untuk datang ke pesta. Dalam kemeriahan pesta, semua orang menari dengan pasangannya masing-masing. Setelah malam hampir larut, rupanya hanya Bujang Enok dan Mambang Linau yang belum menari.

Setelah didesak berkali-kali oleh Raja, akhirnya pasangan itu menari juga. Dengan selendang pelangi miliknya, Mambang Linau menari lemah gemulai hingga gerakannya memukau semua peserta pesta. Karena terbuai oleh alunan lagu, Mambang Linau semakin merasakan nikmatnya melakukan tarian itu.

Tanpa terasa, tubuhnya melayang semakin tinggi dan semakin tinggi. Mambang Linau akhirnya terbang kembali ke kahyangan. Kini, tinggallah Bujang Enok menyesali kenyataan itu karena telah melanggar janjinya pada Mambang Linau, demi kesetiaannya pada Raja.

Pesan cerita:Berhati-hatilah dalam membuat janji yang tidak kau yakin bisa menepatinya.

0 komentar:

Posting Komentar